Kajian Strategis PPI Dunia: Koordinasi Lintas Kementerian Penting untuk Merespon Pelemahan Rupiah

  •   
  •   

Melemahnya nilai Rupiah hingga mencapai Rp 15.000 per 1 US Dolar menjadi perdebatan publik selama satu bulan terakhir.  Meskipun pemerintah mencoba untuk meyakinkan publik bahwa melemahnya nilai Rupiah ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal dan berbeda dengan situasi serupa di tahun 1998, beberapa kalangan melihat ini sebagai potensi krisis ekonomi baru. Kendati demikian, menurut Kementerian Keuangan, situasi yang terjadi di Indonesia belum menunjukkan gejala krisis separah Turki atau Argentina dan fondasi ekonomi Indonesia lebih kuat dari tahun 1998.

Benarkah demikian? PPI Dunia mencoba untuk merespons fenomena ini dengan menggelar Webinar Policy Talk bekerjasama dengan PPI TV dan PPI Australia. Webinar ini menghadirkan 4 orang pembicara, yaitu Hadied Safarayuza (Ketua Komisi Ekonomi PPI Dunia), Sandy Arief (Mahasiswa PhD di Macquarie University dan Direktur Riset PPI Australia), Abraham El Talattov (Peneliti INDEF) serta Dr Fithra Faisal Hastiadi (Dosen FEB UI).

Webinar ini diikuti dengan penerbitan PPI Brief yang berisi analisis serta strategi kebijakan yang perlu diambil oleh pemerintah untuk merespons pelemahan Rupiah. PPI Brief ini dikelola oleh Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia dan menghadirkan analisis dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia di berbagai belahan dunia.

PPI Brief No. 1/Oktober 2018 tersebut diterbitkan dengan judul “Menyikapi Pelemahan Rupiah: Tantangan dan Prospek Kebijakan” dan ditulis oleh dua orang mahasiswa Indonesia, yakni Hadied Safarayuza (Ketua Komisi Ekonomi PPI Dunia) dan Muhammad Putra Hutama (Mahasiswa Pascasarjana di Corvinus University of Budapest, Hungaria)

Menurut Hadied dan Putra, pelemahan Rupiah di tahun 2018 memang tidak sama dengan apa yang terjadi dua puluh tahun sebelumnya. Namun demikian, hal ini tidak boleh dipandang sebelah mata. “Jika tidak disikapi dengan kebijakan yang tepat, kondisi ini bisa memukul perekonoman nasional. Kombinasi strategi kebijakan jangka-panjang, seperti Koordinasi Lintas Kementerian, dan strategi kebijakan jangka-pendek perlu dilakukan untuk menstabilkan nilai Rupia”, jelas Hadied dan Putera.

Berikut beberapa intisari dari PPI Brief yang ditulis oleh Hadied dan Putra  tersebut:

  1. Penyebab dari pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal, yang terkait dengan perbaikan twin deficit, serta Faktor ekternal yang disebabkan kenaikan tingkat suku Bunga Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve.
  2. Namun demikian, pelemahan nilai tukar rupiah sangat jauh dengan kondisi pelemahan rupiah saat mengalami depresiasi tahun 1998. Pemerintah dan Bank Indonesia telah memiliki beberapa kebijakan yang merespons krisis.
  3. Ada beberapa kebijakan – kebijakan lainnya yang harus diambil guna menahan laju dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Secara jangka-panjang, perlu adanya koordinasi kebijakan yang lebih efektif di Kementerian terkait bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat, serta revisi UU tentang Lalu Lintas Devisa dan Nilai Tukar.
  4. Secara jangka-pendek, pengurangan subsidi BBM secara bertahap juga bisa dilakukan, dengan catatan pemerintah juga bisa menanggulangi dampak sosial bagi masyarakat miskin.
  5. Pada intinya, masyarakat diharapkan untuk tetap tenang, dan tidak mengaitkan kondisi ini dengan politik praktis yang justru akan menghambat upaya stabilisasi nilai Rupiah saat ini.

PPI Brief akan diterbitkan oleh PPI Dunia secara rutin dengan menghadirkan analisis dari berbagai bidang, terutama ekonomi, sosial budaya, energi, pendidikan, dan kesehatan.

Policy Talk PPI Dunia, “Menyikapi Pelemahan Rupiah: Tantangan dan Prospek Kebijakan”: https://www.youtube.com/watch?v=p939ICRzOFI

Kontak: Ahmad Rizky M. Umar, Kepala Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia (a.umar@uq.edu.au)

File PDF dapat dibaca disini:

Policy Briefs1-1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *