Mengenal Sudut Pandang Filsafat Pengobatan Cina

  •   
  •   

Sejarah kemunculan falsafah Cina merupakan refleksi dari konflik politik yang tidak berkesudahan. Sama seperti sejarah negaranya, falsafah Cina merupakan cerminan konflik politis dan perang saudara. Konflik yang panjang disertai depresi terhadap pengelolaan negara melahirkan tokoh-tokoh berpengaruh yang terkenal hingga di kancah dunia. Contohnya, mulai dari Kong-Ze atau Konfusius (Kong Hu Chu), Lao Tze (Taoisme) sampai pada ilmu pengobatan Zhu Xi.

Dalam sejarah ilmu pengobatan, Ibnu Sina dari dataran Arab mengawali lebih dahulu pengobatan-pengobatan dunia melalui bukunya The Canon (al-Qonun Fi’l-Tibb). Terlepas dari ilmu pengobatan Timur lain, ilmu pengobatan Ibnu Sina banyak diadopsi oleh bangsa Barat, bahkan dinisbatkan sebagai peletak dasar pengobatan medis modern.[i] Ibnu Sina selain dikenal sebagai ahli pengobatan juga dikenal sebagai filsuf muslim dengan gagasan-gagasan naturalis bernafaskan Islam yang memberikan pengaruh kepada berbagai tokoh dunia lainnya. Thomas Aquinas misalnya, menyatakan dirinya banyak terpengaruh pemikiran Ibnu Sina dalam memandang “eksistensi diri” dan hubungannya dengan “dunia yang tidak menentu.”

Di sisi lain, sampai akhir masa modern, pengobatan yang berlandaskan tradisi sama sekali tidak dilirik dan tidak diminati masyarakat Barat. Pengobatan tradisional dinilai banyak melakukan khayalan (atau disebut sebagai metafisika) dibanding dengan melakukan identifikasi secara logis. Akibatnya, pada masa modern terjadi banyak penurunan mulai dari degradasi moral, atheisme, anti-spiritual sampai Agnostisme. Sebenarnya, hal ini tidak bisa dinilai hanya sebagai efek saja, namun sudah menggejala dan menjadi penyakit modern. Hasilnya, spiritualitas dan batin manusia terasa kosong dan hampa.

Ilmu kesehatan tradisional, khususnya Cina, memberikan wawasan baru terhadap pertemuan antara dunia natural (alam) dan metafisika, serta menawarkan berbagai konsep, teori dan aplikasinya pada kesehatan. Ilmu ini muncul akibat pandangan filsuf Cina dalam memandang alam sebagai sebuah keseimbangan yang hakiki. Lambat laun, ilmu ini banyak digunakan sebagai cara mengatasi berbagai penyakit yang disebabkan oleh batin manusia.

 

Memahami Alam dan Manusia

Perkembangan ilmu kesehatan di Cina telah dimulai sejak masa klasik, yaitu pada kekuasaan Dinasti Song-Ming (960-1628 CE). Perkembangan ini dipelopori oleh Zhu Xi (Chu Hsi). Ia merupakan seorang pemikir analitis dan sintesis. Filsafatnya mengalami perjalanan yang cukup panjang. Kebanyakan karyanya dipengaruhi oleh Konfusius dan Mencius.

Ia memaknai kembali pemahaman tentang ajaran Konfusius dan Mencius dalam pandangan yang lebih luas dan baru. Aliran filosofisnya lebih mengarah kepada Neo-konfusianisme. Nilai-nilai yang diajarkan, sebagai contoh, adalah pemulihan kembali penguatan moral dan penerapannya pada birokrasi pemerintahan yang berpijak pada Konfusianisme di masa awal Dinasty Han dan Tang (206 BCE-905 CE).

Zhu Xi lahir pada Oktober 1130 di Youqi, provinsi Fujian, Cina. Pada usia 19 tahun, ia ditinggal ayahnya Zhu Song (109-1143). Zhu memulai memilih dan mempelajari berbagai sumber tentang ilmu kehidupan, termasuk Budhisme. Keilmuannya diawali dari minatnya terhadap Budisme dan Taoisme sampai ia menjadi murid dari Master Li Tong (1093-1163). Ayah Zhu menyarankan ia berguru pada Master Li, namun Zhu tidak menghiraukannya sampai ia berumur 30 tahun, pada saat ia mengalami keraguan spiritual.  Zhu mengkritisi polemik kebijakan pemerintah di masanya serta praktik-praktik keagamaan yang pada saat itu amat populer. Seperti para filsuf pendahulunya, ia juga mengajarkan ilmu pengobatan dan filsafat secara intensif. Titik fokus dalam filsafatnya ialah pemurnian pikiran dan implikasinya terhadap penelaahan ‘pikiran dan dunia’ menjadi sebuah drama bagi manusia.

 

Perkenalan dengan Moral ‘Kosmos’

 Zhu Xi mengartikulasikan dan mensistematisasi pemikiran ideal konfusianisme untuk memandang kemanusiaan 人(baca: rén) dalam kaitannya dengan kosmos dan sudut pandang manusia. Kemanusiaan menurut Zhu Xi merupakan keterkaitan manusia dengan “kreatifitas kosmos”. Misalnya adalah “Surga dan Bumi” (Kosmos) dalam memunculkan berbagai pandangan. Keterlibatan kosmos ini memberikan berbagai sudut pandang yang amat penting dalam memahami manusia sekaligus menjadikan ia sebagai perantara akan adanya manusia itu sendiri. Meski corak filsafat Zhu Xi adalah “Human Nature” atau alamiah yang berarti ke-Alam-an, namun ia juga menjelaskan berbagai hal yang bersifat metafisis, seperti tentang jalan langit (takdir) dan kekuatan diluar manusia yang kemudian mengilhaminya menjadi sebuah konsep tentang keseimbangan segala sesuatu. Moral kosmos dalam pandangan Zhu Xi merupakan refleksi dirinya dari pemikiran pendahulunya seperti Konfusianisme dan Taoisme. Konsep naturalisme merupakan produk dirinya yang berasal dari Budhisme yang ia pelajari dimasa mudanya.

 

Moral Kosmos dan Konsep Pikiran

Pemikirannya semakin membesar karena didukung dengan pemikiran metafisiknya. Metafisika yang ia maksud adalah tentang segala hal yang bisa dirasakan meskipun itu tidak nampak, seperti udara dan energi yang menggerakkan manusia secara total.

Konsep Zhu Xi yang paling terkenal adalah “Dinamika Realitas” atau sebuah kenyataan yang dinamis, selalu berubah dan berkembang. Dinamika realitas yang dikonsepsikannya ditunjukkan dalam “sketsa pertentangan tertinggi” (Taiji tu) atau yang sering kita kenal dengan Taichi. Taichi dapat dimaknai sebagai ilmu tentang energi. Lebih luas, Zhu Xi menjelaskan tentang bagaimana dinamika realitas ini terhubung dengan segala hal yang mendasari sifat-sifat kemanusiaan yang ada. Taiji tu Shou merupakan “The Holistic System”. Pada perkembangannya, sebuah sistem tersebut mencapai tingkat bentukan dunia yang terbentuk dari ‘yang tidak terbentuk’ sampai pada Yin dan Yang pada 5 tahapan, Bumi, Kayu, Api, dan Logam dan terakhir ke surga. Ide pemikiran Zhu dikombinasikan dengan pemahaman dari “Book of Change” sebagai pemikiran filsafat yang menyeluruh antara kosmos dan kreatifitas manusia.

Seiring berkembangnya peradaban modern, kualitas pemahaman tentang 5 elemen menjadi lebih aplikatif. Misalnya saja dalam pengobatan akupunktur dan pengelolaan keseimbangan nafas. Sebagai gambaran, Refleksologi merupakan hasil dari pemikiran Zhu. Dalam tahap refleksologi, ia menggabungkan kelima elemen yang dosebut model dinamis system biologi. Sekaligus sebagai kombinsai dari sistem keseimbangan Yin-yang. [ii]

Refleksiologi

Keseimbangan dinyatakan dengan adanya alam mikrokosmos dalam tubuh manusia. Konsep Yin-Yang diaplikasikan pada hampir setiap aspek kehidupan. Misalnya saja dalam konsep etika, setiap hal yang dilakukan tidak boleh berlebihan. Hal serupa juga berlaku pada tindakan makan, minum juga bekerja. Selain itu konsep keseimbangan juga diaplikasikan untuk mengelola kondisi pikiran, hati dan jiwa manusia.

Simbol Tai-Chi (A) dan Segitiga Sierpinski (B)

Catatan Akhir

Dalam perkembangan pemikirannya, Zhu Xi memulai dengan memahami alam sebagai daya penggerak manusia dan senantiasa bergerak sendiri. Zhu Xi sangat menyukai cara berfikir abstrak dan metafisis disbanding logis, karena banginya alam lebih banyak tidak menggunakan logika untuk menjadikan dirinnya senantiasa bergerak.

Pemikiran Zhu Xi banyak digunakan sebagai basis teori pengobatan tradisional China, yang sampai sekarang dikenal dengan konsep keseimbangan Yin dan Yang. Prinsip tersebut menjelaskan keseimbangan antara manusia dan alam.

Tulisan ini merupakan pengantar tentang peran filsafat dalam perkembangan ilmu kesehatan paling awal di China. Sangat senang jika bisa berdiskusi dan mendalami akar-akar pemikiran filsafat dari Timur.

 

Penulis:  Afifudin Alfarisi, Graduate Institute of Philosophy, National Central University, Taiwan.

Editor: Nadhirariani

 

[i] Sakatani, Kaoru, Concept of Mind and Brain in Traditional Chinese Medicine, Data Science Journal, Volume 6, Supplement, 7 April 2007.

[ii] http://www.iep.utm.edu/avicenna/ diakses pada tanggal 20 September 2017

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *