Keuntungan Berkuliah di Luar Negeri

  •   
  •   

‘Apa saja keunggulan kuliah di luar negeri?’

Ini adalah pertanyaan  yang paling sering muncul ketika menanggapi keputusan pelajar yang menuntut ilmu di luar negeri. Jawabannya bisa karena keinginan untuk menguasai bahasa asing, atau kualitas kampus yang lebih baik di luar negeri. Tetapi apakah jawaban yang disampaikan masih relevan dengan keadaan jaman sekarang. Tulisan ini bertujuan untuk mengupas kualitas yang  didapat ketika menuntut ilmu di luar negeri khususnya di Turki. Menurut data PPI Turki tahun 2017, jumlah pelajar Indonesia di Turki mengalami peningkatan. Terdapat 910 pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan setelah SMA.

Banyak pelajar Indonesia di luar negeri yang kemudian menjadi tokoh nasional seperti: B.J. Habibie (Jerman, 1974), Sri Mulyani (Amerika Serikat, 1992), dan Habiburrahman El Shirazy (Mesir, 2001). Dibalik berbagai kisah sukses mereka, ada berbagai faktor yang mengasah kemampuan pelajar luar negeri yang kemudian diakui oleh lapangan perkerjaan dan juga masyarakat. Mempunyai mimpi untuk sukses merupakan motivasi yang meghidupkan semangat untuk terus berjuang semasa belajar di luar negeri, namun ada beberapa kenyataan yang perlu dicermati mengenai pelajar luar negeri karena perkembangan zaman yang telah berubah drastic dibandingkan saat ini berbeda dengan apa yang tokoh-tokoh tersebut lalui. Penulis mencoba membandingkan kondisi di luar negeri dan membaginya ke dalam dua periode yaitu dulu dan sekarang. Batasan dua periode tersebut diambil pada tahun 2005 ketika YouTube dan berbagai media sosial muncul dan mengubah cara manusia berinteraksi.

  1. Tujuan Negara spesialis ilmu tertentu.

Sebelum tahun 2005, negara tujuan pelajar Indonesia terbatas pada AS, Jerman, Jepang dan Mesir yang notabene adalah pelopor di berbagai bidang yang mereka unggul Sehingga ketika pelajar Indonesia lulus, baik lapangan perkerjaan maupun masyarakat telah paham dengan kualitas Negara dan kampus tempat para lulusan ini menempuh pendidikan. Namun saat ini negara tujuan belajar semakin beraneka ragam seperti: Turki, Polandia, Malaysia, China. Dengan kondisi ini, baik masyarakat maupun lapangan pekerjaan mau tidak mau perlu menyesuaikan diri untuk perlahan mengakui bahwa lulusan dari Negara-negara baru ini tidak kalah berkualitas dibanding negara yang menjadi tujuan belajar di masa lampau.

  1. Ketersediaan sebuah ilmu

Sebelum tahun 2005, ilmu yang ada di luar negeri belum tersedia di Indonesia. Keadaan ini menjadikan kuliah di luar negeri sebuah keharusan untuk mendapat ilmu yan terbatas hanya diajarkan di negara tertentu. Keadaan ini sudah tidak lagi sama karena hampir semua ilmu kini tersedia di berbagai sumber media online. Contohnya adalah MIT dari Amerika Serikat yang menyediakan kelas online melalui media youtube. Di jaman yang serba terhubung ini tidak ada lagi ekslusifitas dalam memperoleh ilmu pengetahuan.

  1. Kesempatan belajar bahasa asing

Sebelum tahun 2005, kemampuan berbicara bahasa Inggris apalagi memiliki bahasa ketiga adalah kualitas yang langka. Kemampuan berbahasa asing hanya dapat diperoleh dengan menetap lama di suatu negara. Oleh karenanya, pilihan untuk belajar ke luar negeri merupakan cara jitu untuk mendapatkan kemampuan bahasa tertentu. Namun hal itu tidak lagi eksklusif sejak hadirnya YouTube dan berbagai media sosial yang mendukung kemudahan interaksi melalui internet. Berbagai les bahasa dalam bentuk video serta interaksi media sosial yang tersedia di internet memungkinakan siapapun belajar bahasa apapun tanpa harus ke luar negeri.

 

  1. Menjadi minoritas

Ketika memutuskan untuk belajar ke negara orang, pelajar mau tidak mau akan menjadi minoritas di Negara tujuan. Kondisi ini akan menuntut seseorang untuk melakukan usaha ekstra dalam berbagai hal. Ketika berinteraksi dengan masyarakat, sang pelajar harus berkomunikasi menggunakan bahasa asing yang tidak biasa ia gunakan. Ketika mencerna mata kuliah atau mengerjaan soal ujian, sang pelajar harus belajar ekstra agar ilmu yang ia pelajari dapat dimengerti.  Tantangan lain sebagai minoritas adalah perbedaan iklim. Ketika musim dingin tiba, tubuh sang pelajar dipaksa untuk menahan suhu ekstrim yang tidak biasa ia alami di Indonesia. Berbagai kondisi ini masih berlaku baik sebelum tahun 2005 hingga saat ini. Siapa pun mengalami tempaan kondisi tadi akan mendapat kualitas ekstra seperti: sabar, pekerja keras, toleran serta memiliki daya tahan yang nantinya berguna baik di dalam lingkungan kerja maupun di lingkungan masyarakat.

 

  1. Kesempatan berinteraksi dengan penduduk lokal

Pelajar Indonesia di luar negeri mempunyai kesempatan langsung untuk berinteraksi dan mengamati keadaan di negara tujuan studi. Secara sekilas, dua hal tersebut bisa jadi tidak begitu berpengaruh dengan masa depan para pelajar setelah kembali ke Indonesia nanti. Namun perlu diketahui bahwa saat ini definisi perkerjaan bukan lagi hanya sekedar menjadi pegawai sebuah perusahaan atau institusi tertentu. Berbagai kesempatan bisnis start-up, bisnis online hingga menjadi aktivis media sosial yang mana juga dapat mendatangkan pemasukan secara finansial. Untuk memulai kesempatan-kesempatan tersebut, perlu kejelian dalam mengamati kondisi masyarakat yang ada. Seseorang yang memiliki pemahaman baik terhadap masyarakat di dua negara berbeda tentu akan memiliki modal ekstra untuk memulai berbagai kesempatan tadi di berbagai bidang seperti: teknologi, perdagangan, pendidikan dan sebagainya.

Melihat 5 kondisi di luar negeri tadi, penulis dapat menyimpulkan bahwa 3 kondisi pertama yang memiliki daya tawar tertentu sebelum tahun 2005, kini nilainya menurun. Hanya dua poin terakhir yang masih relevan hingga saat ini dan perlu dimaksimalkan oleh pelajar Indonesia yang sekarang berada di luar negeri.  Keberhasilan masa belajar di luar negeri tidak hanya diukur dengan sebuah gelar akademik ataupun keberhasilan meraih berbagai jabatan di institusi tertentu. Pelajar yang lulus dari luar negeri perlu memaksimalkan pengalaman mereka di tanah rantau untuk dapat memaksimalkan berbagai kesempatan yang bisa dibangun antara Indonesia dan negara tujuan belajar.

Penulis: Gagas Pambudi Utomo

Mahasiswa S2 Geological Engineering

Middle East Technical University (METU), Turki

Editor:  Fajar R

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *