Menelusuri Jejak Peninggalan Perang Dunia I di Dinant, Belgia

  •   
  •   

Bagi sebagian besar pelancong, Belgia selalu identik dengan kue wafel (waffle) dan Atomium yang berada di Brussels. Tidak dapat dipungkiri, keduanya memang merupakan ikon negara Belgia. Sebagai ibukota negara, Brussels menjadi destinasi utama para turis yang melancong ke negara Belgia. Namun, jarang terdengar oleh para wisatawan bahwa sekitar 90 kilometer dari ibukota Belgia tersebut terdapat sebuah kota cantik yang juga wajib untuk ditengok,  Dinant.

Citadelle de Dinant and cathedral (dok. pribadi)

Dinant adalah sebuah kota klasik yang terletak di wilayah Walonia, yaitu wilayah di Belgia yang sebagian besar masyarakatnya menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Berada di kawasan lembah Ardennes dan merupakan titik temu antara sungai Meuse dan sungai Lesse, sayang rasanya jika kota ini luput dari daftar destinasi wisata kita selama berkunjung di Belgia. Kota Dinant ini dapat dicapai dengan menggunakan kereta dari stasiun Brussels Central dengan waktu tempuh sekitar kurang dari dua jam.

Salah satu destinasi yang wajib dikunjungi saat berada di Dinant adalah Citadelle de Dinant (Citadel). Citadelle de Dinant merupakan benteng yang terletak diatas tebing, dibangun pada abad ke-11 dengan tujuan untuk memantau dan melindungi lembah Meuse. Dari benteng Citadel ini pula kita dapat menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Dalam sejarahnya, Citadel pernah dihancurkan oleh para tentara Perancis pada tahun 1703, namun akhirnya dibangun kembali pada tahun 1821. Saat ini, benteng tersebut juga merangkap sebagai museum yang menceritakan kelamnya kota ini saat terjadinya Perang Dunia I. Di dalam museum terdapat area yang didedikasikan secara khusus untuk menceritakan detail kondisi kota Dinant pada tahun 1914. Kota Dinant merupakan saksi sengitnya pertempuran antara pasukan Jerman dan pasukan Perancis kala itu, dimana salah satunya adalah pembantaian massal terhadap ratusan masyarakat Belgia di kawasan Dinant oleh pasukan Jerman. Peristiwa kelam tersebut meninggalkan luka yang mendalam dalam perjalanan sejarah Belgia. Peristiwa bersejarah tersebut dikenal dengan Pertempuran Dinant atau “Battle of Dinant” yang juga termasuk dalam rangkaian fenomena “Rape of Belgium” pada masa Perang Dunia I.

Pemandangan dari Citadel (dok. pribadi)

Terletak hanya 750 meter dari stasiun kereta api, perjalanan menuju Citadel akan lebih menyenangkan jika ditempuh dengan berjalan kaki. Selain jaraknya yang dekat, kemegahan panorama yang disuguhkan selama kita bejalan, seperti perpaduan gereja Collegiale Notre-Dame de Dinant dan tebing kota Dinant, akan sangat sayang jika dilewatkan. Dalam perjalanan tersebut, kita akan disambut oleh jembatan Pont Charles de Gaulle. Jembatan ini menghubungkan dua bagian kota Dinant yang terpisah oleh sungai Meuse. Disinilah salah satu titik lokasi terbaik jika para turis ingin mengambil foto. Yang lebih menarik, sepanjang jembatan tersebut dihiasi replika alat musik saksofon yang berwarna-warni dan berukuran besar.

Untuk dapat mengunjungi Citadelle de Dinant yang terletak di atas tebing, tersedia cable car yang dapat diperoleh dengan membeli tiket seharga € 8.50 untuk orang dewasa (€ 6.50 bagi anak-anak berusia 4-12 tahun). Tiket tersebut sudah termasuk dengan tiket masuk menuju Citadel. Selain tiket untuk individu, pengelola Citadel juga menyediakan dua macam tiket lainnya, yaitu tiket 3-in-1 dan tiket grup. Tiket 3-in-1, seharga € 14.00 bagi orang dewasa, mencangkup fasilitas cable car, biaya masuk ke Citadel, dan boat trip – wisata menggunakan kapal menyusuri lembah Meuse. Tiket grup, seharga €7 per orang, diperuntukan bagi para turis yang datang secara berkelompok dengan jumlah minimal 20 orang.

Di dalam Museum Adolf Sax (dok. pribadi)

Selain Citadelle de Dinant, tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi rumah Adolf Sax. Ya, kota ini merupakan kampung halaman dari sang penemu alat musik saksofon tersebut. Itulah sebabnya keitka kita melewati jembatan Pont Charles de Gaulle, kita akan menjumpai banyak replika saksofon. Kini rumah Adolf Sax tersebut telah diabadikan sebagai museum. Terletak sekitar 200 meter dari gereja Collegiale Notre-Dame de Dinant, museum yang berada dibawah Citadel ini dapat dikunjungi secara cuma-Cuma.

Di balik kecantikan kotanya, Dinant menyimpan cerita kelam yang membuat siapapun akan bersyukur hidup di masa kini. Kota Dinant sangat cocok bagi kalian yang menyukai panorama alam dan wisata sejarah. Jadi pastikan kota Dinant tidak luput dari daftar wisata kalian saat mengunjungi Belgia ya!

 

Tulisan ini ditulis oleh Fathyah Hanum Pamungkaningtyas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *