Hiking Musim Dingin di Tanah Bohemia

  •   
  •   

Musim dingin memang menjadi salah satu kenikmatan ketika tinggal di negara empat musim. Melihat indahnya butiran salju turun menyentuh tanah adalah hal yang tidak bisa kita dapatkan di negara tropis. Meskipun, suhu dingin juga terkadang membuat kita malas melakukan aktivitas di luar. Tetapi, bagaimana jika ganjarannya adalah pemandangan alam yang luar biasa?

Saya dan empat orang teman memutuskan untuk menjelajahi Taman Nasional Bohemian Switzerlanddi akhir Januari lalu. Taman nasional ini terletak di bagian barat laut Republik Ceko. Taman ini adalah bagian dari Elbe Sandstone Mountains yang terbentang dari wilayah Saxon di Jerman hingga wilayah Bohemia di Republik Ceko. Karenanya, taman nasional di bagian negara Jerman dikenal dengan nama Taman Nasional Saxon Switzerland.

Untuk mengunjungi taman nasional tersebut, kami bertolak dari kota Děčín. Kota ini hanya berjarak 1,5 jam dari kota Praha jika ditempuh dengan kereta api. Harga tiketnya mulai dari 109 CZK (~4 EUR) untuk tiket dewasa atau 27 CZK (~1,20 EURO) untuk pelajar di bawah 25 tahun dan memiliki kartu ISIC. Tiket dapat dibeli melalui website České dráhy (https://www.cd.cz/) atau di stasiun.

Destinasi hiking kami di taman nasional tersebut adalah Pravčická brána (Gerbang Pravčická), sebuah formasi bebatuan melengkung berbentuk seperti gerbang. Tempat ini juga dikenal sebagai salah satu lokasi shooting film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe.  Tentu saja banyak destinasi lain yang bisa dikunjungi di taman nasional ini, seperti Labirin Batu Tisá dan Jurang Edmund. Tetapi beberapa tempat hanya dapat diakses pada bulan April-Oktober.

Sebelum berangkat, kami menanyakan informasi mengenai bus menuju destinasi kami di Pusat Informasi Děčín. Kami diberitahu bahwa halte destinasi kami ialah Hřensko,Pravčická brána dan kami bisa ke sana dengan bus 434. Kami juga diberitahu kalau halte bus terdekat dari lokasi kami saat itu adalah Masarykovo náměstí, lalu di mana kami harus menunggu bus, jam keberangkatan bus selanjutnya (pukul 13.15) dan jam keberangkatan bus dari Pravčická brána menuju Děčín (pukul 17.05 dan 19.05). Salah satu kekurangan berkunjung di saat musim dingin ialah jadwal bus yang lebih sedikit, yaitu hanya sekali dalam dua jam.

Kami sempat berbincang sejenak dengan wanita yang bertugas di pusat informasi tersebut karena dia sangat senang mengetahui bahwa kami berasal dari Indonesia. Dia bilang bahwa belum pernah ada turis Indonesia yang berkunjung ke kota tersebut. Ternyata dia pernah melihat penampilan angklung dan sangat terpukau dengan alat musik tradisional kita itu. Sebagai kenang-kenangan kami pun berfoto bersama dan bertukar kontak. Dia juga memberi kami suvenir dari Děčín. Sayangnya kami hanya punya kopi jahe sachet dari Indonesia yang bisa kami berikan kepadanya. Tips untuk traveling selanjutnya, selalu bawa sesuatu yang bisa dijadikan suvenir dari Indonesia, entah itu kartu pos, uang koin, gantungan kunci, dan sebagainya.

Kami masih punya waktu 45 menit dan kami memutuskan untuk mengunjungi Kastil Děčín (Zámek Děčín) sejenak. Lokasi kastil ini berada di atas bukit, sehingga kita bisa melihat kota Děčín dari atas. Meskipun menurut saya kastil ini lebih cantik jika dilihat dari jauh, dari seberang sungai Lebe atau Via Ferrata.

Lima menit sebelum bus datang kami telah tiba di halte yang berada di pusat informasi halte. Merasa ganjil karena jalur yang tertulis di papan jadwal bus justru menuju arah yang berlawanan, kami pun menunggu di halte seberang. Papan jadwal bus di sini menunjukkan jalur yang benar. Tetapi bus yang kami tumpangi yaitu bus 434 tak kunjung datang pada pukul 13.15 sehingga kami pun menunggu hingga 20 menit kemudian. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk bertolak dari stasiun utama karena salah satu teman kami sudah pernah mengunjungi destinasi yang akan kami kunjungi tersebut dari stasiun utama. Untuk menuju ke stasiun utama, kami harus naik bus lagi selama 10 menit.

Karena bus selanjutnya masih 1,5 jam lagi, kami menyempatkan lagi berjalan-jalan di kota tersebut untuk menghibur diri menghilangkan rasa bosan menunggu di halte karena hal yang berjalan tidak sesuai rencana. Kami sempat melewati museum daerah (Oblastní muzeum) dan sinagoga. Pukul 3 sore kami menaiki bus yang kami tumpangi menuju Hřensko. Tiket bisa dibeli dari supir seharga 25 CZK (~1 EUR) per orang. Bus ini melewati halte tempat kami menunggu sebelumnya dan kami akhirnya mengetahui bahwa kami menunggu di halte yang berseberangan. Pantas kami tidak melihat bus yang kami harapkan tersebut.

Perjalanan menuju tempat destinasi hanya memakan waktu sekitar setengah jam. Kami tiba pada pukul 15.40, waktu yang sebenarnya sangat terlambat untuk mulai mendaki. Pada hari itu matahari tenggelam pukul 16.50. Bus pulang pada pukul 5 sore tidak mungkin terkejar. Jadi kami pun mengusahakan agar sudah tiba di bawah lagi sebelum benar-benar gelap.

Rute menuju Pravčická brána termasuk rute yang ringan dan sangat aman untuk pemula. Jalannya adalah bebatuan yang ukurannya tidak teratur, sehingga sangat disarankan menggunakan sepatu yang sesuai. Di musim dingin ini, jalan tersebut ditutupi lapisan salju. Beberapa bagian jalan bahkan sudah menjadi es yang agak licin, sehingga kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Setengah perjalanan pertama kami menelusuri hutan dan jalannya tidak terlalu curam. Kemudian rute pun berbelok ke arah yang jalan lebih terjal dan lebih sempit, serta terdapat dinding bebatuan yang besar sehingga sesekali kami harus menundukkan kepala. Berjalan dalam suatu kelompok memudahkan pendakian karena kita bisa saling tolong-menolong jika ada jalur yang sulit dilewati.

Saat perjalanan ke puncak, kami berpapasan dengan pendaki lain yang sudah turun karena hari sudah beranjak gelap. Tak heran ketika kami tiba di puncak, kami adalah satu-satunya yang masih berada disana. Kami berfoto-foto sebentar, menikmati pemandangan matahari yang perlahan tenggelam, dan tentu saja mengagumi formasi batu unik yang menjadi destinasi kami. Dan yang terpenting dari perjalanan alam adalah memanjatkan puji kepada Yang Menciptakannya, bersyukur kita dapat diberikan kesempatan menikmati keindahan alam tersebut dan keselamatan dalam perjalanan. Setelah cukup puas, kami pun berjalan kembali menyusuri jalur yang tadi kami lewati dan berhasil tiba di bawah sebelum langit gelap total sekitar pukul 17.30.

Lagi-lagi kami harus menunggu bus selama 1,5 jam. Bedanya kali ini kami menunggu dalam kegelapan dan udara yang dingin di sebuah pondok kecil di pinggir jalan. Sesekali ada mobil yang melewati jalan besar di hadapan kami sehingga ada sedikit perasaan lega bahwa kami tidak benar-benar di daerah terisolasi. Kami pun menghabiskan waktu dengan bercerita sambil menghabiskan perbekalan. Sesekali kami menggerakkan tubuh agar tetap merasa hangat sampai akhirnya bus yang kami nanti tiba. Supirnya adalah supir bus yang juga membawa kami dari Děčín. Karena sangat senang akhirnya bisa pulang dan tidak lagi kedinginan, kami mengekspresikan rasa terima kasih kami dengan sedikit berlebihan kepada Pak Supir. Mungkin merasa lucu melihat ulah kami, dia hanya menyuruh kami membayar 50 CZK untuk tiket bus pulang.  Lagi-lagi kami bertemu warga Ceko yang baik hati.

Penulis adalah Meisyarah Dwiastuti, tukang coding yang sedang mengambil program European Master in Language and Communication Technologies. Sekarang sibuk mengerjakan tesisnya di Charles University, Praha, Republik Ceko. Anggota PPI Ceko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *