RRI VOI: Hari Penerbangan Nasional

  •   
  •   

Sembilan April, adalah salah satu hari istimewa bagi Indonesia, terutama di bidang dirgantara. Hari ini diperingati sebagai Hari Penerbangan Nasional setelah sebelumnya, tanggal ini (9 April 1961) diperingati sebagai hari ulang tahu Angkatan Udara Republik Indonesia/HUT AURI. Tapi seiring berkembangnya waktu, pada akhirnya tanggal 9 April ditetapkan sebagai HAPENAS.

Nah, kali ini RRI Voice of Indonesia (VOI) telah menyiapkan topik Hari Penerbangan Nasional demi menyemarakkan peringatannya. Bersama narasumber rubrik Kami Yang Muda milik RRI VOI, Aufa Amirullah, yang saat ini tengah belajar di negeri Paman Sam dan tergabung sebagai anggota PERMIAS. Aufa mengawali dengan apresiasi bahwa perkembangan dunia dirgantara Indonesia sendiri semakin tahun semakin baik.

“Indonesia pernah mengalami masa emas kedirgantaraan, yaitu pada era Presiden B. J. Habibie. Walau setelahnya sempat mengalami penurunan geliat, namun di tahun-tahun ini kedirgantaraan tanah air kembali bangkit,” ujar Aufa.

Terbukti pada bulan Januari lalu PT. Dirgantara Indonesia telah menyelesaikan pembuatan pesawat untuk TNI. Selain itu dikabarkan bahwa kini Indonesia sedang berusaha menjalin kerjasama dengan Korea, masih dalam bidang yang sama. Meski informasi ini masih dalam tahap penggodokan dan belum ada keputusan secara tertulis, setidaknya geliatnya mulai nyata.

Menurut Aufa Amirullah, yang menjadikan kendala di industri penerbangan Indonesia adalah kurangnya dukungan dari pemerintah dan sumber daya manusia yang memadai. Banyaknya fenomena mainstream mahasiswa di Indonesia, ketika lulus dari perkuliahan justru menggeluti pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidangnya. Belum lagi kurangnya sarana pendidikan di bidang dirgantara juga menjadikan faktor terhambatnya perkembangan di industri penerbangan Indonesia.

Masih berkaitan dengan dunia penerbangan, Aufa Amirullah juga turut angkat bicara ketika ditanya tentang permasalahan sederhana tapi penting: seringnya delay yang kini kerap terjadi di Indonesia. Menurutnya, ” hal itu juga disebabkan karena kurang memadainya ukuran bandara di Indonesia, pun standar dan kedisipilinan dari masing-masing maskapai penerbangan. Jadi banyak faktor ya!”

Akan tetapi untuk katogori peringkat “Keselamatan Penerbangan” di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan statistik progresif, dari peringkat Internasional 151 menjadi peringkat ke-55. Hal itu terbukti dengan semakin berkurangnya peristiwa kecelakaan pesawat di Indonesia dari tahun ke tahun. Meski jika ditinjau lebih jauh, apa yang dimanfaatkan untuk security system masih belum menggunakan sepenuhnya teknologi terbaru, akan tetapi secara kualitas keselamatan penerbangan menunjukan stabilitas dan keamanan yang cukup baik bagi para penumpang.

Untuk berkontribusi dalam dunia dirgantara, terutama untuk mahasiswa yang sedang menekuni dunia penerbangan, adalah dengan mendukung proyek kedirgataraan Indonesia apapun bentuknya. Selain itu bergabung di PT. Dirgantara Indonesia juga bisa menjadi opsi yang tak bisa dipandang sebelah mata. Bagi masyarakat umum sendiri, dengan memberikan dukungan moral. Salah satunya dengan cara tidak merendahkah dan menyebarkan pesimistis pada kedirgantaraan di Indonesia, PT. Dirgantara Indonesia, dan elemen-elemen kedirgantaraan lainnya. Jika bisa lebih optimis untuk kejayaan Indonesia di dunia penerbangan, mengapa harus ragu untuk mendukung?

“Nantinya Indonesia harus mampu bersaing, minimal dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Bisa lebih aware untuk menjamah teknologi-teknologi yang lebih canggih dan mulai berpikir luas untuk bisa menembus bahkan menjadi penguasa luar angkasa: membuat satelit dan roket sendiri contohnya. Ya, mimpi kita seharusnya bukan sebatas di udara saja tapi di luar angkasa juga.” tukasnya.

 

Dirangkum oleh Tim Penyiaran Radio, Kantor Komunikasi PPI Dunia
Penulis: Mega Lestari Abadi – PPI Turki
Editor: Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha – PPI Taiwan

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *