Bagiku Bahasa adalah Rasa: Menyoal Usaha Senang Sastra

  •   
  •   
Image result for sastra
Sumber Gambar: http://jurnalposmedia.com/wp-content/uploads/2018/05/sastra.jpg

Ditulis oleh: Failasofah
PhD in Applied Linguistics at University of Pannonia, Veszprém, Hongaria.

“Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat 
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar 
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh”

(Chairil Anwar, 1948)

Kutipan diatas adalah bait terakhir dari puisi karya Chairil Anwar di tahun 1948 yang berjudul Persetujuan dengan Bung Karno. Dalam puisi tersebut Chairil memperlihatkan semangat sikap kepahlawanan dan dukungannya untuk mempertahankan terus gerakan kemerdekaan yang diprakarsai Bung Karno saat itu. Beliau dikenal sebagai penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Nilai-nilai tersebut dituangkan Chairil Anwar kedalam puisi-puisinya yang hingga kini masih terus diingat dan dihargai.

Nilai-nilai heroik juga dapat dilihat dari novel Hanoman: Akhir Bisu sebuah Perang Besar karya Pitoyo Amrih tahun 2014. Dalam novel tersebut diceritakan karakter Hanoman yang dikenal sebagai seorang panglima bangsa kera yang hanya menghamba pada dirinya sendiri. Hanoman yang kemudian memahami bahwa pertikaian, peperangan sampai pada pertempuran yang semula menurutnya berisi semangat perjuangan antara yang baik dan angkara murka, tak lebih adalah silang sengkarut benturan kepentingan “Kepentingan untuk menguasai, kepentingan untuk mengalahkan, kepentingan mewujudkan keinginan. Itulah mengapa Hanoman mengambil pendirian tak terlibat  Baratayudha. Perang dahsyat yang dia mengira akan menjadi pembelajaran. Ternyata Hanoman keliru. Ternyata perang akan selalu ada. Pertempuran tetap akan selalu terjadi” (halaman 460). Dalam novel tersebut, sang pengarang mengisahkan hal-hal yang bisa membuat pembaca melihat jiwa ksatria seekor kera (bukan manusia) yang tetap mempertahankan kebenaran yang diyakininya.

Kutipan karya sastra lain yang menggambarkan sikap pengarangnya adalah kutipan yang diambil dari novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Jejak Langkah. “Tak mungkin orang akan mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya” (Minke, 202). Novel tersebut adalah bagian dari “Tetralogi Buru” (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), karya yang ia buat selama masa pembuangan di Pulau Buru. Seri novel yang mengisahkan tentang Minke itu merupakan karya yang dibuat atas dasar ilham pengarang pada saat melihat kondisi bangsa Indonesia kala itu. Kisah tersebut pada dasarnya adalah representasi kisah hidup seorang jurnalis pribumi Indonesia pertama dan tokoh pergerakan nasional masa awal R.M. Tirto Adi Soerjo. Menurut Koh Young Hun, seorang Guru Besar pada Hankuk University Korea Selatan, Pram terinspirasi Tirto lantaran ingin menafsirkan kembali kebangkitan nasional Indonesia (Hutari, 2018).

Dari ketiga karya sastra diatas, dapat kita lihat bahwa puisi dan novel tersebut dibuat sebagai media dari pengarangnya untuk menyampaikan pesan pada pembaca. Tapi karena latar belakang pembaca yang beragam, memahami karya sastra menjadi sangatlah subjektif. Bagi sebagian kecil pembaca, karya sastra hanyalah seperti saat menikmati lagu sang legenda Michael Jackson. Pembaca tersebut hanya mengenal penyanyinya bukan lagu atau musiknya. Sebagian kecil lainnya mampu memahami kode-kode yang tersembunyi dalam tulisan sastra. Dan, sebagian lagi melihat karya tersebut sebagai “representasi” dari cerita kehidupan manusia. Dalam artikel ini kami ingin mengulas fungsi sastra bagi masyarakat Indonesia terutama kaum muda dan kurangnya minat membaca karya sastra .

Bahasa dan Sastra

Bahasa yang berkembang dan digunakan dalam masyarakat, oleh beberapa antropolog, dapat disimpulkan dalam tiga kesimpulan yang berbeda: 1) bahasa sebagai refleksi dari keseluruhan kebudayaan, 2) bahasa sebagai bagian dari kebudayaan, dan 3) bahasa sebagai kondisi bagi kebudayaan suatu masyarakat yang bisa berarti bahwa manusia mengenal budaya melalui bahasa atau materi bahasa yang digunakan sejenis dengan materi pembentuk kebudayaan. Ketiga kesimpulan tersebut menunjukkan bahwa bahasa dan budaya selain berperan penting juga memiliki hubungan erat yang saling mempengaruhi dalam kehidupan manusia.

Bahasa, oleh para sosiolog, disebutkan sebagai milik khas manusia karena fungsinya sebagai alat komunikasi antar sesama manusia (Damono, 1978) . Komunikasi tersebut biasanya dilakukan seseorang dengan dua alasan: individualis dan konformitas. Individualisme manusia (sifat mempertahankan kebebasan diri) mensyaratkan adanya perbedaan bahasa antar individu sedang konformitas (persesuaian atau kecocokan) terjadi dengan mensyaratkan adanya penyesuaian bahasa yang digunakan satu individu untuk tunduk pada kaidah bahasa yang digunakan oleh lingkungan sosialnya atau masyarakat.

Salah satu media berkomunikasi yang menyebar di masyarakat sejak dulu adalah sastra. Sastra memiliki kekhasan dibanding produk budaya lainnya karena menggunakan bahasa yang harus memenuhi prinsip konformitas. Tapi secara bersamaan, sastra juga bersifat individualisme maka kadang diperkenalkan pemakaian bahasa yang baru oleh penciptanya (Sumardjo & Saini, 1997). Kata sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta, sas dalam kata kerja mempunyai arti mengarahkan, mengajarkan. Sedangkan akhiran -tra biasanya menunjukkan alat sarana. Maka dari itu sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk. Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik yang bervariasi dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan) (Esten, 1978). Daya imajinatif melibatkan kemampuan pengarang untuk membayangkan, mengkhayalkan, dan menggambarkan sesuatu atau peristiwa-peristiwa. Hal tersebut telah di ungkapkan oleh Plato  yang mengatakan bahwa sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan.

Lebih lanjut seorang pemikir Yunani bernama Quintus Horatius Flaccus yang lebih dikenal sebagai Horace dalam tulisannya yang berjudul Ars Poetica menyebutkan“dulce et utile” artinya sastra mempunyai fungsi ganda, yaitu menghibur (dulce) karena menampilkan keindahan dan sekaligus bermanfaat (utile) terhadap kehidupan (kematian, kesengsaraan, maupun kegembiraan). Jadi, karya sastra diciptakan oleh manusia, diperuntukkan bagi manusia untuk kepentingan manusia itu sendiri. Karya sastra tidak dibuat untuk mengajar manusia tetapi untuk mengingatkan manusia tentang masalah kemanusiaan. Herfanda (2008) mengatakan bahwa sastra memiliki potensi yang besar untuk membawa masyarakat kearah perubahan termasuk perubahan karakter.

Sastra Indonesia

Sastra di Indonesia berkembang dari budaya kita yang beragam. Santosa (2018) dalam artikel di laman bahasa Kemdikbud menulis bahwa karena kemajemukan Indonesia, keberadaan sastra di Indonesia pun beraneka ragam, mulai keragaman genre, gaya ungkap, tokoh, mitologi, hingga ke masalah sosial, politik, dan budaya etnik.  Genre sastra di Indonesia tidak hanya yang tampak general, seperti prosa, puisi, dan drama, tetapi juga yang spesifik, seperti dongeng, legenda, mitos, epos, tambo, hikayat, syair, pantun, gurindam, macapat, karungut, mamanda, dan geguritan. Dan karena keberagaman bahasa dan budaya di negara kita tercinta itu pula maka tidaklah mengherankan apabila dalam karya sastra yang mereka tulis terdapat sejumlah kosakata, frasa, dan kalimat bahasa daerah. Pembaca dapat menyelami budaya lainnya dalam cerita atau bait-bait karya sastra. Karena sifat sastra yang individualisme, pengarang biasanya melibatkan latar belakang kultur atau etniknya kedalam ruh karyanya. Tetapi karena sastra juga bersifat konformitas, kebanyakan dari karya sastra biasanya disesuaikan dengan konteks pembaca yang dituju agar pesan yang ingin disampaikan mudah dicerna.

Masyarakat mengenal dua jenis sastra: sastra lisan dan sastra tulis. Sastra lisan yang dikenal dengan folklore atau cerita rakyat telah dikenal sejak dulu dan diwariskan secara turun temurun. Sedangkan sastra tulis adalah sastra tertulis dalam bentuk prosa, puisi atau lainnya. Perkembangan sastra di Indonesia terbagi atas beberapa angkatan: Angkatan Pujangga Lama (sejak sebelum abad 20), Angkatan Melayu Lama (1870 – 1920), Angkatan Balai Pustaka (1920 – 1933), Angkatan Pujangga Baru (1933 -1942), Angkatan ’45, Angkatan ’50, Angkatan ’66, Angkatan 80-an, angkatan Reformasi, Angkatan 2000-an, yang terakhir dikenal dengan Cybersastra. Dari setiap angkatan, karya sastra yang dihasilkan banyak yang disesuaikan dengan perkembangan social masyarakat saat itu meskipun pesan yang disampaikan pada umumnya tetap tentang kehidupan manusia. Sastra kerap lahir dari proses kegelisahan sastrawan terhadap kondisi masyarakat. Sastra sering ditempatkan sebagai potret sosial karena sastra mengungkapkan kondisi masyarakat pada masa tertentu, yang selalu memancarkan semangat zamannya.

Sebagai media yang ampuh dalam berkomunikasi yang bisa mempengaruhi pola pikir dan karakter dalam masyarakat, pada masa tertentu banyak buku yang dimusnahkan dan sastrawan-sastrawan diasingkan. Pramoedya Ananta Toer, yang pada saat diasingkan ke Pulau Buru sebagai tahanan politik, menulis tetralogi semi-fiksi sejarah Indonesia. Dalam novel tersebut Pram menceritakan tokoh Minke yang menjadi representasi tokoh pergerakan nasional masa awal Raden Mas Torto Adhi Soerjo. Novel tersebut dilarang beredar oleh pemerintahan Orde Baru. Karya Mochtar Lubis berjudul Senja di Jakarta juga pernah dilarang beredar oleh Sukarno. Kekerasan ini terjadi karena sastrawan lewat karyanya berusaha melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan penguasa. Hal tersebut juga membuktikan betapa besarnya peran sastra dapat mempengaruhi nilai-nilai dalam masyarakat.

Minat Membaca dan Senang Sastra

Bahasa tanpa sastra bagaikan jasad tanpa ruh. Bahasa tidak punya semangat jika tidak ada muatan sastra. Sastralah yang membuat bahasa menjadi hidup. Dalam sastralah terkesan harapan dan cita-cita masyarakatnya. U.U. Hamidy (seorang peneliti sastra Aceh) seringkali mengungkapkan pernyataan ini pada banyak kesempatan. Sastrawan Emha Ainun Najib bahkan pernah berkata bahwa sastra dapat memelihara kelembutan hati,  kepekaan perasaan, ketajaman intuisi, kedalaman jiwa, kearifan sifat sosial, dan keluasan pandangan hidup.  Maka segala dampak negatif tersebut akan terkikis jika sastra tetap dipertahankan kehadirannya dan diminati masyarakat.

Namun sayangnya, mempunyai banyak tokoh sastra dengan sejarah panjangnya, tak menjamin kesusasteraan Indonesia dapat dicintai masyarakatnya sendiri. Menurut Ibo (2015) disalah satu koran online, indikator rendahnya kecintaan masyarakat Indonesia terhadap sastra dapat dilihat dari banyak hal, salah satunya adalah minimnya apresiasi terhadap keberadaan pusat-pusat kegiatan literasi salah satunya Pusat Dokumentasi Sastra HB jassin. Di Indonesia, perbandingannya adalah tiga sampai lima buku hanya dibaca oleh satu orang. Sementara di negara maju, satu orang bisa membaca tiga sampai lima buku yang termasuk karya sastra didalamnya. Ditambahkan oleh Ketua Ikatan Penerbit Indonesia 2010 (IKAPI) Lucya Andam Dewi bahwa salah satu penyebab hal tersebut terjadi adalah karena “histori kita itu budaya lisan. Kita belum sempat membina literasi, sudah diganggu sama teknologi,” ujar Lucya. Jarang ada orang tua membacakan anak buku cerita menjelang tidur, misalnya. Yang ada justru mereka disodori gadget.

Guru besar sastra Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Suroso (Mukhisab, 2018) lebih jauh menyatakan, rendahnya minat baca sastra maupun pengetahuan lainnya mencerminkan bangsa ini masih didominasi oleh budaya lisan. Situasi masyarakat demikian sangat rentan disasar hoax atau berita tidak benar karena keterbasan pengetahuan sebagai dampak minat baca yang rendah.  Pengguna Internet bisa separuh lebih dari jumlah bangsa ini, 132,7 juta pada 2016, tetapi akses mereka bukan konten bacaan, yang disasar justru media sosial (facebook) sebesar 71,6 juta, situs pornografi, dan situs lain yang tidak menuntut pengakses membaca detail informasi di dalamnya. Mengutip bahasa sastrawan dan budayawan Taufik Ismail, dia menyatakan, bangsa Indonesia “rabun membaca dan pincang menulis”.  “Orang yang memiliki kesenangan dan kemampuan membaca sastra akan memiliki kecerdasan yang lebih atas perilaku manusia, pemahaman tempat, peristiwa, dan persoalan yang dihadapi manusia,” 

Berdasarkan fakta-fakta diatas, beberapa ahli (dalam bidang sosiologi, bahasa, dan antropologi) menyimpulkan bahwa beberapa hal yang bisa menyebabkan rendahnya minat membaca sastra adalah karena kurangnya dukungan lingkungan terutama keluarga untuk membiasakan anggotanya membaca sastra. Kurikulum disekolah juga bisa menjadi faktor pemicu jika murid tidak dibiasakan untuk ‘senang’ membaca. Kurikulum sekolah dasar dan menengah di negara maju seperti Amerika mewajibkan muridnya membaca cerita pendek bahkan novel setiap minggunya untuk kemudian didiskusikan nilai-nilai kehidupan yang terkandung didalamnya. Selain serangan tayangan-tayangan televisi yang menina-bobokan masyarakat hingga kegiatan membaca sastra tidak lagi bisa menjadi hiburan. Atau mungkin juga karena kurangnya ketersediaan buku di daerah-daerah terpencil bahkan mungkin karena kualitas buku yang rendah dan tidak menarik.

Perubahan jaman memang menuntut manusia untuk selalu bergerak menyesuaikan diri. Seperti kata Chairil Anwar “ada yang berubah, ada yang bertahan karena zaman tak bisa dilawan. Yang pasti kepercayaan harus diperjuangkan.” Untuk itu usaha mengatasi semakin rendahnya minat dan apresiasi terhadap sastra harus sering dilakukan. Seperti yang sudah dilakukan oleh PPI Hongaria sejak Juli 2018 melalui akun instagram Senang Sastra. Banyak informasi sastra Indonesia yang telah dibagikan  PPI Hongaria. Senang sastra bertujuan untuk mengajak teman-teman pelajar Indonesia yang sedang belajar di Hongaria khususnya dan seluruh semua pelajar Indonesia di mana pun berada untuk mengenal atau kembali membaca karya sastra Indonesia. Walaupun sangat disayangkan dari seluruh pelajar Indonesia di Hongaria yang masih aktif ataupun yang telah lulus, Senang Sastra diikuti oleh 115 follower, dan hanya beberapa diantaranya yang membaca unggahan informasi sastra hingga saat ini (dilihat dari banyak like pada table dibawah).

Grafik pembaca unggahan Senang Sastra

Namun selama manusia masih menggunakan bahasa dan mengagungkan nilai kebaikan untuk diwariskan pada penerusnya, kami tetap percaya akan terus ada usaha mendokumentasikan rasa dan fakta yang berupa kisah nyata ataupun khalayan dalam bentuk tulisan-tulisan sastra. Seperti kata Raja Shahedah (seorang penulis asal Palestina) “Aku ada buku, aku tak perlu pakaian atau sepatu khusus untuk berjalan ke perbukitan”.

Referensi

Damono, Sapardi Djoko. (1978). Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Esten, Mursal. (1978). Kesusasteraan: Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung : Angkasa.

Herfanda, A.Y. (2008). Sastra sebagai Agen Pembaharuan Budaya dalam Bahasa dan Budaya dalam berbagai Perspektif. Yogyakarta: FBS UNY & Tiara Wacana.

Hutari, F. (2018). Pram Menemukan Minke. Historia online: 28 Mei 2018.

Ibo, A. (2015). Minat Baca Sastra Rendah, PDS HB Jassin Minim Pengunjung. Liputan6 online: www.liputan6.com. 14 Juli 2015.

Mukhisab. (2018). Hasil Riset: Hoaks Menyasar Masyarakat dengan Budaya Baca Rendah. Pikiran Rakyat online, 14 Maret 2018.

Santosa, P. (2018). Keberagaman Sastra di Indonesia dalam Membangun Keindonesiaan. Laman bahasa Kemdikbud: badanbahasa.kemdikbud.go.id.

Sumardjo, J. & Saini, K.M. (1997). Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *