Mata Azhar, Mata dunia, Mata Najwa, dan Mata-Mata Hati yang Masih Tertutup

  •   
  •   

Besok, jika mereka masih saja usil, itu berarti ada sebuah perlombaan paradigma sadis yang kembali mereka persiapkan. Apa dan bagimana ujung parodinya? Mereka nampaknya terlihat mulai serius untuk mendatangkan kiamat sebelum kiamat. Akhir sebelum akhir.

Pada sebuah episode Mata Najwa dengan tema “Atas Nama Kemanusiaan”, secara cerdik dan cerdas Najwa Shihab mengajak dan menghipnotis mata batin seluruh hadirin yang hadir untuk meletakkan ego kemudian membuka mata selebar-lebarnya terhadap kekacauan dunia dengan menghadirkan aktifis-aktifis kemanusiaan dalam pembelaan hak-hak yang terjajah. Satu yang kita sadari, dunia sangatlah mengerikan, terlebih dengan fakta yang sekarang, mata kemanusiaan itu hampir tertutup. Entah tertutup karena suatu hal di luar kesadaran mereka, atau memang sengaja ditutup.

Ada mata-mata yang sedari dulu sudah meletakkan ketetapan prioritas dalam permasalahan ini. Dari mulai terciumnya gelagat Yahudi untuk memanipulasi wilayah Palestina, hingga kini pengakuan sepihak terhadap Yerussalem yang menunjukkan besarnya wibawa angkuh dan sombong yang dimiliki tetangga nan jauh di sana. Yang pasti dua-duanya menyakitkan hati, menusuk dalam hati umat Islam pada khususnya, menampar hati umat manusia pada umumnya.

Harus kita akui bahwa, kita sudah meletakkan peduli pada permasalahan ini. Al-Azhar contohnya, lembaga intuisi Islam terbesar di dunia ini secara keras dan tegas mengutuk segala aksi-aksi buruk apapun terhadap Palestina. Tak terhitung berapa kali Al-Azhar mengadakan konferensi internasional dan memberikan ultimatum-ultimatum kuat untuk menghentikan segala aksi brutal yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Baru-baru ini, tepat pada hari Rabu yang lalu (17/1/18), Al-Azhar kembali mengadakan konferensi internasional untuk menyuarakan kembali pembebasan Al-Quds (Yerussalem), yang mana konferensi ini menghadirkan 86 Negara Dunia, termasuk di dalamnya Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

“Langkah-langkah strategis dan konkret untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina perlu dilakukan secara serius dan berkesinambungan, baik dalam bentuk material maupun moral. Energi ‘kemarahan’ umat Islam harus bisa disalurkan ke arah yang positif, bukan sebaliknya dimanfaatkan untuk melakukan tindakan-tindakan yang justru akan mengganggu proses perdamaian dan mencoreng citra Islam dan umat Islam,” ujar Menteri Agama Luqman Hakim Syaifudin yang secara langsung menjadi perwakilan Indonesia dalam konferensi ini.

Kalau dilihat secara kasat mata, pernyataan di atas adalah pernyataan lumrah yang normal diucapkan dalam sebuah konferensi bertajuk perdamaian. Tapi tidak jika kita menyadari, bahwa pernyataan tersebut diungkapkan secara langsung oleh negara Muslim terbesar di dunia. Itulah kenapa secara khusus Al-Azhar memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk berbicara secara lantang. Ini adalah metodologi gertakan yang sama-sama sedang kita susun untuk melemahkan dan melunakkan permainan Yahudi dan Israel yang didukung penuh oleh Amerika Serikat.

Selain itu Indonesia memberikan usulan bagus, yakni ajakan untuk membuka lebih banyak mata agar semakin banyak yang memahami. Ini bukanlah sengketa agama saja, tapi ini adalah sengketa kemanusiaan yang sedang diadu oleh ideologi-ideologi iblis bengis. Oleh karenanya, Indonesia mengajukan gagasan berupa mengimplementasikan ideologi kepedulian terhadap Palestina dalam sistem pendidikan.  Dengan memasukkan ideologi kepeduliaan terhadap Palestina ke dalam sistem-sistem pendidikan ke seluruh dunia, diharapkan lebih banyak orang yang terbuka matanya untuk melihat dan menyikapi realita yang ada saat ini.

Mata PBB pun jelas terbuka lebar, sebagai organisasi induk dunia PBB tak pernah diam, pernyataan mereka pada tanggal 21 Desember 2017 yang lalu yakni desakan kepada Amerika Serikat untuk mencabut kembali pernyataannya tentu menjadi salah satu desakan kuat yang mempengaruhi, walaupun kita tahu, hampir separuh kekuatan PBB sendiri dikuasai oleh Amerika Serikat.

Kembali ke pada konferensi internasional yang digagas oleh Al-Azhar. Jika ada mata yang sedari dulu tidak pernah tertutup memperjuangkan kemerdekaan Palestina, dapat saya pastikan bahwa salah satu mata itu adalah mata Al-Azhar dan mata Indonesia. Al-Azhar menggagas acara ini, karena Al-Azhar menyadari dan masih mempercayai, bahwa komunitas internasional dan institusi-institusi Internasional yang berkeinginan untuk menyelesaikan permasalahan Palestina itu masih ada. Al-Azhar dengan konferensi ini kembali menegaskan akan perlunya mengembalikan kepercayaan terhadap pemimpin Islam dan meredam segala aktifitas terorisme yang mengatas namakan Islam. Sehingga tidak dapat dipungkiri,  kongres ini memiliki hasil yang sangat signifikan terhadap dunia Islam.

Satuhal yang kita sepakati, perdamaian dunia hanya akan terwujud jika Palestina kembali mendapatkan daulatnya, kemerdekaannya, dan martabatnya. Karena berbicara tentang Palestina, berarti berbicara tentang jiwa kemanusiaan yang diinjak-injak dan dibunuh secara sadis tanpa kompromi dan belas kasih. Selama hal di atas belum terwujud, kita sepakat, jiwa manusia kita sedang mati, hilang, atau sengaja bersembunyi, karena takut dan tidak berani.

 

Penulis: Muhammad Kamal Ihsan ( PPMI MESIR )

Editor : Fajar R

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *