Sejauh Apa Perhimpunan Pelajar Indonesia Bisa Melangkah?

  •   
  •   

Sumber : https://cdn.yukepo.com/content-images/main-images/2017/09/28/main_image_12098.jpg

Perhimpunan Pelajar ditanam bibitnya sejak sekitar awal abad 20 oleh Mohammad Hatta. Tujuannya satu: menghidupkan diskursus dan pergerakan untuk kemerdekaan Indonesia. Narasi dan diskusi soal penentangan penjajahan di muka bumi, nilai-nilai kesetaraan, hak dan kemanusiaan, serta strategi agar kata ‘Merdeka’ berhak disandang oleh Indonesia saat itu terus diwacanakan. Alhasil, kurang dari setengah abad kemudian, masih dalam generasi yang sama, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya yang salah satunya diwakili oleh sang pelopor, Mohammad Hatta.

Zaman terus berkembang. Jumlah pelajar Indonesia yang mendapatkan didikan serta referensi kebudayaan dan politik di luar bumi pertiwi pun kian bertambah. Diaspora Intelektual Indonesia kian menyebar di berbagai sektor dan negara. Bahkan mungkin, hampir di setiap kota besar di dunia setidaknya terdapat segelintir orang Indonesia yang belajar maupun berkarir. Hidup dalam tatanan masyarakat internasional. Seiring persebarannya yang meluas, maka kelompok-kelompok Indonesia pun mulai bermunculan. Baik berbentuk kelompok informal, komunitas dengan minat atau bidang tertentu hingga Perhimpunan Pelajar Indonesia yang digarap dengan cukup serius.

Saat ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) memiliki radius yang beragam: dunia, negara, kota, bahkan hingga level universitas. Tentu, ini bukanlah tingkatan yang menunjukkan bahwa satu bentuk PPI berada lebih tinggi posisinya daripada PPI lain. Misal, PPI Dunia tak bisa memberikan komando begitu saja kepada PPI sebuah negara, apalagi di sebuah kota, seberapa besar pun jumlahnya. Walau bagaimanapun, perbedaan cakupan ini bersifat koordinasi yang selayaknya saling dukung satu dengan lainnya.

Memang susah jika ditanya berapa tepatnya jumlah pelajar Indonesia, khususnya mahasiswa, yang tengah melanjutkan studi di luar Republik Indonesia. Pasalnya, tak semua orang berkenan untuk mengisi data di KBRI, maupun bergabung bersama PPI. Yang jelas, jumlahnya sangat banyak dan tak bisa dinafikkan bahwa ada potensi besar darinya yang belum digugah secara optimal.

Untuk memahami hal ini, mari mulai dengan membahas pembagian positioning dari tiap spektrum PPI. Di universitas, atau yang biasa disebut Indonesian society (indosoc) fokus besarnya berada di ranah penjaringan anggota karena relatif dekat dengan kehidupan keseharian pelajar. Hal ini pun bisa relatif mudah dilakukan secara bekerjasama dengan kampus dalam hal mengetahui jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di universitas tersebut. Selangkah lebih jauh, hal lain seperti peminjaman ruang kampus hingga kegiatan atau kerjasama dengan society dari negara lain pun mungkin dilakukan. Untuk konteks yang lebih besar, PPI Kota pun tetap memiliki porsi besar dalam fungsi kekeluargaan mahasiswa Indonesia. Terlebih lagi, jika di suatu kota hanya terdapat satu universitas, atau mahasiswa Indonesia yang ada terfokus di satu universitas tertentu. Maka, peranan tersebut bisa disatukan dengan apa yang biasa dilakukan oleh indosoc. Uniknya, tak sedikit pula PPI Kota yang melebarkan langkah di luar pemenuhan fungsi kekeluargaan, melainkan dalam hal akademik seperti pelatihan penulisan academic writing, diskusi dan seminar dengan topik tertentu, hingga festival kebudayaan. Sehingga tak bisa disangkal bahwa PPI Kota, bersama indosoc, berada pada level akar rumput dalam menyentuh permasalahan dan menggali potensi dari diaspora intelektual muda Indonesia. Jika bicara soal duta bangsa, sesungguhnya organisasi pada level ini sangat memegang peran dalam menjaga performa mahasiswa Indonesia di luar negeri sebagai duta bangsa di kancah internasional.

Dalam ruang yang lebih luas, PPI Negara tentunya memiliki core business, core competency dan core value yang berbeda dari PPI Kota. Menjadi jembatan antar elemen mungkin adalah diksi yang sesuai bagi organisasi tersebut menjalankan tugasnya, baik antar PPI kota, kemudian PPI kota dengan PPI Negara, lantas bersama pihak KBRI, bahkan hingga urusan media coverage mengenai kegiatan PPI pun selayaknya dijalankan oleh PPI Negara. Idealnya, memang PPI Negara tidaklah menjadi PPI kota kesekian yang malah sibuk mengurus persoalan harian PPI kota atau bahkan indosoc. Dengan demikian, ekspektasi yang dibebankan pun lebih berat karena akan tercipta generalisir dari fungsi representasi bagi mahasiswa Indonesia yang berkuliah di suatu negara. Oleh karena itu, menjadi hal wajar jika PPI Negara memiliki gagasan yang lebih besar karena diamunisi oleh beragamnya elemen yang ada seperti PPI tiap kota, KBRI, media, komunitas Indonesia, dan sebagainya. Kegiatan konferensi sebagai media unjuk ide, penelitian dan solusi kebangsaan pun lumrah diadakan oleh PPI suatu negara. Selain itu, perwujudan dari kepedulian terhadap permasalahan sosial-masyarakat di Indonesia pun sering digalakan. Mulai dari penggalangan dana bencana, seminar pendidikan, pemberian bantuan materiil, pernyataan sikap terhadap suatu isu kebangsaan hingga beasiswa pun menjadi menu yang lumrah bagi bidang pengabdian masyarakat PPI Negara. Dalam hal manajemen organisasi pun sudah semestinya PPI Negara dituntut lebih profesional dalam membangun learning organization dan koordinasi yang solid serta tidak terjangkit pada politik praktis.

Selanjutnya, PPI Dunia sebagai wadah berbagi dan bekerjasama antar PPI Negara di planet bumi ini pun memiliki beban dan ekspektasi yang juga berlipat. Sesederhana bahwa pengurus PPI Dunia akan dicap sebagai wajah dari diaspora intelektual muda Indonesia. Kritisisme dalam menyikapi isu, ketrampilan dalam mengekskalasi gerakan, hingga profesionalisme dalam memanajemen organisasinya pun akan menjadi sorotan dari beragam pihak. Sayangnya, PPI Dunia sejatinya tidak sepenuhnya memiliki jangkar yang cukup dalam untuk menyentuh permukaan, alias urusan keseharian pelajar Indonesia di beragam negara, kecuali dalam urusan strategis seperti jika terjadi pelarangan terhadap segenap mahasiswa Indonesia untuk memasuki negara tujuan belajarnya. Oleh karena itu, PPI Dunia seyogyanya akan berputar pada tataran konsep strategis dan hipotesis besar dalam mendukung kemajuan Indonesia. Merangkai titik temu dan titik tuju bersama PPI Negara, pihak Pemerintah Indonesia, komunitas maupun organisasi Internasional, dan sebagainya menjadi PR besar bagi PPI Dunia. Untuk itulah, PPI Dunia membagi dirinya dalam beberapa PPI kawasan seperti amerika eropa, asia oseania serta timur tengah dan afrika. Terdapat pula komisi-komisi yang fokus mengurus kajian di berbagai topik strategis seperti energy, kesehatan, pendidikan, gerakan dan sebagainya. Memang, sebagai organisasi besar berbasiskan pada keilmuwan, bersandarkan pada kebenaran ilmiah, serta berlandaskan pada kolaborasi dan kontribusi bagi kemajuan Indonesia, maka PPI Dunia tak akan pernah bisa lepas dari dirkursus pemikiran, pengguliran wacana serta gerakan strategis untuk Indonesia.

Kesimpulan sementara, bahwa pergerakan Perhimpunan Pelajar Indonesia memiliki arah gerak serta lingkup yang berbeda di setiap masa serta stratanya. Tentunya, PPI tak bisa disalahkan begitu saja jika kondisi Indonesia belum maju dengan optimal, tidak seperti beberapa negara tempat sebagian pelajar Indonesia menempuh studi. Toh PPI Dunia, serta PPI di beberapa negara dan kota pun relatif baru dibangun serta masih membutuhkan banyak upaya penstabilan dalam memutar motor organisasinya secara efektif dan efisien. Meskipun demikian, kita sepakat bahwa potensi para diaspora intelektual muda Indonesia tak bisa dibiarkan tercecer terlalu lama. Oleh karena itu, PPI secara umum harus mampu menjadi salahsatu perangkai utama titik temu dan titik tuju bagi kemajuan Indonesia di masa depan melalui sinergisasi yang optimal dari level indosoc, PPI Kota, PPI Negara, hingga PPI Dunia. Mewujudkan perannya sebagai perkumpulan intelektual muda serta duta bangsa yang terus berkiprah bagi republik meski tak lagi menyandang gelar pelajar di institusi formal.

Penulis : Angga Fauzan
M.Sc Design & Digital Media candidate
The University of Edinburgh

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *