Mufti dan Wakil Ketua Ulama Sudan Hadir dalam Seminar Internasional PPI Sudan Membangun Persatuan Umat Muslim yang Moderat

  •   
  •   

Pada hari Senin, 15 Oktober 2018, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Sudan bekerja sama dengan Persatuan Pelajar Putri Indonesia (PPPI) Sudan dan juga Ikatan Mahasiswa Indonesia (IMI) sukses menyelenggarakan acara Seminar Internasional. Acara tersebut diadakan di Aula Dakwah, Islamic Center Universitas Internasional Afrika.

Dengan mengangkat tema “Strategi Muslim dalam Membangun Persatuan dan Ummat yang Wasathiyyah”, Seminar kali ini memilih pembicara utama yaitu Syeikh Dr. Abdul Haay Yusuf yang merupakan salah satu Ulama Besar di Sudan dan merupakan seorang Mufti serta Wakil Ketua Ikatan Ulama Sudan. Dalam acara ini turut hadir Syeikh Muhammad Abu Ubaidah serta ratusan mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai negara yang ikut serta meramaikan seminar ini.

Dipandu Saudara Rabbani sebagai pembawa acara, acara ini dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan oleh Saudara Sutejo. Acara pun kemudian dilanjutkan dengan sambutan sambutan dari ketua pelaksana acara yaitu Saudara Zulkifli, dilanjutkan oleh Ketua IMI yaitu Saudara Dedi Mulyana dan terakhir Ketua PPI Sudan, Muhammad Ruhiyat Haririe. Ketiga sambutan yang disampaikan. Acara pun dilanjutkan dengan pemberian penghargaan bagi para mahasiswa yang mendapatkan Predikat Mumtaz dalam semester ini, yang diserahkan langsung oleh Ibu Cut Dinawati, PF Pensosbud KBRI Khartoum dan Bapak Fahmi Umar, Staff Pensosbud KBRI Khartoum.

Sebelum memasuki acara inti, Syeikh Muhammad Abu Ubaidah menyampaikan beberapa materi pembuka kepada para hadirin yang sangat antusias mendengarkan dan mencatat isi materi. Tidak lama setelahnya, Syeikh Abdul Haay pun tiba di Aula Dakwah. Didampingi oleh Wakil Ketua PPI Sudan, Faishal Ridwan Syawie selaku moderator, beliau memulai Seminar Internasional ini.

Dalam materinya, Syeikh Abdul Hay Yusuf menyampaikan bahwa kita sebagai umat muslim dalam upaya mencapai persatuan dan menjadi ummat yang wasathiyyah, harus menghilangkan sifat taasub kelompok atau golongan serta meninggalkan sifat-sifat jahiliyah yang ada dalam diri kita. Karena Islam tidak pernah membedakan seseorang berdasarkan kelompok, golongan, ras, suku dan bangsa.

“Islam itu satu. Satu Tuhannya, satu pedomannya, satu Rasulnya, satu asalnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa muslim dan muslim lainnya ibaratkan satu tubuh. Juga Firman Allah SWT untuk saling berpegang teguh dalam Agama Allah SWT. Jadi tidak ada lagi saya Indonesia, kamu Sudan. Saya putih dan kamu hitam. Saya kaya dan kamu miskin. Kita adalah muslim yang saling bersaudara diantara kita semua.” ujarnya.

Para hadirin pun tampak semakin serius menyimak penjelasan yang dipaparkan oleh Syeikh. Setelah memberikan materi dan nasihat, beliau pun membuka sesi tanya jawab kepada para hadirin. Tampak para hadirin begitu bersemangat untuk bertanya kepada Syeikh.

Sebagai ucapan terima kasih, Ketua PPI Sudan menyerahkan piagam penghargaan beserta sarung dan peci Nasional kepada Syekh sebagai kenang-kenangan. Syeikh pun sangat terkesan dan menyampaikan bahwa beliau berjanji akan menggunakan peci tersebut saat berkesempatan berkunjung ke Indonesia.

Muhammad Ruhiyat Haririe, Ketua PPI Sudan, menyerahkan piagam penghargaan kepada Syeikh

Dalam sebuah wawancara, seorang mahasiswa asal Nigeria mengatakan acara ini sangat bagus dan menghadirkan banyak manfaat terutama kepada para mahasiswa, bahkan ia ingin acara seminar seperti ini kembali diselenggarakan ke depannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *