Wagah Border dan Atmosfer Patriotisme

  •   
  •   

Jika sering membaca CNN International South Asia, maka berita tentang dinamika hubungan bilateral antara Pakistan dan India diwarnai dengan berbagai konflik dan perang sangat sering menjadi headline news. Perebutan Lembah Kashmir adalah salah satu pemicu adanya perang antara dua negara ini. Walaupun seperti yang kita ketahui, asal muasal negara ini terpecah belah disebabkan adanya pemisahan wilayah antara India yang terdiri dari sekelompok sekuler dan juga menganut agama Hindu dengan Muslim Pakistan pada bulan Agustus 1947.

Satu bulan lalu, saya berkesempatan menyaksikan langsung persaingan yang memperlihatkan sisi nyata dengan adanya praktik militer upacara penurunan bendera oleh masing-masing negara atau dikenal dengan istilah beating retreat. Sore itu, kami beriringan jalan menuju gerbang perbatasan bersama turis lokal dan turis asing. Ada satu perasaan bangga kala itu, berada tepat di perbatasan dua negara yang cukup menjadi simbol rivalitas. Upacara ini terbilang unik, karena letaknya di perbatasan Pakistan dan India. 50KM dari kota Lahore (Pakistan) dan 28 KM dari kota Amritsar (India).

Suara gemuruh tagline dari sisi barat dan timur semakin lantang terdengar. Tentu tanpa suruhan siapapun, saya ikut bersorak bersama Pakistani (orang Pakistan) dan sesekali menangkap foto dan video untuk moment langkah ini. Bersahut-sahutan dari kedua sisi perbatasan membuat siapapun yang mendengar akan merasakan jiwa nasionalis mengalir deras. Pakistan bersorak “Pakistan, Zindabad “ dari tribun yang posisinya berlawanan dengan India yang bersorak “Jai Hind”.
Tak lupa hentakan sepatu yang seolah-olah memahami ritmenya dan gerakan tentara professional yang memakai baju dinas dari masing-masing negara. Pakistan Rangers memakai baju dinas hitam, dan coklat kekuningan pakaian pasukan keamanan Border Security Forces India. Kaki dan tangan yang terayun sinkron membuat mata saya tidak bisa berpaling dan tetap mengabadikan moment harian di Wagah Border ini.

Sebelum penurunan bendera secara resmi dimulai, akan ada hiburan atau atraksi dari Pakistan dan India untuk membakar semangat para turis lokal dan turis asing yang dipandu oleh tentara berperawakan tinggi menjulang. Sambil meneriakkan yel-yel dari dua sisi. Lalu mereka membuka gerbang perbatasan yang secara resmi menjadi jalur darat untuk masing-masing negara berlalu-lalang. Para tentara memasang wajah seperti memperlihatkan kemarahan dan ambisi dari dua negara yang telah melaksanakan upacara ini dari tahun 1959, lalu bertatap muka dan berjabat tangan. Berjabat tangan-pun harus memperlihatkan urat-urat di wajah.

Tiba di penurunan bendera suasana hening, hikmat dan seakan ada aba-aba dari langit. Setelah rapi terlipat dan disimpan di markas masing-masing, mereka pun berjabat tangan diikuti penutupan gerbang dan suara trompet yang menandakan berakhirnya ceremony ini. Acara yang setiap hari digelar ini, menyisakan banyak keunikan termasuk para tentara yang berjalan mengangkat kaki mereka setinggi kepala bahkan melebihi. Suasana sunset dan gemuruh berfoto bersama Pakistan Rangers menutup kepulangan para turis lokal dan turis asing meninggalkan perbatasan ini.

Output yang bisa saya bawa pulang dari ritual ini adalah bagaimana belajar sejarah panjang dari dua negara. Bukti jiwa patriotisme juga menyelimuti perasaan siapapun yang melihat ritual ini secara langsung. Awalnya saya bertanya, apakah beating retreat mampu menjadi rekonsiliasi dua negara dan apakah mereka akan mempererat hubungan kedua negara dengan adanya acara harian ini, bahkan para tentara penjaga perbatasan? Ternyata tidak! Acara ini hanya sebuah pertunjukkan drama politik yang menandakan bahwa dua negara yang sedang penuh emosional ini tetap berlangsung sampai sekarang. Secara tidak langsung pelajaran yang bisa kita petik adalah seremoni ini harusnya menjadi gambaran bahwa kerukunan lebih indah dari pada pertikaian yang tidak selesai-selesai. Permusuhan lebih tepatnya ada di kalangan politikus bukan kebanyakan dari masyarakatnya. Jadi teringat hari pertama di Pakistan Islamabad, kami dihimbau agar tidak banyak berbicara mengenai India. Iya, mereka sensitif.

Penulis: Afifah Dinar, PPI Malaysia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *