Generasi Emas Indonesia

  •   
  •   

Sumber: paud.kemdikbud.go.id

Akhir-akhir ini kita banyak membaca atau mendengar mengenai Indonesia yang akan menerima bonus demografi pada tahun 2020-2030. Bonus demografi berarti jumlah warga negara Indonesia yang berusia produktif, yakni 15-64 tahun akan mencapai angka 70 persen. Berbagai pakar telah menjelaskan bahwa pada masa-masa keemasan itu kesempatan Indonesia melakukan percepatan dalam berbagai sektor akan sangat besar terutama pada sektor ekonomi. Bermacam-macam persiapan dalam menyambut bonus demografi juga telah banyak dilakukan, termasuk mempersiapkan generasi yang diharapkan akan mampu memikul tantangan kemajuan pada masa itu.

Jika kita tengok lagi negeri kita, sudah bukan rahasia lagi bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya raya, di dalam tanah, di atas tanah, di dalam lautan, segalanya bisa jadi uang. Maka tentu menjadi pertanyaan besar jika rakyat Indonesia belum menjadi yang terdepan dalam ekonomi. Salah satu faktor yang paling mungkin adalah belum hadirnya sumber daya manusia yang mumpuni untuk mengelola harta kekayaan Indonesia secara tepat. Tetapi, generasi seperti apa sebenarnya yang kita cita-citakan untuk mengemban amanah tersebut? Tentu saja generasi yang berpendidikan dan salah satu usaha pemerintah dalam menyiapkan generasi yang terdidik adalah dengan mengalokasikan dana beasiswa bagi para pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi baik di dalam maupun di luar negeri tanpa harus terbebani oleh biaya. Tetapi, benarkah menyiapkan generasi intelektual dengan mencetak lulusan sarjana, master, atau bahkan doktor akan memastikan bahwa negeri ini akan dipegang oleh tangan-tangan yang tepat? Setidaknya, ada tiga jenis kecerdasan yang seharusnya dipersiapkan tertanam dalam diri anak bangsa, yaitu kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Kecerdasan intelektual (IQ) adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup kemampuan seseorang untuk menalar, merencanakan, memecahkan masalah, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan ini adalah jenis kemampuan yang paling standar digunakan dalam dunia akademik karena paling mudah diukur. Misalnya, pintar atau tidaknya seorang siswa diukur pada kemampuannya memahami dan menyelesaikan sebuah masalah yang gagasannya telah dijelaskan sebelumnya oleh gurunya. Jika berhasil menyelesaikannya dengan sempurna, maka nilainya 100 dan siswa tersebut dapat dikatakan cerdas secara intelektual. Seperti itulah kira-kira negara hadir dalam dunia pendidikan hari ini, dari sejak di bangku SD siswa dituntut untuk memenuhi standar yang ditentukan oleh pemerintah, hingga ke bangku kuliah masih berkutat kembali dengan IPK. Jika Anda adalah seorang sarjana, master, atau doktor dalam suatu bidang keilmuan, maka Anda akan disebut sebagai kaum intelektual dan tentu tidak ada yang salah dari terus menerus mengasah kemampuan intelektual sejak dini hingga dewasa, tetapi apakah cukup dengan mencetak generasi yang cerdas secara intelektual untuk menghasilkan generasi emas Indonesia?

Ada lagi yang kita kenal dengan kecerdasan emosional (EQ). Kecerdasan ini adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Kecerdasan ini juga tidak kalah pentingnya dari kecerdasan intelektual, bahkan beberapa pakar mengatakan bahwa mereka yang cerdas secara emosi lebih mudah meraih kesuksesan, daripada mereka yang sekedar intelek tetapi sulit memahami perasaan atau keinginan orang lain. Bila kita melihat perilaku pelajar SMA yang melakukan tawuran atau kasus pelajar SMA yang menganiaya gurunya hingga tewas maka bisa dikatakan bahwa dunia pendidikan belum hadir secara serius untuk ikut mengembangkan kecerdasan emosional siswa khususnya dalam hal pengendalian diri. Tentu saja ini bukan hanya PR negara untuk membentuk suatu sistem pendidikan yang tepat, tetapi setiap orang yang berinteraksi dengan calon penerus bangsa juga hendaknya mampu menjadi panutan yang teladan secara emosional, baik itu guru di sekolah, orang tua di rumah, dan seluruh masyarakat dalam lingkungan sehari-hari.

Tidak ketinggalan pula kecerdasan spiritual (SQ), kemampuan untuk membedakan baik atau buruk, benar atau salah, menentukan tujuan hidup dan memahami hakikat penciptaan. Sebagai negara yang memiliki dasar bernegara Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, maka kita dituntut untuk menjadi bangsa yang secara moral seharusnya mampu menjadi contoh bagi bangsa lain. Sudah tentu produk negeri yang relijius akan berbeda dengan produk negeri yang tidak mengandalkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan mereka sehari-hari. Tetapi, sudah relijiuskah bangsa kita? Jika kerelijiusan itu diniliai dari berbagai ritual ibadah yang diperintahkan oleh agama, maka mungkin kita sudah cukup relijius. Tetapi apakah kerelijiusan atau nilai-nilai spiritual itu sudah keluar dalam wujud perkataan dan perilaku kita sebagai bangsa? Tingginya angka korupsi, anak muda Indonesia yang saat ini darurat narkoba, pertengkaran seputar SARA, atau terbenturnya nilai-nilai demokrasi dan agama, adalah bukti bahwa bangsa kita belum benar-benar mencerminkan negeri yang relijius. Maka negara pun harus hadir memberikan ruang agar nilai-nilai spiritual itu benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Telah diberkahi sebagai negara yang berketuhanan, seharusnya itu menjadi nilai tambah yang tidak disia-siakan, Indonesia bisa lebih maju, tidak hanya dalam ekonomi karena pada dasarnya kita memang sudah kaya, tetapi peradaban manusianya pun mampu menjadi yang terdepan.

Sudah benar bahwa pendidikan adalah kunci maka menyatukan definisi mengenai apa itu pendidikan dan bagaimana seharusnya produk manusia yang terdidik itu dicetak tentu menjadi penting agar setiap misi yang dikerjakan berjalan bersama ke arah visi yang sudah disepakati. Sudah semestinya negara hadir melalui pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa tidak hanya secara intelektual, tetapi juga emosional, dan spiritual. Menyambut bonus demografi dan 100 tahun Indonesia Merdeka pada tahun 2045, maka pemerintah sebagai pengelola negara dan seluruh generasi bangsa seharusnya bisa secara nyata mulai bahu-membahu untuk menghasilkan generasi emas Indonesia dalam hal ini generasi terdidik yang cerdas secara intelektual, matang secara emosi, dan terpenuhi secara spiritual. Ketika ketiga kecerdasan itu mampu bersinergi dalam setiap pikiran, hati dan perilaku anak bangsa, maka masa depan Indonesia sebagai negara yang megah dan bermartabat tentu bukan lagi sekedar angan-angan.

 

Ditulis oleh:

Andi Astri Annisa

S1 Western Medicine Chongqing Medical University

Tim Media Sosial PPI Dunia

Editor: Altifani Rizky Hayyu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *