Indonesian Scholar Scientific Summit 2018: Kontribusi Pelajar Indonesia di Taiwan dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0

  •   
  •   

Perkembangan pesat teknologi informasi, khususnya teknologi otomasi, artificial intelligence (AI), robotic, teknologi sensor, maupun Internet of Things (IoT) mendorong perubahan iklim industri menjadi semakin kompetitif dan dikenal sebagai revolusi industri 4.0. Kondisi tersebut menciptakan dampak positif maupun negatif. Dampak positif berupa terciptanya lapangan pekerjaan dan keterampilan baru,  namun di sisi lain menimbulkan  dampak negatif berupa hilangnya peluang pekerjaan tertentu. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut meningkatkan kapasitasnya sehingga mampu beradaptasi dan menjadi aktor dalam revolusi industri 4.0 serta pada akhirnya dapat mengurangi jumlah pengangguran terdidik.

Menjawab tantangan tersebut, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Taiwan menggelar Indonesian   Scholar   Scientific   Summit   (I3S)   yang   bertajuk   “Membangun   Techno-creative Entrepreneur Ecosystem di Era Industri 4.0” yang diselenggarakan pada Sabtu, 17 November 2018. Bertempat di Conference Hall, College of Law, Tunghai University, kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 200 mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Taiwan yang tersebar dari wilayah selatan sampai dengan utara, sebagaimana yang disampaikan oleh Adi Kusmayadi, Ketua Panitia I3S  2018 yang juga mahasiswa program  master  pada  Department of Chemical and Materials Engineering, Tung Hai University. Tingginya antusias mahasiswa Indonesia yang datang dari berbagai universitas di seluruh penjuru Taiwan tentunya tak lepas dari dukungan penuh Tung Hai University sebagai tuan rumah penyelenggara, khususnya Prof. Chen-Jui Huang selaku kepala Taiwan Education Center Indonesia sekaligus wakil direktur Office of International Relations, Tunghai University.

Keynote speech pertama disampaikan oleh Prof. Chin-Yin Huang, Chairman Department of Industrial Engineering and Enterprise Information, Tunghai University yang terangkum dalam presentasi berjudul “What can Indonesia get from Industry 4.0”. Prof. Huang menyampaikan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup melimpah dan itu merupakan sebuah potensi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan produksi industri. Selain itu, Prof. Huang menyampaikan berbagai pemanfaatan yang dapat dimaksimalkan dalam perkembangan revolusi industri 4.0 ini. Selanjutnya, sesi keynote speech kedua disampaikan oleh Dr. Warsito Purwo Taruno, M. Eng, CEO CTECH Labs EdWar Technology dengan materi berjudul “Toward Indonesian Knowledge Based Economy in the Era of Industry 4.0”. Dr. Warsito berbagi strategi inovasi dan pengalaman membangun perusahaan teknologi di Indonesia yang digunakannya sebagai salah satu upaya untuk mendongkrak daya saing industri nasional. Tak kalah menariknya dengan pembicara sebelumnya, keynote speaker ketiga Eka Sastra, M.Si, yang merupakan anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) sekaligus Bendahara Umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) memberikan  gambaran  tentang  peranan  pengusaha  muda dalam  menggerakkan  perekonomian nasional yang dikemas dalam materi berjudul “The Role of HIPMI for Growing the Enterpreneurial Techno-Innovation in Indonesia”. Di akhir sesinya, aparatur pemerintahan tersebut memotivasi peserta untuk mempelajari penerapan teknologi di Taiwan dan membangun jejaring internasional dalam rangka membangun dan mengembangkan bisnis sebagai sumbangsih terhadap tanah air pada masa mendatang.

Rangkaian simposium telah selesai dengan tersampaikannya tiga materi dari para ahli di bidangnya, namun kegiatan I3S masih belum berakhir. Kegiatan I3S dilanjukan dengan sesi khusus berupa diskusi grup tentang perkembangan ilmu dan teknologi sebagai upaya untuk memberikan kontribusi dalam menjawab tantangan revolusi industi 4.0. Kegiatan diskusi grup ini menjadi ajang pencarian inovasi yang mungkin bisa diterapkan untuk menjadi solusi. Sebanyak 20 makalah ilmiah dipresentasikan dan enam reviewer disiapkan untuk menilai potensinya. Karya terbaik dipilih dengan penilaian berupa keterkaitan topik dengan tema, cara penyampaian dan hasil dari karya ilmiah. Sehingga terpilihlah empat karya ilmiah terbaik yang topiknya berhubungan dengan bidang rancang bangun, kesehatan, teknologi dan pola tingkah manusia terhadap sebuah fenomena.

Di akhir acara, Sutarsis, mahasiswa Ph.D. di Material Sciences and Engineering, National Central University selaku Ketua PPI Taiwan berpendapat bahwa kegiatan ini dapat menjadi salah satu agenda rutin tahunan PPI Taiwan yang berfungsi sebagai ajang komunikasi dan wahana bertukar gagasan ilmiah dalam rangka mengembangkan keahlian dan keilmuan lintas disiplin, dari pemuda untuk Indonesia.

Indonesian Scholars, Let’s be a part of Industrial Revolution 4.0

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *