Nasruddin Hoja dan Nasihat Untuk Pemimpin

  •   
  •   

Sumber gambar: https://en.wikipedia.org

Dalam al-Ahkam al-Sulthaniyyah, Imam al-Mawardi mengatakan bahwa urgensi adanya pemimpin dalam masyarakat merupakan hal yang wajib menurut akal dan syariat.  Wajib secara akal, yakni keberadaan pemimpin di tengah masyarakat akan meniadakan berbagai tindakan kezaliman, perselisihan atau persengketaan di antara mereka. Itu semua akan terjadi bila tidak adanya seorang pemimpin.

Adapun secara syariat, bahwasanya pemimpin inilah yang kelak akan menegakkan hukum dan syariat Islam di suatu masyarakat. Merekalah yang mempunyai wewenang kuat untuk memberikan ketetapan Islam di tengah masyarakat.

Terkait pemimpin, di Negara kita baru saja hadir para pemimpin baru yang akan menduduki dan membenahi provinsi, kota, kabupaten sampai pada bagian terkecil. Dan sebagai rakyat, tugas kita hanya dua; menaatinya jika benar –sebagaimana perintah Alquran– dan menasehatinya dengan cara terbaik ketika berbuat salah.

Maka dari itu, tulisan singkat ini akan mengurai sedikit nasehat untuk para pemimpin dari sosok Nasruddin Hoja, seorang sastrawan Arab yang hidup pada abad keenam hijriyyah. Nasehat tersebut ia sampaikan dalam bentuk cerita jenaka (folklore), yang menyimpan tabir dan makna yang amat dalam. Kadang berupa sindiran kadang juga permisalan. Dan dari cerita tersebut kita bisa banyak mengambil pelajaran, khususnya bagi seorang pemimpin.

Dalam ceritanya, dirinyalah yang dijadikan sebagai tokoh utama. Terkadang ia berperan sebagai penasehat raja, penghianat, hakim yang disuap, pencuri, atau bahkan seorang ayah bagi keluarganya. Sebenarnya bukan dirinyalah yang ingin disorot, namun pesan di balik peristiwa tersebutlah yang akan tampil sebagai naratornya.

Salah satunya adalah kisah ketika ia diperintahkan oleh raja untuk mengukir kata-kata pada cincin emas milik raja. Raja mensyaratkan, tulisan tersebut dapat membuatnya gembira saat dalam keadaan sedih dan dapat menjadi pengingat baginya bila mana ia terlampau bergembira.

“Jika syarat ini tidak dapat kau penuhi, maka akan kupancung kepalamu!” tegas raja kepada Nasruddin.

Mau bagaimana lagi, Nasruddin pun mengiyakan perintah tersebut. “Baik paduka, akan segera saya buatkan,” jawab Nasruddin.

Tanpa berpikir panjang, dibawalah cincin itu pada tukang grafir terdekat. Ia pun membisiki tukang grafir tersebut untuk mengukir sebuah tulisan di cincin milik raja sesuai syarat yang diberikan olehnya.

Berhasil! Ternyata kata-kata tersebut benar-benar berkesan di hati penguasa. Sebab ketika ia sedang mabuk atau lupa diri, lalu melihat pada kata-kata yang terukir di cincin itu, ia pun menjadi malu pada dirinya  dan dapat mengendalikan nafsu yang sedang menyelimutinya. Sebaliknya bila dalam keadaan sedih, ia segera melihat pada kata-kata tersebut dan kesedihannya pun segera hilang. Berkat ini, akhirnya sang raja pun senang dan memberikan hadiah pada Nasruddin.

Saat hendak keluar, salah seorang pengawal pun terheran dan bertanya pada Nasruddin tentang tulisan tersebut.

“Wahai Nasruddin! Sebenarnya, apa yang kau tuliskan pada cincin itu?,” tanya pengawal terheran.

“Aku hanya menyuruh tukang gravir menulis ‘SEGALA SESUATU AKAN BINASA,’” jawab Nasruddin sambil berjalan menuju pintu keluar.

Pelajarannya adalah, ukiran tersebut mengajarkan kita, bahwa di dunia ini tidak ada yang sifatnya kekal, semua akan sirna. Begitupun dengan kepemimpinan. Menjadi pemimpin hanyalah sementara, tidak selamanya. Mari sejenak berkaca pada seluruh pemimpin yang pernah ada; jika tidak mereka yang meninggalkan kepemimpinan karena mati, maka cepat atau lambat ke-pemimpinan-lah yang akan copot dari dirinya.

Mengutip perkataan Gus Dur, “Untuk apa kita meneteskan darah hanya demi sebuah jabatan”.

Ini berarti seorang pemimpin harus menyadari dirinya tengah dalam sebuah amanah, yang mana kelak ia akan pertanggungjawabkan. Sebagaimana firman-Nya, “tsumma latus`alunna yawmaidzin ‘an al-Na’im”. Maka benarlah apa yang diukirakan Hoja di cincin tersebut. Pemimpin harus selalu bersabar dan bersyukur; jika diberikan kesukaran ia bersabar, dan jika diberi kemudahan ia bersyukur. Karena tidak ada kesenangan atau kesedihan yang sifatnya kekal, semuanya akan hilang, sebagaimana yang dikatakan Imam Syafi’i Ra:

ولا حزن يدوم ولاسرور # ولا بؤس عليك ولا رخاء

“Tidak ada kesusahan dan kesenangan yang abadi, begitupun kesengsaraan dan kelapangan”

Demikianlah seorang pemimpin seharusnya bersikap. Dan sungguh bijak seorang Nasruddin,  mungkin kalau bukan tulisan itu yang ia ukirkan, kepalanya sudah dipenggal oleh sang raja.

Dan kisah lainnya yaitu pada saat Nasruddin sedang berdialog dengan raja.

“Nasruddin! Andaikan aku ini dinilai dengan uang, berapakah nilainya?,” ujar raja.

Mendengar pertanyaan ini Nasruddin sedikit termangu. Namun mau tidak mau ia harus menjawabnya. Maka dengan cepat ia temukan jawabannya.

Ah, saya kira nilai paduka ini  kurang dari seribu dinar.”

Mendengar jawaban itu raja pun tertawa terpingkal-pingkal, lalu menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursinya, dan berkata.

“Nasruddin! Kau ini benar-benar keterlaluan. Masak nilaiku kurang dari seribu dinar. Kau tau, bajuku saja ini harganya sekitar seribu dinar lo.”

Mendengar jawaban ini, Nasruddin pun dengan sigap menimpali :

“Bila demikian, maka benar perkiraan dan taksiran saya. Karena yang saya nilai pada diri paduka memang hanya baju paduka saja!”

Singkatnya, kisah ini berpesan: yang membuat pemimpin itu menjadi ‘mahal’ atau ‘terhormat’ ialah bajunya (jabatannya). Ia dihormati karena jabatannya, dimuliakan karena kursinya, dan ditinggikan karena pangkatnya. Maka setelah ia tak lagi menjabat sebagai pemimpin, apap nilai dari dirinya di mata masyarakat. Maka dari itulah Alquran mengingatkan bahwasanya orang yang mulia itu bukanlah yang tinggi jabatannya, melainkan yang paling bertaqwa. Inna akramakum ‘indallahi atqaakum.

Alquran telah mengganti konsep ‘kariim’ di mata bangsa Arab menjadi mulia karena ketaqwaan, bukan kekayaan, nasab ataupun jabatan, sebagaimana yang dipercayai oleh penduduk arab masa jahiliyyah.

Jadi, untuk apa merasa bangga dimuliakan hanya karena duduk di kursi jabatan. Karena Kata-kata “yang terhormat” ataupun “yang mulia” akan sirna ketika kursi tersebut ia tinggalkan.

Masih banyak kisah-kisah menarik dari Nasruddin yang dapat kita petik nilai dan mafaatnya. Namun saya kira dua pesan ini dapat menjadi sebuah renungan, apabila direnungi secara mendalam. Sekali lagi, nasehat ini bersifat universal untuk semua pemimpin.

Penulis: Bana Fatahillah,  mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

Editor: Altifani Rizky Hayyu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *