Gerakan Berporos Pengetahuan: Kajian dan Gerakan dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia

  •   
  •   

Sejak dibentuk satu dekade silam, PPI Dunia telah berkembang menjadi sebuah organisasi yang diperhitungkan, tidak hanya di antara mahasiswa Indonesia di luar negeri, tetapi juga masyarakat diaspora Indonesia dan masyarakat internasional. Saat ini, 56 PPI Negara sudah bergabung di PPI Dunia, menjadikan PPI Dunia sebagai salah satu wadah terbesar perkumpulan mahasiswa Indonesia secara internasional.

Perjalanan panjang ini kemudian mendorong pentingnya re-orientasi gerakan PPI Dunia ke depannya. Sebagai sayap penelitian dan pengkajian di PPI Dunia, Pusat Kajian & Gerakan 2018/2019 mengusung tema sentral “Poros Pengetahuan Indonesia”. Visi ini sejalan dengan tagline “kolaborasi-kontribusi” yang menjadi acuan gerak PPI Dunia untuk tahun kepengurusan 2018/2019. Gerakan Berporos Pengetahuan melihat “pengetahuan” sebagai bagian tak terpisahkan dari gerakan dan melihat “gerakan” sebagai konsekuensi dari pengetahuan yang diperoleh para pelajar Indonesia di luar negeri. Keduanya saling terkait.

 

Mengapa Gerakan Berporos Pengetahuan?

Tantangan yang ada saat ini dapat dikatakan kompleks. Revolusi digital membuat arus informasi semakin gencar, melalui internet-of-things (IoT) dan gencarnya penetrasi media di tengah masyarakat. Di sisi lain, ketimpangan ekonomi dan pendidikan juga semakin besar. Pendidikan formal kita saat ini, kendati semakin lebih baik, tidak sepenuhnya bisa memberikan akses pada pengetahuan yang semakin hari semakin dinamis.

Tak ada gerakan sosial yang tidak dibangun di atas pengetahuan. Begitu juga dengan gerakan pelajar. Pelajar Indonesia di dalam dan luar negeri punya satu pijakan utama: akses terhadap pengetahuan dan kemampuan untuk ‘membaca’ pengetahuan itu. Kelebihan ini perlu dimanifestasikan lebih dalam berbagai aktivitas kolektif pelajar. Bagi Perhimpunan  Pelajar Indonesia, hal ini berarti menjadikan pengetahuan yang didapat di kampus sebagai dasar dalam “berkontribusi” dan merespons perkembangan terkini, baik di tanah air maupun di dunia.

 

Dua Model Gerakan Pengetahuan

Di titik ini, gerakan pengetahuan menjadi penting. Saya akan memulai dengan mendefinisikan apa yang saya maksud dengan ‘pengetahuan’ – dan bagaimana pengetahuan bisa dihubungkan dengan gerakan. Pengetahuan sendiri bisa didefinisikan dalam dua jenis: pengetahuan ‘praktis’ dan pengetahuan ‘teoretis’. Kedua jenis pengetahuan ini membentuk dua bangunan gerakan yang bisa dipertimbangkan oleh gerakan pelajar di Indonesia.

 

Gerakan Pengetahuan 1.0

Pertama, pengetahuan yang sifatnya ‘praktis’ atau ‘eksplisit’. Pengetahuan ini  digunakan untuk memecahkan kehidupan sehari-hari. Sumbernya bisa dari pengalaman, pembicaraan dengan orang lain, maupun intuisi ketika berhadapan dengan alam. Ini fondasi pengetahuan pertama, yang perlu dimiliki oleh gerakan pelajar pelajar dalam bentuk tradisi dan aktivitas keseharian individual.

Bagi gerakan pelajar, pengetahuan jenis ini sifatnya mendasar dan harus ditradisikan dalam keseharian agar bisa menghasilkan anggota-anggota yang terdidik. Secara lebih spesifik, bagi gerakan pelajar, ada tiga “poros” penting yang seharusnya menjadi dasar bagi gerakan pelajar untuk membangun karakter pengetahuan pada dirinya, yaitu: baca – tulis – diskusi. Setiap gerakan harus membangun ‘tradisi’ baca, untuk memastikan ia memiliki pemahaman yang utuh atas setiap aktivitas yang ia lakukan. Ia juga harus punya kemampuan menulis, agar hasil bacaan dan pemahamannya menjadi fokus dan bisa dibaca semua orang. Terakhir, ia juga perlu menyampaikan pemikirannya kepada masyarakat luas, contohnya melalui diskusi-diskusi yang terarah.

Ketiga hal ini mendasar bagi gerakan gerakan pelajar karena ia membangun karakter pengetahuan secara kolektif. Selain itu, ia juga membangun identitas bagi gerakan pelajar itu sendiri. Gerakan pelajar Indonesia, secara mendasar, dibangun di atas ‘trilogi’ gerakan ini

 

Gerakan Pengetahuan 2.0

Namun demikian, seiring dengan perkembangan zaman maka jenis pengetahuan ini berkembang dan semakin kompleks. Salah satunya dikarenakan semakin banyaknya penemuan dan tantangan masyarakat semakin besar. Karena itulah dibutuhkan jenis pengetahuan kedua, yaitu pengetahuan yang bersifat lebih terstruktur, dipelajari dalam disiplin tertentu, dan bersifat ‘teoretis’. Jenis pengetahuan ini biasanya lebih kompleks karena mengharuskan orang-orang yang mempelajarinya untuk membaca banyak hal, mempelajari disiplin ilmu dan membangun keahlian yang spesifik pada bidang keilmuan tertentu, serta membuka cara pandang baru tentang realitas sosial. Ini adalah jenis pengetahuan yang biasa dipelajari di kampus, khususnya dikembangkan pada level pascasarjana.

Bagi gerakan pelajar, terutama gerakan pelajar Indonesia yang lebih serius di luar negeri (dalam hal ini, “Perhimpunan Pelajar Indonesia” di luar negeri), model gerakan pengetahuan yang pertama tidak cukup. Ia juga harus dihubungkan dengan model yang kedua, yang berbasis pada tiga aspek lain: analisis – publikasi –diseminasi. Gerakan ini bersifat kolektif dan terorganisir dengan baik melalui bentuk-bentuk Perhimpunan.

Di titik ini, gerakan pelajar mesti mendasarkan gerakannya pada kerangka analisis yang kuat. Hasilnya juga dituntut untuk terpublikasi secara ilmiah dan ditopang oleh saringan editorial yang kuat. Terakhir, gerakan pelajar perlu untuk memiliki platform sebagai wadah untuk mendiskusikan berbagai hasil analisis yang telah dilakukan kepada masyarakat luas. Ketiga hal ini penting untuk memastikan gerakan pelajar Indonesia, di dalam atau di luar negeri, mumpuni dalam membaca peristiwa sosial ataupun perubahan-perubahan lingkungan yang semakin kompleks.

 

Kajian dan Gerakan dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia

Kajian dan gerakan adalah dua sisi mata uang. Setiap statement yang dibuat oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia harus dibangun di atas nalar, dialog, dan diskusi yang konstruktif. Setiap aksi sosial yang dibuat oleh pelajar Indonesia –apapun bentuknya— mesti didahului oleh rasionalisasi dan analisis yang mendalam dan begitu juga sebaliknya. Kajian menubuh dalam aktivitas gerakan dan respons PPI Dunia terhadap isu-isu nasional dan internasional.

Untuk menghubungkan dua hal tersebut Gerakan yang coba dibangun oleh PPI Dunia 2018/2019, melalui Pusat Kajian dan Gerakan (PUSGERAK), mencoba untuk memadukan dua jenis gerakan pengetahuan dengan event-event sosial yang sifatnya riil. Di satu sisi, Pusgerak mencoba mentradisikan baca – tulis – diskusi untuk memahami dan mengurai peliknya masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia dan dunia. Di sisi lain, Pusgerak mencoba untuk menyinergikan semua komponen di Perhimpunan Pelajar Indonesia untuk membangun kerangka analisis yang tajam, publikasi yang kritis dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dan diseminasi hasil pikiran secara produktif. Untuk menerjemahkan tiga poros gerakan ini ke dalam program kerja, Pusat Kajian dan Gerakan 2018/2019 memiliki tiga prioritas utama, yaitu :

 

Pertama, kami berupaya untuk membangun tradisi dan budaya kajian –berpijak pada dua model gerakan di atas— baik di tubuh PPI Dunia, maupun dalam kerja-kerja sinergis bersama PPI Negara.

Kedua, kami juga berkeinginan untuk membangun struktur kajian yang efektif dalam menghubungkan hasil kajian, baik yang dilakukan oleh Komisi di PPI Dunia maupun PPI Negara, dengan proses pengambilan keputusan di PPI Dunia dan PPI Negara.

Ketiga, kami berikhtiar untuk menjadikan kajian sebagai instrumen gerakan yang efektif di PPI Dunia. Tiga prioritas utama ini selaras dengan tugas pokok dan fungsi yang dibebankan oleh Presidium kepada Pusgerak, yang juga menjadi amanat dari Simposium Internasional PPI Dunia di Moskow tahun 2018.

 

Melalui tiga prioritas ini, gerakan yang dibangun oleh PPI Dunia ditopang, dan tak terpisahkan, oleh tiga komponen utama: Komisi, PPI Negara, dan struktur organisasi Pusgerak itu sendiri. Secara organisasional, Pusgerak ditopang oleh beberapa anggota yang memiliki kompetensi riset dan akademik, dengan jenjang pendidikan pascasarjana. Pusgerak juga berkoordinasi dengan lima Komisi yang bertugas membangun gerakan secara sektoral, yaitu bidang Pendidikan, Energi, Ekonomi, Sosial Budaya, dan Kesehatan. Selain itu, Pusgerak juga berkoordinasi, baik secara formal maupun informal, dengan struktur kajian di PPI masing-masing negara untuk menghubungkan semua aktivitas kajian, penelitian, dan pengembangan keilmuan di masing-masing negara agar selaras satu sama lain, secara internasional. Kami berharap visi sederhana ini memandu aktivitas kajian dan gerakan PPI Dunia selama setahun ke depan, dan bisa meletakkan fondasi awal bagi gerakan Perhimpunan Pelajar Indonesia di masa depan. Salam Perhimpunan!

 

tulisan ini ditulis oleh : Ahmad Rizky M. Umar – Kepala Pusat Kajian & Gerakan PPI Dunia 2018/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *