Mengintip Pendidikan di Australia dalam Keberagaman

  •   
  •   

State Library Victoria, Melbourne, Australia

Perbandingan, adalah kata yang sering muncul bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri. Mulai dari membandingkan aspek sosial, budaya, politik, pertumbuhan ekonomi, sampai membandingkan harga sepiring makanan dan sebotol air mineral. Mulai dari perbandingan secara informal dalam percakapan sehari-hari, sampai dengan perbandingan secara formal untuk paper kuliah dengan puluhan referensi peer reviewed journal article. Terlepas dari apa bentuk perbandingannya, yang terpenting adalah perbandingan tersebut bisa dikerucutkan menjadi menjadi hal yang lebih bermanfaat. Contohnya, menjadi sebuah rekomendasi, menjadi sebuah fondasi gerakan perubahan di negeri sendiri, ataupun berbagi ide dan pemikiran melalui cara-cara sederhana.

Menjalani tahun kedua menempuh studi Master of Education (in digital learning) di Monash University, Australia, saya pun mengalami hal sama. Perbandingan adalah jadi sebuah kata yang sering muncul dalam kehidupan akademik maupun sehari-hari, formal maupun informal. Khususnya di bidang pendidikan. Selama tahun pertama menjalani pendidikan di sini, saya berkesempatan menjadi salah satu sukarelawan di beberapa sekolah untuk menjadi tutor homework club.  Ide mengenai homework club adalah sebuah ide yang menarik. Mungkin saya akan sangat senang jika dulu waktu masih bersekolah, ada orang yang dengan senang hati datang ke sekolah untuk membimbing siswa-siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah dengan gratis. Selain itu, ketertarikan saya untuk menjadi sukarelawan di sekolah lokal tak terlepas dari keingintahuan saya, seperti apa kondisi nyata persekolahan di sini.

Menjadi sukarelawan yang berinteraksi dengan anak-anak ternyata membutuhkan izin khusus. Prosedur working with children check yang disyaratkan oleh pemerintah setempat harus dijalani sebagai bukti bahwa tidak pernah terlibat dalam kasus kriminal yang berhubungan dengan anak. Bahwa kita adalah individu yang aman dan layak untuk berinteraksi dengan anak. Program homework club terbuka untuk siswa-siswa yang tertarik, tetapi ternyata didesain khusus diperuntukkan untuk siswa dengan latar belakang yang kurang beruntung (disadvantaged background). Tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial-budaya. Contohnya, siswa-siswa dari keluarga pengungsi yang datang ke Australia dengan keterbatasan bahasa, perbedaan budaya serta sistem pendidikan. Sebuah tantangan bagi mereka untuk bisa belajar dan memahami konsep dalam bahasa yang mereka tidak terlalu kuasai. Tidak jarang saya menemui siswa yang pada dasarnya pandai, akan tetapi mereka hanya butuh dibantu untuk memahami kalimat instruksi dari tugas yang diberikan ataupun kalimat sederhana dalam buku.

Suasana kehidupan masyarakat Australia (Flinders Street, Melbourne)

Menjadi sukarelawan dalam waktu beberapa bulan, sedikit banyak ada beberapa hal menarik dari lingkungan pendidikan di sekolah menengah yang saya saksikan. Saya tidak akan membicarakan perbandingan peringkat PISA negara-negara OECD atau masuk ke dalam perbandingan konsep kurikulum. Akan tetapi realitas sehari-hari siswa sebagai individu yang menjalani proses pendidikan. Hal yang menarik tersebut saya temui, pertama, dari sisi kepekaan multikultural. Seperti Indonesia, ternyata Australia memiliki perbedaan budaya yang cukup besar. Dari hasil sensus penduduk di Australia pada tahun 2016, hampir setengah dari penduduk Australia (49%) tidak dilahirkan di Australia atau setidaknya salah satu dari orang tuanya tidak dilahirkan di Australia. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ragam budaya yang berbeda sangat besar dan tentunya rawan potensi intoleransi. Akan tetapi, yang menarik adalah, dalam praktik kehidupan sehari-hari, siswa-siswa tersebut sudah memiliki pemahaman multikultural dan kepekaan terhadap keberagaman. Contohnya, ketika saya menanyakan restoran terdekat, saya tidak langsung mendapatkan jawaban, akan tetapi sebuah pertanyaan, “apakah kamu punya pantangan makanan tertentu? seperti harus makanan halal, atau tidak makan daging”. Dalam benak saya, bagaimana sistem yang mendidik mereka sehingga memiliki kepekaan perbedaan budaya yang cukup tinggi.

Hal kedua yang menarik yang saya temukan adalah siswa diminta dan diarahkan untuk bisa memahami setiap pelajaran dengan lebih mendalam dan tidak sungkan untuk mengkritisi, tidak belajar untuk menghafal. Siswa tidak dididik untuk sekedar menerima pelajaran, akan tetapi bersama-sama mengkaji pelajaran tersebut, baik individu maupun kelompok, dengan berbagai pendekatan. Seperti penugasan berbasis projek penelitian sederhana. Saya yakin, bahwa di Indonesia di beberapa daerah juga sudah melakukan hal yang serupa, sesuai dengan tuntunan pada Kurikulum 2013 yang saat ini berlaku. Akan tetapi, seperti apa praktik yang sesungguhnya?

Hal yang ketiga, pemberdayaan sekolah sebagai satu organisasi yang bertujuan sebagai tempat siswa bertumbuh. Contohnya, Bimbingan Konseling (BK) di sekolah didesain sebagai tempat berkonsultasi bagi siswa ataupun guru yang memiliki kendala dalam lingkungan sekolah.  BK tidak diposisikan sebagai badan yang mengamankan siswa yang melanggar peraturan. Akan tetapi, BK diposisikan sebagai tempat yang bertanggung jawab untuk membuat siswa menjadi nyaman untuk bertumbuh baik dari sisi akademik, fisik, emosional, sosial dan spiritual (student wellbeing). Siswa juga merupakan individu yang rentan permasalahan, seperti keluarga, identifikasi kesulitan kognitif, ataupun interaksi sosial. Karena siswa yang bermasalah, bukan hanya siswa ‘nakal’, akan tetapi siswa yang memiliki ambisi yang tinggi juga memiliki permasalahannya sendiri. Seperti rasa khawatir yang berlebihan jika tidak bisa menjadi yang terbaik yang juga berpengaruh pada banyak hal. Konsep penerapan BK seperti ini mungkin sudah bukan hal asing di Indonesia, akan tetapi bagaimana dalam penerapan yang nyata?

Pengamatan informal selama saya menjadi sukarelawan di sekolah-sekolah ataupun dari sumber-sumber bacaan perkuliahan di Australia memberikan pengalaman yang membuka mata. Ditambah lagi, saya juga merasa antusias ketika mengetahui bahwa Australia menjadi salah satu negara (bersama dengan empat negara lain: Jepang, Singapura, Tiongkok, dan Malaysia) yang akan menjadi tuan rumah program Bantu Guru Melihat Dunia yang diinisiasi oleh PPI Dunia di tahun 2018 ini. Guru-guru yang terpilih akan mendapatkan pengalaman luar biasa dengan melakukan perbandingan antara praktik di sekolah sendiri dan di sini yang memiliki sistem yang berbeda. Pengalaman yang akan didapat oleh guru-guru yang diberangkatkan tentu akan jauh lebih besar dari pada pengamatan informal yang saya miliki, karena program BGMD sudah didesain untuk menyasar aspek spesifik pada praktik di sekolah. Besar harapan bahwa guru-guru yang berangkat akan menjadi penggerak di ekosistem pendidikan di daerah masing-masing untuk melakukan peningkatan kualitas. Semoga program perbandingan yang akan dilakukan oleh guru-guru kita nanti bisa menjadi inisiatif untuk memperkuat pengembangan beberapa lini dan aspek pendidikan di tanah air.

 

Penulis: Dona Niagara, Tim BGMD PPI Dunia (PPI Australia)

Editor: Nadhirariani

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *