PhD Talk : “The Conservation and Communication of Intangible Heritage through ICT (The Case Study of Batik in Digital Fashion and Tourism)”

  •   
  •   

PhD talk merupakan salah satu program dari  Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Swiss and Liechtenstein yang dilaksanakan pada setiap semester dengan tujuan untuk berbagi ilmu dan berdiskusi tentang topik penelitian mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan doktoral di Swiss. Pada tanggal 13 Oktober 2018 lalu, PPI Swiss dan Liechtenstein untuk kedua kalinya mengadakan PhD Talk dengan judul “Pelestarian  dan Komunikasi Warisan Budaya Tak Benda dengan Studi Kasus Batik dalam Pariwisata dan Digital Fashion. Pembicara pada PhD Talk kali ini adalah Puspita Ayu Permatasari, mahasiswi doktoral dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi  untuk Warisan Budaya Tak Benda dan Pariwisata di universitas Università della Svizzera italiana di Lugano (USI), Swiss. PhD Talk ini dihadiri oleh Prof. Lorenzo Cantoni selaku UNESCO Chair holder in ICT for Sutainable Tourism at World Heritage Sites, Prof. Boas Erez selaku Rektor USI – Università della Svizzera Italiana, dan Duta Besar Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein, Prof. Muliaman D. Hadad, beserta dua puluh orang diaspora Indonesia lainnya. Diaspora Indonesia yang hadir diantaranya adalah tiga belas pelajar yang saat ini sedang menempuh pendidikan di ETH Zurich, Bern University of Applied Sciences (BFH), University of Basel, University of Applied Sciences HTW Chur, and USI. Sisanya, merupakan diaspora Indonesia yang bekerja di Kedutaan Indonesia yang berada di Bern serta institusi formal lainnya di Swiss. Acara ini juga dihadiri oleh tiga orang peserta asing, yakni mahasiswa  master untuk program Media Management, USI; Dr. Jingjing Lin, praktisi teknologi dalam bidang edukasi; dan Ms. Isabella Kunzli Waller, perajin dan pengusaha batik dari Rancate, Swiss yang pernah belajar membatik secara langsung di Indonesia.

Sambutan oleh Duta Besar Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein, Prof. Muliaman D. Hadad

Tema PhD Talk kali ini menekankan akan pentingnya teknologi informasi komunikasi (TIK) dalam mempromosikan kelestarian dan menyampaikan nilai-nilai budaya Batik Indonesia yang merupakan salah satu warisan budaya tak benda (intangible) dari UNESCO yang telah tercatat sejak tahun 2009. Keistimewaan Batik tidak hanya dilihat dari pelestarian teknik produksi tekstil dengan menggunakan metode  pewarnaan rintang lilin (wax resist dyeing) yang memiliki nilai sejarah, yaitu teknik pewarnaan yang dimulai oleh bangsa Mesir, India, Sri Lanka, China, dan Jepang hingga akhirnya masuk dan tersebar ke berbagai daerah di Indonesia melalui Jalur Sutra Maritim pada abad 6-8 Masehi. Namun, batik Indonesia juga memiliki keistimewaan berupa kandungan nilai-nilai universal yang luar biasa. Diantaranya adalah filosofi dari motif batik disetiap daerah, aturan pemakaian Batik menurut peristiwa tertentu dan posisi sosial di zaman kerajaan, serta implikasi dari nilai sosial budaya yang terkandung dalam sebuah karya batik tulis. Keistimewaan yang dimiliki oleh Batik kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik domestik maupun internasional, untuk mencari pengalaman otentik serta berkeinginan lebih jauh untuk memahami akar budaya dari praktik membatik yang unik ini.

Puspita Ayu Permatasari, mahasiswi doktoral Università della Svizzera italiana di Lugano selaku narasumber PhD Talk kali ini

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat menjadi salah satu media untuk mendokumentasikan kekayaan warisan budaya tak benda tersebut. Selain itu, TIK juga dapat meningkatkan kesadaran publik untuk lebih memahami nilai universal Batik melalui kegiatan fesyen dan pariwisata. Kontribusi TIK dalam pelestarian budaya membatik dapat dilakukan melalui situs web, aplikasi seluler, video, augmented atau virtual reality, ulasan perjalanan online (online travel reviews), aplikasi permainan (gamification), dan eLearning. Walaupun saat ini adopsi digitalisasi besar-besaran banyak dilakukan dalam berbagai industri di Indonesia, pembicara menegaskan bahwa pembuatan TIK tidak dimaksudkan untuk menggantikan praktik asli warisan budaya tak benda. Justru, TIK dapat mendukung komunitas produsen Batik untuk tetap mempertahankan praktik Batik Tulis. Melalui TIK, praktik dan pengetahuan budaya membatik tersebut dapat tersiar dan diakses oleh masyarakat luas. Sehingga, dengan semakin banyaknya orang yang tertarik untuk mempelajari praktek pembuatannya, maka akan semakin dihargainya keahlian membatik tersebut tanpa lupa untuk selalu melindungi warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia.

Prof. Lorenzo Cantoni selaku perwakilan UNESCO Chair tengah memberikan penjelasan kepada peserta PhD Talk

Dalam acara tersebut, Prof. Lorenzo Cantoni selaku UNESCO Chair dan perwakilan universitas USI menyatakan bahwa studi TIK dalam studi kasus Batik telah secara mendalam diintegrasikan dalam program Master of Internasional Tourism dan Master of Digital Fashion. Khasanah ilmu terapan dan  best practice dalam manajemen industri Batik ini dapat memperkaya pengetahuan para  mahasiswa untuk ikut melestarikan warisan budaya tak benda tersebut. Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss dan Kepatihan Liechtenstein, Prof. Muliaman Hadad dalam pidato pembukaannya pun turut mangamini pernyataan Prof. Lorenzo tersebut, dimana beliau menambahkan bahwa perlu untuk meningkatkan hubungan bilateral Swiss-Indonesia dan memperkuat kolaborasi di bidang TIK, budaya serta pendidikan perguruan tinggi, dan vokasi. Beliau juga menyatakan bahwa di tengah perkembangan pariwisata dan industri fesyen di Indonesia, maka dibutuhkan pool talent yang mampu membuahkan inovasi dan memimpin industri nasional. Dengan demikian, Swiss yang terkenal sebagai salah satu pusat inovasi teknologi digital yang termaju di dunia serta sistem pendidikan vokasi yang baik ini dapat menjadi tujuan mahasiswa Indonesia untuk menimba ilmu dan membentuk jaringan profesional. Dalam kesempatan ini, Bapak Duta Besar juga menyampaikan dukungan yang besar untuk kegiatan USI UNESCO Summer School 2020 yang merupakan kegiatan tahunan dari UNESCO Chair in ICT for Sustainable Tourism at World Heritage sites. Kegiatan ini akan diselenggarakan di Indonesia dan bekerjasama  dengan salah satu universitas di Indonesia, Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti. Acara ini akan mengundang sekitar tiga puluh partisipan dari berbagai negara untuk melakukan kunjungan ke tiga tempat, yaitu Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Selain itu, akan diadakan diskusi dan berbagai kegiatan ilmiah terkait untuk mempelajari berbagai UNESCO Heritage Site dan jalur warisan budaya tak benda yang ada di Indonesia seperti Batik, gastronomi, dan spa. Kegiatan ini diharapkan dapat memberi manfaat dalam peningkatan perekonomian dan pengembangan pariwasata bagi destinasi yang dicakup dalam kegiatan tersebut, serta menjadi ajang untuk saling bertukar ilmu dan wawasan, baik penyelenggara maupun partisipan.

Duta Besar Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein, UNESCO Chair holder in ICT for Sutainable Tourism at World Heritage Sites, Narasumber, dan seluruh peserta yang hadir

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *