Sharing Session Bantu Guru Melihat Dunia Chapter Jepang

  •   
  •   

Guru adalah orang yang banyak jasanya yang telah mengantarkan kita sampai kondisi sekarang ini. Bagi kita yang sekarang ini bisa sekolah sampai luar negeri, hal tersebut tak lepas dari jasa mereka juga. Maka sepantasnyalah kita dukung program Komisi Pendidikan PPI Dunia yang mengapresiasi para guru, dimulai dari meningkatkan kapasitas mereka dengan melihat sistem pendidikan sekolah dasar di negara lainnya.

PPI Nokodai mendapatkan kehormatan dari PPI Dunia menjadi tuan rumah untuk meyelenggarakan session sharing dengan guru terpilih program “Bantu Guru Melihat Dunia” dengan tujuan negara Jepang, bertempat di Aula Hinoki Dormitory TUAT Fuchu. Adalah Riski dan Yunina Resmi Prananta dua guru terpilih oleh PPI Dunia untuk melakukan observasi, diskusi dan belajar sistem pendidikan di Jepang. Riski adalah guru berprestasi dari SDN Sidopoto I/48 Surabaya Jawa Timur sedangkan Yunina adalah guru berprestasi dari SD Negeri Wonolelo, Wonosobo, Jawa Tengah.

Setelah hampir sepekan beraktivitas di Daisan Hino shougakkou, hari ini, Sabtu 30 Juni 2018 aktivitas kedua guru tersebut adalah berbincang dengan teman-teman yang tinggal di Fuchu Koganei (PPI Nokodai), yang beberapa diantaranya mempunyai anak-anak yang sudah sekolah di Jepang. Acara dimulai dengan pengenalan profil PPI Nokodai dan Komunitas Fuchu Koganei oleh Safirah, dilanjutkan penjelasan oleh Koodinator Program Bantu Guru Melihat Dunia (PPI Dunia), Atiqotun Fitriyah dan sambutan koordinator PPI Dunia Pandu Utama Manggala. Program ini diharapkan terus berlanjut, di tahun pertama ini perjuangan teman-teman dari nol ternyata mendapat respon positif dari banyak pihak. Sebanyak 207 guru yang mendaftar, hanya dipilih 10 saja untuk ikut program “Bantu Guru Melihat Dunia”, dan 2 diantaranya ke Jepang.

Lela sebagai moderator membuka pertemuan dengan sangat menarik, apalagi pengalamannya saat ini sebagai dosen di UIN Sunan Kalijaga dan pernah terlibat di program “Indonesia Mengajar” membuatnya sangat memahami proses pendidikan di Indonesia, terutama di daerah pelosok. Beliau berkisah ketika di pelosok menanyakan cita-cita anak tersebut, ada jawaban yang sangat menarik. TIdak ada siswa yang bercita-cita jadi pilot, dokter, insinyur, dosen, bahkan presiden! Dari 15 anak, 13 menjawab ingin menjadi petani! Wow, suatu cita-cita yang terhormat, dan 2 diantaranya ingin jadi nelayan! (semua memberikan aplaus). Namun, ternyata setelah ditelisik lebih jauh, anak-anak itu tidak tahu profesi lain selain yang digeluti oleh orangtuanya.

Riski maupun Yunina menceritakan aktivitasnya selama menjadi guru di Indonesia, kemajuan yang saat ini dicapai dan berbagai tantangannya, salah satunya adalah ketidakmerataan SDM pengajar dan fasilitas. Namun dari banyak hal, kita patut bersyukur sistem pendidikan Indonesia mengajarkan siswa didik lebih kreatif, lebih variatif dalam pengajaran dan juga pendidik yang mulai semangat berjuang untuk meningkatkan kapasitas diri.

Selama di Jepang, banyak hal yang didapatkan terutama mengenai system pendidikan dasar yang melatih siswa lebih disiplin dan juga teratur. Sisi penghargaan ke siswa seperti karya yang dipajang di tempat strategis, kebebasan membuat ekspresi dalam seni, dan beban yang ringan di sekolah dasar menjadi nilai lebih yang bisa dicontoh. Namun, disisi lain pada sesi diskusi, menurut Wiastiningsih pendidikan di Jepang tidak semudah yang dibayangkan. Dengan target yang tinggi dan wajibnya penguasaan target mata pelajaran, siswa ternyata dituntut harus menguasai pelajaran tersebut sebelum masuk pelajaran berikutnya, misalnya penguasaan huruf kanji. Siswa SD dituntut hafal 900 kanji dasar 教育漢字 (Kyoiku Kanji). Terkadang ada jadwal pelajaran tambahan yang dibebankan ke siswa dengan tinggal di sekolah lebih lama daripada teman-temannya yang lain dan itulah yang bisa membuat stress.

Lebih lanjut, Wiastiningsih (dosen sastra Jepang UGM) berbagi pengalaman kelebihan pendidikan di Jepang yang diamati selama 5 tahun tinggal disini adalah membangun kekompakan dan kebersamaan melalui undokai (festival olahraga) maupun pentas seni peran. Latihan untuk melakukan itu dilakukan terus-menerus menjelang hari-H dan sportifitas sangat ditekankan. Tidak mencari juara, tapi lebih dari itu, untuk menyelesaikan masalah bersama. Proses, lebih penting dari sekedar hasil. Beliau lalu lebih detail menceritakan pengalaman putranya dan teman-temannya di sekolah.

Hanif, peneliti Balitbangtan, banyak bercerita mengenai suka dukanya ketika putranya masuk pertama kali di sekolah dengan tidak punya modal penguasaan bahasa Jepang. Untunglah proses adaptasi berjalan mulus dan saat ini mulai terbiasa menjalani aktivitas rutin belajar di sekolah dan mengerjakan berbagai tugasnya. Karena masih SD kelas 1, pelajarannya masih ringan. Setiap bulan ada pertemuan setiap orang tua masing-masing dengan guru untuk mengevaluasi perkembangan siswa. Pertemuan hanya berlangsung 15 menit, namun informasi dari guru mempermudah orang tua memahami persoalan, tantangan dan perkembangan siswa didiknya.

Pengalaman dari orangtua yang menyekolahkan anaknya ini menambah informasi yang mereka dapatkan. Hal yang tidak didapatkan kedua guru kita tersebut selama beberapa hari belajar langsung di sekolahan Jepang. Diskusi ini membuat kami semua bertambah pengalamannya dan selalu optimis akan masa depan bangsa.

Karena guru, kita bisa melihat dunia. Maka mari kita wujudkan harapan mereka dengan “Bantu Guru Melihat Dunia”.

Terima kasih PPI Dunia!

Penulis: PPI Tokyo University of Agriculture and Technology

Editor: Altifani Rizky Hayyu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *