Kajian Strategis Komisi Kesehatan: Kemanusiaan di Atas Profesi

  •   
  •   

Mengenakan jas dokter dengan dihiasi stetoskop mungkin adalah mimpi besar bagi sebagian besar orang. Belajar siang dan malam serta mengikuti ujian yang ketat untuk merebutkan sebuah kursi dalam jurusan tersebut adalah hal yang wajar. Karena menjadi dokter ialah profesi yang sangat didambakan banyak orang. Selain itu, sebagian orang juga berpendapat bahwa menjadi dokter dapat menjamin pundi-pundi penghasilan mereka tetap terisi sepanjang hari.

Namun, apa yang terjadi jika menjadi dokter bukanlah hanya sebatas profesi saja, tetapi juga sebagai dorongan untuk turut serta dalam kegiatan kemanusiaan. Atau seorang dokter yang sama sekali tidak mencari penghasilan dari keahliannya sebagai dokter. Apakah masih ada seseorang seperti itu? Rasanya mustahil. Tapi jawabannya ialah benar ada.

Di dunia ini, masih ada sebagian dokter yang berhati mulia dan secara sukarela mengobati dan memberikan pelayanan kesehatan tanpa tarif, alias gratis. Berikut kami menyajikan beberapa dokter berhati mulia di Indonesia :

  • dr. Lie Augustinus Darmawan, PhD, FICS, Sp.B, Sp.BTKV.

Rumah Sakit Apung dr. Lie A. Darmawan adalah rumah sakit apung swasta pertama di Indonesia. Rumah sakit ini didirikan oleh dr. Lie A. Darmawan yang juga pendiri Yayasan Dokter Peduli atau doctorSHARE. Beliau lulus sebagai dokter dengan empat spesialis sekaigus yakni ahli bedah umum, ahli bedah toraks, ahli bedah jantung dan ahli bedah pembuluh darah. Dokter Lie sangat aktif mengikuti kegiatan organisasi ketika masih menjadi mahasiswa, Ia merupakan pendiri Mahasiswa Kedokteran Indonesia di Berlin (1971) dan juga pengurus Perhimpunan Dokter Indonesia di Jerman Barat (1981-1984).

Suatu hari, Dokter Lie bertemu seorang ibu dan anaknya yang berumur 9 tahun yang sedang sakit di salah satu pulau di Indonesia. Mereka menempuh perjalanan laut selama 3 hari dan 2 malam hanya untuk menerima pertolongan medis dari Dokter Lie. Beberapa hari setelah Dokter Lie menolong anak itu, ia selalu bermimpi tentang peristiwa tersebut. Hingga beiau memutuskan untuk mendirikan rumah sakit apung swasta pertama.  Dokter Lie juga selalu mengingat perkataan ibundanya yang berkata “…Lie, kalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang kecil atau orang miskin. Mungkin mereka akan membayar kamu berapapun tetapi diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak punya uang untuk membeli beras”

Rumah sakit apung ini memiliki bermacam fasilitas seperti ruang operasi, ruang perawatan, X-ray, USG, dan EKG. Rumah sakit apung ini juga telah melakukan banyak pengobatan dan pembedahan di berbagai penjuru nusantara.

 

  • Prof. dr. Aznan Lelo Ph.D, Sp.FK.

Dokter Aznan Lelo ialah seorang guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Dibalik posisinya sebagai guru besar, beliau juga membuka kegiatan praktik di kediamannya. Namun, beliau tidak memasang papan nama dan tidak memasang tarif. Pasien membayar jasa konsultasi dan obat racikannya sesuka hati. Resepnya untuk obat apotek pun terjangkau.

Dokter Aznan menanamkan prinsip di dalam dirinya untuk tidak terlalu bernafsu memikirkan harta duniawi. Beliau yakin bahwa rezeki itu berasal dari Allah, dan Allah telah mempersiapkan rezeki pada dirinya. Beliau menanamkan prinsip tersebut sejak kecil hingga dewasa dan menjadi sebuah keyakinan yang kuat.

Dokter Aznan membuka jam praktiknya dimulai dari pukul 17.00 WIB. Tempat praktiknya selalu dipadati oleh pasien. Kadangkala ia harus membuka praktik hingga dini hari akibat dari banyaknya pasien yang datang. Di meja registrasi di ujung garasi itu disediakan amplop-amplop putih bergaris putih biru-merah. Pasien yang sudah sering datang pasti sudah tahu cara dan jumlah pengisian amplop untuk tarif “ikhlas hati” itu. Amplop yang sudah diisi dibawa masuk ke ruang praktik saat diperiksa, dan seusai pemeriksaan ditinggal di meja Dokter Aznan. Bagi yang belum tahu dan menanyakan biaya, ada kalanya kena semprot kegusaran dan ketersinggungan Pak Dokter.

Kadang Dokter Aznan memberikan obat hasil racikannya sendiri, kadang pula menuliskan resep. Obat-obat yang dipilihnya pun generik, bisa diperoleh di banyak apotek dengan harga terjangkau.

 

  • dr. Michael Leksodimulyo, MBA, M.Kes.

Dokter Michael Leksodimulyo dijuluki sebagai dokter ‘spesialis gelandangan’. Dokter lulusan Universitas Sam Ratulangi ini tidak memilih bekerja di rumah sakit swasta atau membuka praktik mahal sendiri. Melainkan berkeliling mencari pasien-pasien miskin.

Setiap harinya, dia mengunjungi berbagai daerah yang dihuni masyarakat kurang mampu untuk memberikan pengobatan gratis. Karena pengabdian yang ia lakukan tersebut, ia dijuluki seperti itu. Beliau melakukan kegiatan ini bersama dengan Yayasan Pondok Kasih Surabaya.

Jalan hidup yang ia pilih ini sudah ia tentukan ketika masih duduk di bangku sekolah. Beliau setiap hari melihat banyak sekali gelandangan dan ingin membantu meringankan hidup mereka. Ia langsung mematri hatinya untuk mengambil kuliah kedokteran agar suatu saat bisa melakukan sesuatu untuk membantu para gelandangan.

Sebelum beliau terjun langsung mengabdi ke masyarakat, ia memiliki jabatan di bagian jajaran direksi di salah satu rumah sakit. Namun, nikmat duniawi yang berlimpah tersebut beliau tinggalkan demi mengabdi untuk kemanusiaan. Ia juga mengajak sang istri dan anak-anaknya untuk ikut membantu mereka yang kekurangan.

Dokter Michael saat melayani pasiennya, tidak pernah menggunakan masker penutup hidung maupun sarung tangan. Kecuali untuk perawatan luka. Sikap Dokter Michael itu didasari keinginan menghindarkan pasien-pasiennya merasa ditolak. Meski dia pun menyadari keputusannya berisiko sangat besar. Karena bukan hal yang mustahil penyakit pasien menular kepadanya.

Selain memberikan pelayanan kesehatan, Dokter Michael juga membekali pasiennya berbagai keterampilan dan pengetahuan tentang nutrisi. Juga beliau melatih spiritual mereka dengan mengajari cara berbagi. Caranya dengan meletakkan kotak amal di tempat pengobatannya. Karena sehat menurut Dokter Michael bukan sekadar menyangkut fisik dan mental, melainkan juga spiritual. Bila salah satunya belum baik, berarti seseorang bisa dibilang kurang sehat.

 

Masih banyak para dokter mulia yang dimana kegiatan mereka lakukan demi kemanusiaan belum kita dengar. Namun, mereka melakukan kegiatan kemanusiaan tersebut bukan untuk dipamerkan kepada khalayak, tetapi mereka melakukannya dengan seikhlas hati mereka. Melepas hal duniawi untuk kemanusiaan merupakan hal yang berat untuk dikerjakan. Tetapi, ketika melihat mereka yang membutuhkan itu tersenyum, kemudian bisa kembali hidup normal seperti biasa, dan tidak mengalami kesulitan dan kesakitan yang telah dilewati, merupakan suautu kepuasan dan kenikmatan hakiki yang dirasakan oleh manusia.

Dunia ini masih membutuhkan para relawan kemanusiaan baru untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kita yang khususnya masih sebagai pelajar, tanamkanlah sifat kemanusiaan dalam hati kita. Apapun itu bidang yang kita tekuni, jangan sampai lupa bahwa ada orang-orang yang belum beruntung dan kita yang berkemampuan harus bisa membantu mereka untuk bangkit menuju ke depan yang lebih baik.

http://www.doctorshare.org/en/index.php/news/2015/04/16/18/short-bio-of-doctorshare-039-s-founder-dr-lie-dharmawan.html

http://www.wajibbaca.com/2016/03/aznan-lelo-seorang-dokter-yang-tidak.html

http://wanitaindonesia.co.id/index.php?view=viewarticle&id=17100113

http://www.tribunnews.com/nasional/2017/11/03/kisah-dokter-gelandangan-rela-setiap-hari-blusukan-ke-kawasan-kumuh-ini-tujuannya?page=all

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *