Tiga Refleksi Pendidikan Tinggi di Australia dengan Indonesia

  •   
  •   
Tiga Refleksi Pendidikan Tinggi di Australia dengan Indonesia

JawaPos.com – Tak terasa satu tahun telah berlalu sejak saya kuliah S1 di Australian National University (ANU). Ketiban setumpuk bacaan dan tugas membuat saya tidak begitu sempat untuk melakukan refleksi yang mendalam tentang pengalaman saya belajar di Australia dan implikasi dari pengalaman tersebut.

Beberapa minggu terakhir setelah masa libur kampus tiba, barulah saya sempat untuk mendalami apa yang terjadi selama satu tahun hidup saya yang luar biasa ini. Saya menyadari, selain melalui kelas, kuliah di ANU memperkenalkan secara tidak langsung filosofi dan praktik pendidikan tinggi Australia itu sendiri.

Melalui tulisan ini, saya hendak berbagi pengalaman dan observasi tentang saya pendidikan tinggi di Australia. Saya berharap melalui pengalaman saya yang tak seberapa, para pembaca tetap dapat membandingkan, mempertimbangkan, dan mungkin mempertanyakan praktik dan aspek dari bidang pendidikan tinggi di tanah air.

Tiga Refleksi Pendidikan Tinggi di Australia dengan Indonesia
Kevin Marco Tanaya (Kevin for JawaPos.com)

1. O-Week, Ospek Tanpa Senioritas

Masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) ANU berlangsung selama seminggu mulai dari 12 Februari 2017.  Namun, Ospek yang dilakukan di ANU amat berbeda dengan apa yang biasa kita lihat di Indonesia. Kegiatan Ospek atau ‘O-Week’, dibuka dengan acara induksi sampai dengan commencement speech oleh Brian Schmidt, Vice-Chancellor  ANU yang menandakan dimulainya semester satu.

Memang semua kegiatannya bersifat tidak wajib alias suka-suka kita mau hadir ke suatu sesi atau tidak. Meskipun, direkomendasikan untuk datang di sesi tertentu. Saya perhatikan, semua kegiatan bersifat edukatif dan profesional.

Tidak ada acara atau instruksi aneh-aneh. Para mahasiswa baru diperlakukan sepantasnya orang dewasa. Tidak ada kesenjangan dengan para senior, bahkan mereka hadir untuk membantu administratif kegiatan seperti menyambut di pintu, membantu mengurus hal yang berkaitan dengan IT, bagi-bagi merchandise, dan berbagi pengalaman.

Llewellyn Hall, Tempat Sesi Induksi Undergraduate ANU

Pengalaman ini membuat saya berpikir tentang kegiatan Orientasi yang dilakukan di perguruan tinggi di tanah air. Mengapa desain ospek di Indonesia cenderung jauh berbeda dengan negara lainnya? Tak jarang saya membaca berita tentang kejanggalan- kejanggalan yang terjadi saat ospek di negara tercinta.

Padahal, menurut saya, tujuan ospek sejatinya untuk memperkenalkan kampus, presentasi dan tur yang diadakan oleh para staff universitas dan departemen rasanya cukup. Nah, jika tujuan ospek adalah untuk melatih disiplin dan kesopanan, ospek di Indonesia terasa tak sejalan dengan tujuannya. Saya tidak merasa ada korelasi antara menuruti perintah-perintah yang bisa jadi nyeleneh dengan pengembangan disiplin dan etika akademik mendasar seperti kejujuran dan ketepatan waktu.

Di sisi lain, saya juga meragukan dalih bahwa Ospek bertujuan untuk mengajarkan hormat dan solidaritas angkatan. Tentu tak ada salahnya menghormati orang yang lebih tua, namun apakah senior universitas harusnya dipertuakan? Umur senior-junior rata-rata hanya berbeda tipis (kecuali jika senior Ospek kebetulan ‘terlalu betah’ kuliah).

2. Pedagogi Berbasis Tanggung Jawab dan Critical Thinking

Ketika masih SMA, saya selalu diwanti-wanti oleh guru bahwa nanti di universitas ‘nggak ada lagi yang nyuapin kamu!’. Guru-guru bicara dalam konteks perguruan tinggi Indonesia. Tapi, perkataan mereka juga tepat untuk mahasiswa ANU. Sebagai International Student, saya diwajibkan mengambil 4 mata kuliah per semester, masing-masing berharga 6 units. 

Rata-rata murid di ANU dapat lulus dengan gelar Bachelor setelah dapat 144 units (atau sekitar 3 tahun). Namun karena saya ambil gelar ganda dengan sistem Flexible Double Degree, saya harus menyelesaikan 240 unit atau sekitar 5 tahun.

Masing-masing mata kuliah hanya butuh 3-5 jam kuliah tatap muka per minggu. Sampai-sampai, Ibu bertanya apakah saya benar-benar kuliah. Tapi tidak berarti bahwa datang ke kelas saja cukup. Untuk melahap semua mata kuliah, saya membutuhkan minimal 6 jam studi independen di luar jam perkuliahan, bahkan seringkali lebih.

Konsisten dengan pandangan ANU yang melihat setiap mahasiswa adalah orang dewasa, dengan sistem flipped classroom, ANU mencoba mendorong rasa tanggung jawab pribadi atas nilai dan pendidikan setiap muridnya. Akan tetapi, ini tak berarti bahwa mereka boleh cuek. Semua jenis lecture (kelas besar) direkam dan dapat ditonton kembali untuk revisi. Dosen dan tutor selalu siap dan datang tepat waktu, plus sangat terbuka untuk pertanyaan dan diskusi baik didalam maupun di luar jam kelas.

Keterbukaan para dosen dan tutor amat terkait dengan keinginan ANU untuk mendorong pemikiran kritis. Tentu ujian tengah dan akhir semester yang menonjolkan hafalan masih ada. Tapi mayoritas pembelajaran didesain untuk memberi insentif bagi para murid untuk mengembangkan argumen yang kritis dan original. Mayoritas tutorial (kelas kecil) diisi dengan adu pikiran baik antara para murid atau antara murid dengan dosen. Tentu dengan dibimbing daftar bacaan dan topik yang didiskusikan di lecture. Menurut saya, cara pendidikan seperti ini amatlah memperkaya dan mendidik.



3. Kampus Tak Pandang Remeh Kasus Pelecehan Seksual

Pada Agustus 2017, Australian Human Rights Commission (Komnas HAM Australia) menerbitkan laporan mengenai kekerasan dan pelecehan seksual di kampus-kampus Australia. Hasilnya sungguh memprihatinkan. Satu dari empat murid universitas di Australia melaporkan bahwa mereka dilecehkan secara seksual di dalam kampus sepanjang 2016.

Mahasiswi 2 kali lipat lebih mungkin untuk mengalami pelecehan seksual dan 3 kali lipat lebih mungkin untuk mengalami penyerangan seksual dibandingkan 
mahasiswa. Pelajar internasional juga tidaklah luput dari tindakan ini. Sebanyak 22 persen melaporkan bahwa mereka pernah dilecehkan secara seksual di Negeri Kanguru.

Saya yang ketika itu masih pelajar program persiapan untuk masuk ke ANU, kaget mendengar statistik itu. Kekagetan berubah menjadi rasa malu dan kecewa ketika saya mendengar bahwa ANU, universitas nomor 1 di Australia bersama Bond University menduduki peringkat satu dalam persentase keseluruhan responden yang mengalami pelecehan seksual di setting 
universitas atau sekitar 38 persen.

Belakangan ini, saya juga menaruh perhatian pada kasus Agni, seorang mahasiswi Universitas Gajah Mada. Melihat perkembangan kasus tersebut dan diskursus yang mengitarinya, saya prihatin tapi tidak terkejut. Ini karena hal-hal seperti kultur victim-blaming sampai sistem pelaporan yang tidak cukup, juga hadir di kasus Agni seperti halnya di ANU.

Menciptakan sistem untuk meniadakan kekerasan dan pelecehan seksual di universitas akan sulit, tetapi mengubah budaya akan jauh lebih penting. Saya berharap, kita sampai pada budaya di mana tidak ada lagi upaya menyalahkan atau menyepelekan korban pelecehan dan kekerasan seksual, baik perempuan maupun pria.

Budaya yang kita bisa berkata kepada mereka:  We hear you, we believe you, we are here for you. Yang lebih penting lagi: how can we really help?, sehingga semakin banyak ‘Agni’ lain yang berani bersuara.

Saya masih akan menempuh 4 tahun lagi pendidikan di Australia. Perjalanan masih panjang. Namun saya tak ragu bahwa pengalaman dan pemahaman saya akan terus berkembang, karena satu tahun ini telah mengajarkan saya banyak hal.

*Mahasiswa program Flexible Double Degree (Law & Politics, Philosophy and Economics), anggota PPI Dunia

The Australian National University, Australia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *