Di Negara ini, Hujan Pun Ada Namanya dan Membuat Perkuliahan Libur

  •   
  •   

Suasana kota Madinah pasca hujan (SPA)

Suasana Pemakaman al-Baqi’, Madinah, pasca hujan (SPA)

Suasana kota Madinah pasca hujan (SPA)

Liputan Madinah – Langit gelap, terlihat hujan akan turun. Hal ini membuat mahasiswa di barat Arab Saudi memantau informasi melalui twitter. Sebagian akun resmi Twitter Universitas-universitas di kota Makkah, Jeddah dan Taif sudah mengumumkan pemberitahuan bahwa perkuliahan esok hari, Selasa, 3 Rabi’ul Awwal 1439 H/21 November 2017 diliburkan. Kementerian Pendidikan Arab Saudi Provinsi Makkah juga mengumumkan kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah seluruh Provinsi Makkah diliburkan.

Kementerian Pendidikan Arab Saudi Provinsi Madinah meliburkan kegiatan belajar mengajar di Wadi al-Fura’ dan Yanbu, yang kemudian akhirnya juga meliburkan kegiatan belajar mengajar di seluruh Provinsi Madinah.

Kementerian Pendidikan Arab Saudi Provinsi Tabuk juga  meliburkan kegiatan belajar mengajar di Dhuba, al-Wajh dan Umluj. Universitas-universitas yang diliburkan di tiga provinsi diatas yaitu Umm al-Qura University (Makkah), Taif University (Taif), King Abdulaziz University (Jeddah), Jeddah University (Jeddah), Taiba University (Madinah) dan Islamic University in Madinah (Madinah). Hujan turun di Madinah selama 5 jam sejak pukul 2 sampai dengan pukul 7 pagi.

Di negara Arab Saudi hujan memang jarang sekali turun, bahkan dalam setahun hujan dapat dihitung dengan jari. Hujan juga idientik dengan perpindahan musim, dari musim panas ke musim gugur, dari musim gugur ke musim dingin, atau dari musim dingin ke musim semi. Untuk tahun 2017 ini, hujan bisa dibilang terlambat datang, sehingga Raja Salman meminta kepada seluruh masyarakat di Arab Saudi menunaikan salat istisqa (salat minta hujan kepada Allah) di seluruh masjid di Arab Saudi, termasuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

 

Mengapa Sampai Diliburkan?

Kota-kota di Arab Saudi sebagian besar tidak memiliki drainese yang baik, sehingga jika hujan hendak turun mobil-mobil penyedot air milik Pertahanan Sipil (seperti BASARNAS di Indonesia) siap siaga untuk bertugas. Bahkan pernah di tahun 2016, Badan Umum Meteorologi dan Perlindungan Lingkungan Arab Saudi mengirimkan pesan singkat kepada masyarakat di wilayah yang turun hujan agar berhati-hati terhadap hujan dan menghimbau untuk tetap berada di rumah dan tidak beraktivitas di luar. Adapun liburnya perkuliahan merupakan kebijakan bagi pihak rektorat Universitas masing-masing.

Hujan yang turun Selasa kemarin (21/11) misalnya menyebabkan sejumlah terowongan di kota Jeddah terendam air, sehingga banyak jalan-jalan ditutup dan menimbulkan kemacetan. Namun setelah hujan reda, mobil penyedot air langsung bertugas sehingga keesokan harinya jalan-jalan dan aktivitas sudah berjalan dengan normal.

Hujan yang deras juga menyebabkan mahasiswa yang tinggal 100 km atau 200 km dari kota besar tidak bisa menuju ke Universitas yang berada di kota. Karena cuaca yang buruk, apabila tidak berhati-hati mobil bisa terbawa arus banjir. Selain itu, masih banyak kota-kota kecil di Arab Saudi yang terletak ratusan kilometer dari kota besar, harus mendatangkan guru-guru dari kota besar. Libur bagi pelajar dan mahasiswa untuk keselamatan mereka adalah hal yang terpenting bagi Pemerintah Arab Saudi.

 

Hujan Pun Ada Namanya

LATHAM atau Lajnah Tasmiyah al-Halat al-Manakhiyah al-Mumayyizah yang memiliki arti “Komite Penamaan Cuaca Tidak Biasa”, berdiri pada 10 Safar 1432 H/14 Januari 2011. Komite yang diketuai oleh Dr. Abdullah al-Misnid, Associate Professor bidang Geografi Qassim University ini beranggotakan Khalid al-‘Iwadh, Shalih ar-Rubai’an, Abdul Aziz al-Hushaini, Abdul Karim al-Yusuf, Ali Masyhur, Abdul Aziz al-Waili, Ali al-Sufri, Shalah az-Zu’aqi, Muhammad al-Ma’arik dan Manshur al-Mazru’i. Walaupun komite ini bukan komite resmi yang berada dibawah Pemerintah Arab Saudi, namun hasil penamaan dari komite ini juga digunakan oleh media-media besar di Arab Saudi.

Diantara cuaca tidak biasa yang diberikan nama oleh komite ini adalah hujan, badai pasir dan salju. Setidaknya sejak komite ini berdiri sudah 27 nama yang diberikan, terdiri dari 1 badai pasir pada tahun 2011, 1 badai pasir dan 3 hujan pada tahun 2012, 3 hujan pada tahun 2013, 2 hujan pada tahun 2014, 1 hujan salju, 1 badai pasir dan 3 hujan pada tahun 2015, 1 hujan salju dan 6 hujan pada tahun 2016, 1 badai pasir dan 3 hujan pada tahun 2017.

Hujan yang turun pada hari Senin-Kamis, 2-5 Rabi’ul Awwal 1439 H/19-22 November 2017 ini diberi nama Busyra yang memiliki arti kabar gembira. Busyra kali ini turun di utara, barat laut, barat, utara bagian tengah dan timur laut Arab Saudi. Semoga hujan kali ini memberikan keberkahan dan manfaat khususnya bagi para petani yang membutuhkan air untuk lahan pertaniannya.

 

Penulis: Imam Khairul Annas, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah

Editor: Altifani Rizky Hayyu

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *