PPI Tiongkok Gelar Webinar “Hari Lahir Pancasila” bersama Prof. Mahfud MD

  •   
  •   

Webminar dengan pembicara Prof. Mahfud MD

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok, menggelar acara webinar yang bertemakan “Menjalankan Nilai-Nilai Pancasila di Era Milleal” pada hari Sabtu, 9 Juni 2018. Pembicara pada webinar kali ini adalah Prof. Dr. Mahfud MD, SH.SU selaku Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Antusiasme para peserta yang sangat tinggi membuat webinar ini tidak hanya berlangsung menggunakan aplikasi Zoom seperti biasanya, namun juga disiarkan secara online melalui Youtube.

Dalam penyampaian materinya, Prof. Mahfud membahas tentang sejarah kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang bertepatan pada 9 Ramadhan 1364 H. Pada bulan Februari 1945, Radjiman Wedyodiningrat, selaku ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengatakan bahwa kita harus menyiapkan dasar-dasar negara terlebih dahulu untuk menjadi negara yang merdeka. Hal tersebut yang melahirkan Pancasila sebagai dasar negara pada tanggal 1 Juni 1945.

Prof. Mahfud MD saat menyampaikan webminar

Dalam paparannya, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini juga mengatakan bahwa negara Indonesia terbentuk dari Proklamasi bukan Deklarasi yang memiliki makna bahwa kemerdekaan Indonesia diraih dengan kekuatan sendiri bukan merupakan hadiah dari negara penjajah. Indonesia adalah satu-satunya negara di Dunia yang berhasil memperoleh kemerdekaannya dengan cara tersebut.

Pancasila yang diusulkan oleh Bung Karno pada saat itu berbeda dengan Pancasila yang berlaku saat ini, namun substansinya tetap sama. Pada saat itu, Bung Karno dan para pejuang berhasil menghasilkan Piagam Jakarta dimana isinya sama dengan Pancasila. Setelah pembentukan Pancasila, lahirlah UUD yang didalamnya terdapat Pancasila yang mengalami perubahaan khususnya kata yang menjurus kepada agama seperti kata “Mukadimah” diubah menjadi “Pembukaan”, dan isi dari sila pertama diubah menjadi Ketuhanan yang Maha Esa.

Beliau juga menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang berkeTuhanan bukan negara Islam, yaitu meyakini adanya Tuhan yang tercermin di dalam berbagai macam agama. Hal tersebut yang menghasilkan adanya toleransi diantara masyarakat Indonesia. “Silahkan menjalankan agama masing-masing tapi ketika berpakaian Indonesia maka kita tetap sama sebagai warga negara Indonesia, apapun agama Anda dan patuh terhadap ajaran-ajaran agamamu maka semua akan menjadi baik” jelasnya.

Salah satu nilai Pancasila yang penting adalah mengajarkan kemanusiaan. Tentu nilai kemanusiaan tersebut hanya dimiliki oleh bangsa yang merdeka. Seluruh masyarakat Indonesia wajib menghargai satu sama lain dan memiliki rasa kebersatuan dalam banyaknya perbedaan. Hal tersebut yang disebut sebagai ‘Bhineka Tunggal Ika’.

Bangsa Indonesia memerlukan dasar Pancasila untuk menghubungkan berbagai ikatan primordial yang sangat beragam dikalangan bangsa. Dengan ribuan suku dan perbedaan agama, hal ini harus diatur berdasarkan demokrasi dan sosial yang berkeadilan. Pancasila berarti keadilan sosial yakni bagaimana membangun terciptanya pemerataan hingga mempersempit kesenjangan ekonomi.

Di akhir materi, Prof. Mahfud mengingatkan seluruh Mahasiswa Indonesia di Tiongkok untuk tetap menjaga persatuan. “Tunjukkan kita masyarakat Indonesia yang punya sifat-sifat kepancasilaan yg selalu tawadhu, berkemanusiaan / manusiawi, mau bermusyawarah, jaga nama bangsa Indonesia” tutupnya.

Setelah acara ini, Fadlan Muzakki, Ketua Umum PPI Tiongkok mengatakan bahwa Palajar Indonesia tetap bisa menjalankan nilai-nilai Pancasila selama belajar disana. Kegiatan webinar juga sebagai jawaban terkait berita hoax yang beredar beberapa waktu yang lalu terkait Pelajar Indonesia. “Kegiatan Webinar Ini sekaligus dapat dipandang sebagai counter issue terhadap berita miring yang mengatakan Pelajar Indonesia belajar ideologi tertentu” ujarnya.

Webinar ini merupakan kegiatan rutin PPI Tiongkok yang diselenggarakan sebagai media untuk berbagi pengetahuan, menambah wawasan dan forum untuk membahas isu-isu yang sedang hangat baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Bravo PPI Tiongkok.

 

Penulis:  Nadya Mara Adelina, Pengurus Pusat PPI Tiongkok (Dept. Pendidikan)

Editor: Nadhirariani

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *