Pesan-Pesan Asyik dari Wiraraja Edufair, Sumenep

  •   
  •   

Hingar binger pameran pendidikan dan informasi beasiswa tidak hanya dinikmati oleh mahasiswa di Pulau Jawa.  Wiraraja Edufair yang  diselenggarakan 20 Desember  2018 oleh Universitas Wiraraja, Sumenep, (Madura), mendapat sambutan hangat dari peserta dan narasumber pengisi materi.  Berbeda dengan lliputan-liputan sebelumnya, pada kesempatan ini tim Media Felari PPI Dunia  melakukan wawancara secara khusus terhadap dua pemateri yang sangat bersemangat dan menginspirasi.  Berikut bincang-bincang menarik dengan dua narasumber Wiraraja Edufair 2019 , Dodik Pranata Wijaya (Michigan State University College of Law) dan  Rafid Mahful (Kyushu University)

Apa yang membuat anda bersedia  menjadi narasumber dalam kegiatan   Wiraraja job and edufair talkshow , dan materi apa yang dibawakan?

Rafid : Sharing, karena melihat anak-anak muda bersemangat untuk mengejar mimpinya merupakan charge tersendiri bagi saya. Saya membawakan materi tentang “how to study in Japan” dan scholarship apa saja yg ditawarkan

Dodik : Karena saya menanggap ini sangat menarik dan memberikan manfaat besar. Mengingat kegiatannya membicarakan seluruh beasiswa dunia. Tidak berkutat pada beasiswa tertentu yang easy-listening. Saya membahas beasiswa yg ada di amerika serikat.

Bolehkan diceritakan  keseruan  pada saat acara?

Rafid : Ini merupakan acara pertama yang saya hadiri. Kebetulan buat berdampingan dengan jobfair, sehingga ada tantangan tersendiri bagi pemateri untuk mendapatkan fokus peserta. Kedua, karena bersamaan dengan jobfair maka peserta berasal dari dalam dan  luar pulau madura. Ketiga, perbedaan usia antar peserta juga unik, peserta rata-rata mahasiswa baru dan dosen Universitas Wiraraja

Dodik:  Disaat acara, ada beberapa hal yang menarik diantaranya. Menampikan seni tari khas Madura “muang sangkal”, yang artinya buang hal buruk, dan pertanyaan yang menggelitik dari peserta, contohnya apakah S2 akan menjamin pekerjaan yang baik setelah selesai?

Menurut anda, seberapa seringkah kegiatan seminar perndidikan seperti ini perlu dilakukan?

Rafid : Sangat perlu. Terutama di daerah-daerah  yang sulit mendapatkan informasi. Saya pun sedang memikirkan rencana untuk menjembatani hal ini. Semoga bisa bekerjasama dengan PPI Dunia dalam merealisasikannya

Dodik: Menurut saya, masih banyak di pelosok negeri ini yang belum mempercayai bahwa kuliah itu bisa gratis bahkan bisa mandiri. Maka  seminar, webinar dan workshop beasiswa harus sering diselenggarakan di beberapa pelosok desa.

Menurut anda, kualitas  diri seperti apa yang perlu dimiliki setiap pejuang beasiswa?

Rafid : Pantang Menyerah! Lahir di daerah paling timur Indonesia, saya mengejar ketertinggalan bahasa hingga 2 tahun, melewatkan kesempatan-kesempatan dalam berkarir dengan perusahaan ternama. Saya rasa semua itu tidak bisa saya lalui kalau tidak mempunyai semangat pantang menyerah

Dodik:  Yang dibutuhkan scholarship hunter hanya satu, “Endurance” .

Apa yang pertama kali anda rasakan (pikirkan) ketika dinyatakan bahwa anda lulus beasiswa?

Rafid : Ketika lulus beasiswa LPDP, hal pertama yang saya pikirkan adalah janji saya terhadap interviewers yaitu membagikan setiap pengalaman berharga untuk menyemangati anak-anak muda Indonesia. Janji itulah yang membuat saya selalu memantaskan diri selama studi untuk memberikan yg terbaik.

Dodik : Sangat bersyukur menjadi salah satu pemuda indonesia yang berkesempatan untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat.

Pernahkan anda mengalami kegagalan dalam proses selekesi beasiswa dan bagaimana menghadapi kegagalan tersebut?

Rafid : Alhamdulillah sering! dan selalu pada tahap awal. Saya percaya ketika gagal, berarti saya belum mempersiapkan yang terbaik. Maka, ketika saya mencoba lagi, saya akan berusaha memberi kualitas yang lebih baik

Dodik: Alhmduillah saya mendaftar sekali langsung dapat. Tetapi jika kegagalan, setiap manusia pasti memiliki, seperti saat ekonomi yang sangat sulit, saya tidak bisa langsung S1 bahkan saat setelah saya nganggur saya harus tidur di halte pertigaan kampus di Universitas Trunojoyo Madura, kampus S1 saya. Karena pada waktu itu uang saya tidak cukup untuk sewa kos-kosan.

Endurance seperti yang saya sampaikan, memaknai setiap permasalahan sebagai fase kehidupan yang memang harus dijalani. Karena bagi saya, apa yang saya perjuangkan masih sangat kecil dibandingkan bagaimana orang tua saya membesarkan saya hingga saya dititik ini.

Apa pesan anda terhadap teman-teman yang pernah gagal dalam proses seleksi aplikasi beasiswa?

Rafid : Semua orang di dunia ini pasti punya jatah gagal dan sukses. Maka segeralah menghabiskan masa gagalmu, dan jangan menyerah hingga kau dapatkan jatah kesuksesanmu

Dodik:  Jangan pernah menyerah untuk mengakses semua beasiswa, jika anda gagal di LPDP mungkin saja rejeki anda di Fullbrigth, jika anda gagal di Fullbright, mungkin saja di USAID atau bisa saja di AAS atau Erasmus mundus. Karena saya yakin, siapapun dia, yang benar-benar ingin mencari ilmu, maka semua pintu rizki langit akan terbuka.

Pengalaman paling menarik apa selama menempuh Pendidikan dan hidup di luar negeri?

Rafid : Banyak sekali. Networking  lebih luas, experience yang luar biasa, serta cara bertahan hidup yang berbeda. Namun paling penting adalah rasa cinta tanah air semakin meningkat

Dodik : saat bagaimana saya struggling dengan sistem pendidikan hukum di USA yang amat sangat berbeda dengan Indonesia. Bagaimana bisa membagi waktu kepada istri saya yang sedang hamil tuahingga proses melahirkan anak saya yang saat itu kami tidak didampingi keluarga dan semua itu saya lakukan sambil bekerja

Sungguh fase hidup yang mendewasakan saya saat belajar di Amerika Serikat, dan jika ada orang bertanya jika ingin S3, negara mana lagi yang akan menjadi pilihan? Saya akan jawab Amerika Serikat.

Terakhir, apa harapan anda terhadap para peserta yang tadi mengikuti acara?

Rafid : Saya berharap dengan kedatangan saya, saya bisa memberi semangat, memberikan secercah harapan bahwa semua orang mempunyai peluang yang sama. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan peluang itu.

Dodik:  Harapan kami bahwa akan ada banyak lagi mahasiswa Madura yang dengan mudah mengakses beasiswa baik dalam mapun luar negeri. Meruntuhkan stigma bahwa sekolah membutuhkan biaya berlebih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *