Indra Gunawan: Mahasiswa Indonesia Lulus Cum Laude Magister Sejarah Islam di Universitas Al-Azhar Mesir

  •   
  •   

Kairo – Indra Gunawan mendapatkan hasil yudisium Cum Laude setelah menjalani sidang gelar magisternya dalam sejarah Islam yang berjudul ”Asālību al-Maghūl fi Bilādi al-Muslimīn 651-658 H / 1254-1260 M” atau  ”Strategi Beperang Bangsa Mongol di Negeri Muslim 651-658 H / 1254-1260 M” di auditorium Syekh Ibrahim Hamrusyi, Fakultas Bahasa Arab Putra, Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Sabtu (09/12/2017).

Indra Gunawan sedang menjalani sidang thesisnya

Dalam tesisnya Indra Gunawan  mencoba mengulas strategi dan metode yang digunakan Hulagu Khan dalam kampanye perangnya di negeri Islam dalam kurun 1254-1260. Dimulai dari karakteristik pasukan Mongol, baik dari komposisinya, anasirnya, logistik dan persenjataannya. Pada bab dua mengupas tentang sistem militer Mongol, baik dari pengaruh undang-undang  terhadap kebijakan militer, dinas intelijen, partisipasi perempuan Mongol dalam politik dan ketentaraan, dan tradisi juga etika Mongol berperang.

Selanjutnya pada bab tiga Indra mengupas strategi perang Mongol dalam pertempuran terbuka, pengepungan, perang psikologi dengan teror dan ancaman, serta perlakuan mereka kepada tawanan penguasa Muslim dan penduduk yang menyerah. Pada bab empat, ia membahas ragam diplomasi Hulagu Khan, dimulai dari aliansi dengan entitas Kristen, Syiah, dan beberapa penguasa Muslimin, tak lupa pula surat-menyurat dan negosiasi serta pembagian harta rampasan perang. Sedangkan pada bab lima yang juga bab terakhir, ia memaparkan perbandingan kakuatan militer antara Mongol dan Mamalik Mesir, baik dari jumlah pasukan, persenjataan, strategi, manuver dan taktik perang, hingga komando di masing-masing pihak.

Menurut tesis ini, pada tahun 1206, Temujin yang bergelar Jenghis Khan memproklamirkan Imperium Mongolia. Awalnya, dia hanya berseteru dengan kerajaan Jin China, lalu segera mengalihkan ekspansi ke negeri Barat atau dinasti Khawarizmi di Transoxania. Pemicu langsung ekspansi Mongol ini adalah tragedi Utrar. Kisahnya bermula saat rombongan dagang Mongol berjumlah 450 orang yang melintas di Utrar dirampok dan dibunuh oleh Gubernur Utrar, Yanal Khan, yang juga kemenakan Penguasa Khawarizmi, Sultan Alauddin.

Jenghis Khan segera membagi empat divisi melancarkan perang membumihanguskan dinasti Khawarizmi. Kota semacam Bukhara dan Samarkand hancur lebur dan jutaan kaum muslimin dibantai begitu keji. Sejarawan muslim yang hidup semasa itu bahkan tak sampai hati menuliskan keperihan ini.

Ekspansi di negeri muslim lantas dilanjutkan cucunya Hulagu Khan (1217-1265 M), atas titah kakaknya Mongke Khan yang menjabat Kaisar Mongolia, dia bersama laskar besarnya berangkat ke Barat. Di negeri Iran, Hulagu melenyapkan sekte Ismailiyah Hasyasyin di Qahastan pada 1256. Dari sana, Hulagu menuju selatan dan mengepung Baghdad dan berhasil meruntuhkan dinasti Abbasiyah tahun 1258. Selepas Baghdad menjadi kota mayat, Hulagu pindah ke Tabriz, Azerbaijan, dan membangun pangkalan militer demi persiapan menggempur Syam dan Mesir.

Dari Tabriz, Hulagu melanjutkan kampanye ekspansi ke Suriah dan Palestina. Kota Aleppo jatuh setelah pengepungan seminggu lalu disusul Damaskus yang lebih memilih menyerahkan diri. Ekspansi Mongol di bawah Hulagu baru terhenti setelah pasukan Muslimin di bawah Mamalik Mesir berhasil mengalahkan Mongol dalam pertempuran Ain Jalut 1260 yang sangat bersejarah.

Mamalik Mesir di bawah Sultan Saifuddin Qutuz dan Komandan Azh-Zhahir Baibars berhasil membunuh Kitbuqa Noyan, Panglima Mongol yang ditugaskan menggempur Mesir. Kekalahan Mongol di padang Ain Jalut, Palestina, tidak hanya mengembalikan Syam ke pangkuan kaum Muslimin, namun juga menghentikan laju ekspansi Mongol ke negeri Islam.

Pasukan Mongol di abad pertengahan diklaim sebagai tentara terkuat di masa itu. Namun sebenarnya pasukan Islam yang direpresentasikan Mamalik adalah yang terbaik. Beberapa tahun sebelum meletus Ain Jalut, pasukan Mamalik telah berhasil mengalahkan pasukan salib dari Perancis dalam Perang Salib ke-7 dan menawan rajanya Louis IX. Pasukan Mamalik pula yang berhasil menghentikan laju Mongol di Ain Jalut, sehingga patahlah mitos bahwa pasukan Mongol tidak terkalahkan.

Selama masa studinya, Indra Gunawan tergolong mahasiswa yang produktif dalam dunia karya tulis ilmiah, selain buku fiksi yang ia tulis, ia juga banyak menulis buku nonfiksi yang banyak tersebar di Bumi Nusantara. Di antara karya tulis fiksinya ia menulis, Kumcer Kidung Doa di Taman Kurma (al-Madani Press, 2003), Kumcer Epik Kado Untuk Mujahid (Fikri Publishing, Jakarta, 2005), Kumcer Apa Kabarmu di Alam Sana (LTNU Mesir, 2006), Novel Takdir Cinta, Sejarah Runtuhnya Baghdad 1258, (LPPH, Depok, 2008), Novel The Downfall of The Dynasty: Khianat di Tanah Baghdad, (Salamadani, Bandung, 2013), Novel Ain Jalut: Against The Myth of Hulagu, (Elex Media Gramedia, Jakarta, 2015).

Sedangkan bukunya yang Nonfiksi Indra menulis, Timur Tengah dalam Lintas Peradaban & Pasca Kemerdekaan (CIMAS-ICMI Orsat Kairo 2006)”, Laskar Syuhada (LPPH, Depok, 2008), Legenda 4 Umara (Elex Media Gramedia, Jakarta, 2015), Muhammad Sang Yatim, karya terjemah, (Cordoba, Bandung, 2016) dan Telah menerjemah sembilan film Indonesia ke bahasa Arab di bawah naungan PUSKIN Cairo.

Indra Gunawan bersama para dewan promotor.

Ujian magister Indra Gunawan ini melibatkan majelis sidang yang terdiri dari: Prof. Dr. Abdul Maqshud Abdul Hamid Basya (Pembimbing Utama), Guru Besar Sejarah & Kebudayaan Universitas Al-Azhar Kairo; Prof. Dr. Fathi As-Sayyid Eid Arafat (Pembimbing Pendamping), Guru Besar Sejarah & Kebudayaan Universitas Al-Azhar Kairo; Prof. Dr. Mahmud As-Sayyid Mahmud As-Syirbini (Penguji Dalam), Guru Besar Sejarah & Kebudayaan Universitas Al-Azhar Kairo; Prof. Dr. Samiyah Ali Muslihi (Penguji Luar), Guru Besar Sejarah & Kebudayaan, Fakultas Study Humaniora Putri Universitas Al-Azhar Kairo. Hadir dalam acara sidang ini jajaran civitas akademika Universitas Al-Azhar bahkan Rektor Prof. Dr. Muhammad Mahrashawy turut hadir mengapresisai sidang magister sejarah Islam putra bangsa Indonesia ini.

Civitas akademika Universitas Al-Azhar bersama Rektor, Prof. Dr. Muhammad Mahrashawy.

Reporter: Abdul Fatah Amrullah, Tim Medsos Kantor Komunikasi PPI Dunia, Pemimpin Umum Informatika ICMI  Kairo Periode 2017-2018.

Editor: Fajar R

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *