Iftar, Empati dan Berdialog: Ramadhan Sebagai Jembatan Antar-Komunitas di Inggris Raya

  •   
  •   

Suasana dalam kegiatan ifthar

Ramadhan telah lewat, untuk kami para perantau di negara-negara belahan bumi utara, Ramadhan adalah sebuah tantangan yang memiliki pahit-manisnya tersendiri. Buat kami yang harus rela ber-budget makanan mati-matian sehari-harinya, ada yang menyambut Ramadhan dengan girang karena akhirnya tidak harus me-budget makanannya dengan alasan yang sia-sia. Tapi di satu sisi, hiruk-pikuk deadline and ujian di musim panas ini juga menguji kesabaran dan ketangguhan kita saat berpuasa selama 18 jam (waktu berbuka menjadi semakin lama juga seiringnya musim panas berjalan) di tanah rantau.

Di Britania Raya, persoalan menjadi seorang Muslim terkadang tidak sulit dikarenakan angka penduduk imigran atau keturunan imigran yang cukup meningkat. Tetapi tentu saja, umat Muslim masih dianggap sebagai minoritas dikarenakan hanya terhitung sebagai 4.8% dari total populasi Inggris dan Wales saja di sensus terakhir (Office for National Statistics, 2011).

2017 bukan lah tahun yang menyenangkan di media bagi umat Muslim di Inggris, hal ini diakibatkan beberapa aksi teror yang mengatasnamakan ‘Islam.’ Tetapi dalam semua kejadian itu, solidaritas terus ditenun oleh negara yang terkenal dengan Keep Calm & Carry On mereka saat menghadapi kesulitan. Dimulai dari kejadian di Wesminster tanggal 22 Maret kemarin, rakyat London paham kalau yang terakhir mereka ingin sampaikan kepada pihak yang berasalah adalah pesan yang berbau ketakutan dan ketidakpercayaan dengan satu sama lain.

Tujuan rantau saya di Inggris adalah kota kecil bernama Canterbury yang bisa ditempuhi dengan kereta dari London dalam waktu dua jam. Ramadhan di tanah rantau tidak hanya menjadi alat introspeksi diri tetapi juga dijadikan sarana introspeksi komunitas. Masjid kami adalah sebuah rumah sederhana yang masih berada di dalam lingkungan kampus dan telah berdiri selama 20 tahun. Tak hanya aktif sebagai wadah organisasi ISOC (Islamic Society) untuk mahasiswa, masjid juga digunakan sebagai wadah berdialog dengan masyarakat lokal di Canterbury.

Di saat maghrib tiba, masjid kami pernah mengundang orang-orang banyak, Muslim dan non-Muslim, untuk berbuka puasa bersama. Tujuannya adalah untuk menyebarkan ilmu dan membangun kesadaran masyarakat tentang apa ang umat Muslim lakukan selama Ramadhan. Namun, disaat adzhan maghrib berkumandang dan makanan pembuka (ingat, tidak ada takjil disini) disebarkan, kesempatan untuk belajar itu tidak hanya diberikan kepada mereka yang tidak melaksanakan ibadah puasa tetapi juga kepada kami yang turut belajar dari beragam celotehan pahit dan manisnya kehidupan mereka.

Bincang-bincang dalam kegiatan Ifthar

Setelah puas bermakan-makan dan berbagi cerita, kami berkumpul di satu area di dalam masjid dimana sang imam—yang selalu kita panggil Uncle Rashid—mengumpulkan saran dan opini dari orang-orang yang telah hadir di malam itu. Beliau beranggapan bahwa sebuah inisiatif yang bertujuan untuk merubah persepsi masyarakat itu mudah dimulai tetapi lebih sulit untuk dipertahankan. Beliau berharap inisiatif ini bisa dilanjutkan kedepannya dan satu-satunya cara untuk menarik minat masyarakat untuk terus datang bisa diraih dengan upaya perbaikan yang berkelanjutan—budaya continuous improvement dan lagi-lagi juga mengangkut topik introspeksi diri. Di saat puasa selalu menjadi highlight media massa saat mendeskripsikan Ramadhan, pengalaman ini membuka mata masyarakat. Mereka, dan kami tentunya yang melaksanakan ibadah puasa, juga bisa diajak untuk memahami bagaimana Ramadhan bisa ditafsirkan sebagai medium untuk melatih diri agar bisa berempati dengan satu sama lain.

 

Penulis:

Nibras Balqis Sakkir, BA in Social Anthropology, University of Kent

PPI United Kingdom

 

Sumber yang dikutip:

Office for National Statistics (2011). Religion in England and Wales 2011 [Online]. Available from: https://www.ons.gov.uk/peoplepopulationandcommunity/culturalidentity/religion/articles/religioninenglandandwales2011/2012-12-11 [02/06/2018]

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *