Menyambut Gelombang Baru “Digital Economy” di Tanah Air

  •   
  •   

Digital Economy
Sumber: https://s26913.pcdn.co/wp-content/uploads/2017/08/AdobeStock_135873223-1024×687.jpeg

Digital Economy, tema yang sedang hangat  dalam diskusi para peneliti, netizen, hingga para mahasiswa lintas bidang. Apa sebenarnya Digital Economy dan dampaknya bagi pembangunan Indonesia? Mengapa model ekonomi zaman millennial ini digadang-gandang akan mengubah model ekonomi konvensional yang sudah lama mengakar kuat ?

Don Tapscott’s (1995) menerbitkan buku best-seller berjudul The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence. Tulisan itu mengungkap istilah Digital Economy, model ekonomi ‘baru’ yang sarat dengan teknologi informasi. Sekitar 10 tahun setelah itu,  penetrasi teknologi digital dan internet semakin luas dan berimplikasi nyata di beberapa bidang kehidupan. Tidak ketinggalan, negara yang berhasil memanfaatkan kekuatan ekonomi  internet ini berhasil meraup nilai pertumbuhan fantastis.  Ambil contoh, tahun 2018 India telah mencapai nilai US$ 1 Trilliun. Bahkan China sudah melampaui nilai US$ 3,8  trilliun. Di kedua negara ini, ekonomi digital menjadi mesin pertumbuhan dengan hasil yang mengagumkan.

Konsep ‘New Economy’ ini sejatinya memiliki beberapa komponen. Ekonom Thomas Mesenbourg (2001) menjelaskan elemen pentingnya mulai dari infrastruktur perangkat keras dan lunak, model layanan hingga cara transaksi baru dalam ekosistemnya. Realitas saat ini, penyedia layanan di dalam ekosistem digital yang sedang popular tentu saja Financial Technology (Fintech).

Perkembangan fintech telah menarik perhatian besar khususnya dari kalangan perbankan dan industri finansial konvensional. Fintech diprediksi akan mendisrupsi model industri dan bisnis bank konvensional dalam 10 tahun mendatang. Perkembangan fintech yang massif akan mengakibatkan migrasi besar bagi dunia perbankan dan institusi keuangan tradisional. Tidak ingin ketinggalan arus gelombang ‘baru’, perusahaan keuangan sekelas Citi dan JP Morgan Chase telah menginvestasikan milliaran dolar ke dalam startup fintech bernama Clarity Money and Dave. Saya memprediksi fintech akan menjadi teknologi ‘driver’ awal ekonomi berbasis internet ini.

Bahkan suntikan modal ke dalam perusahaan fintech secara global pada tahun 2018 ini sudah mencapai angka USD 57.9 Milliar. Funding tersebut banyak digunakan untuk mengembangkan layanan bidang payments dan lending. Selain itu, investasi dalam kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan analisis data (data analysis) semakin mengundang minat investor.

Menurut pandangan saya, di masa depan, data akan menjadi “harta” yang sangat penting dalam industri fintech pada khususnya. Analisis data yang akurat dan cepat dengan teknologi kecerdasan buatan akan menentukan persaingan dan kesuksesan industri ini dalam era internet economy. DI Indonesia sendiri, perusahan seperti Go-Pay, Modalku hingga UangTeman, rintisan startup dipercaya menjadi infrastruktur awal dalam pengembangan ekonomi digital dalam negeri.

Ekonomi Digital yang terbuka

Di dalam ekonomi digital, layanan Fintech sejatinya sangat dekat dengan konsep open banking, artificial intelligence and blockchain. Ini akan membawa potensi perubahan yang besar dalam industri keuangan tradisional yang  terkenal tertutup dan tersentral. Bagaimana dengan Indonesia, siapkah para stakeholders untuk menyambut era digital ekonomi yang makin nyata hari ini ?

Dengan model ekonomi internet berbasis Artificial  Intelligence (AI), Open Banking dan Blockchain. Digitalisasi ekonomi menjadi sangat terbuka dan cepat bagi banyak kalangan. AI sebagai teknologi yang mengkoneksikan berbagai mesin secara otomatis telah mengundang perhatian besar akhir-akhir ini. Pada tahun 2018, total investasi dalam bidang AI mencapai USD 19.1 milliar, bukti besarnya perhatian dalam pengembangan teknologi ini. Saat ini, perbankan dan institusi keuangan gencar berkolaborasi dengan perusahaan ‘digital’ dalam upaya migrasi teknologi berbasis AI.

Nah, dengan munculnya fenomena AI dan blockchain, model bisnis perbankan konvensional harus siap mengalami disrupsi. Sejak lama perbankan umum memiliki identitas closed banking dengan akses data terbatas. Di dalam ekonomi digital, ada konsep yang disebut open banking dimana terbukanya akses data yang luas bagi pihak nasabah atau pihak ketiga secara realtime dengan standar terbuka. Penerapan open banking sudah mulai dilakukan dengan hadirnya interface aplikasi pihak ketiga telah digunakan secara massif dan efisien seperti wechat pay dan hellopay.

Berbicara masalah open standard dan transparansi, tentu kita pernah mendengar Bitcoin, bukan? sebuah fenomena cryptocurrency yang mengundang banyak perhatian netizen. Pada prinsipnya, Bitcoin ialah fenomena ekonomi digital yang menjadi fase dalam pengembangan industri finansial. Blockchain, teknologi yang berada dibalik Bitcoin, menjadi solusi baru dalam pengembangan industri Fintech dan menjadi penggerak ekonomi digital masa depan. Di Indonesia sendiri, pemerintah masih wait and see dengan fenomena blockchain ini.

Kunci Sukses Ekonomi Digital di Indonesia.

Pada tahun 2025, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai US$ 150 miliar atau sekitar Rp2.040 triliun. Untuk mencapai nilai ekonomi yang besar tersebut,  penting bagi Indonesia untuk menerapan teknologi digital secara efektif. Ekosistem bisnis ini memerlukan pengambilan keputusan yang lebih smart berbasis kecerdasan buatan, melalui model yang lebih simple dan melalui kecepatan transaksi berbasis blockchain. Semuanya akan menciptakan konektifitas realtime dalam ekosistem ekonomi berbasis internet ini.

Jika melihat dari sisi penanaman modal, menurut BKPM tahun 2017 investasi dalam bidang ekonomi digital telah encapai US$ 4.8 milliar. Nilai yang cukup besar bagi pelaku industri untuk segera mengambil langkah cepat dalam industri digital seperti Fintech, Kecerdasan Buatan, Analisis Data hingga Blockchain. Selain pengembangan teknologi, besarnya investasi harus digunakan untuk penguatan sumber daya manusia sebagai komponen penting dalam bangunan Ekonomi Digital di Tanah Air.

Selain melihat dari sisi inovasi teknologi dan pelaku industri, kesuksesan ekonomi digital ini tentu tidak lepas dari keseriusan Pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Untuk menjalankan roda ekonomi digital, Pemerintah mesti mengambil langkah-langkah agresif untuk membuat ekosistem ‘baru’ ini benar-benar menjadi engine pertumbuhan era digital. Inilah momen yang tepat untuk mengembangkan ekonomi digital di tengah penetrasi pengguna internet yang sudah melewati 140 Juta pengguna di seantero Nusantara.

McKinsey Global Institute menyebut  Indonesia memiliki sekitar 30 juta online shoppers pada periode 2017, Ini layaknya gelombang baru pertumbuhan bisnis online bidang digital bagi Indonesia. Agar bisa berhasil, kolaborasi antar stakeholders yakni Pemerintah, Pelaku Industri digital, dan Pejabat Perbankan mesti harus positif. Ini menjadi parameter kesuksesan sebuah negara dalam ekosistem the new economy ini.

World Economic Forum tahun 2015 pernah menyebut ekonomi digital adalah kunci pertumbuhan bagi Indonesia. Ini harus disambut sebagai signal positif bagi pelaku Industri dan Pemerintah sebagai katalis utama untuk pertumbuhan industri era baru. SIngkatnya, konsep Fintech, Smart City, Intelligence Commerce hingga E-Tax hanya menjadi khayalan belaka jika tidak ada keseriusan dari para stakeholders dalam negeri. Kabar baiknya, Pemerintah saat ini tampaknya sedang giat dalam mempersiapkan infrastruktur ekonomi digital di Tanah  Air, wujud lain ialah melalui perluasan investasi dan kemudahan bisnis bagi industri yang bergerak dalam bisnis digital. Akhir kata, ‘the new wave’ dari sebuah perubahan era yakni ekonomi digital telah tiba.

Penulis
Putra Wanda
Ph.D. Candidate in Cybernetic, HUST, China
Komisi Ekonomi PPI Dunia

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *