Mengkritisi Platform PPI Dunia 18/19: Kolaborasi dan Kontribusi?

  •   
  •   

Salah satu narasi paling kokoh tentang PPI Dunia adalah ia merupakan gerakan pengetahuan, dengan berporos pada penggalian, produksi dan diseminasi pengetahuan. Sebagai pemantiknya, tak lupa dijelaskan pula tujuan PPI Dunia pada pembukaan AD/ART-nya yang berbunyi “membentuk wadah untuk mengakomodasi dan mengokordinasikan seluruh potensi organisasi perhimpunan pelajar Indonesia di berbagai negara”. Jika ditarik pada kepengurusan periode 2018/2019, PPI Dunia berfokus menjadi media kolaborasi antar pelajar Indonesia di berbagai negara untuk berkontribusi bersama.

Dalam setengah periode keberjalanannya, perlu rasanya dipertanyakan mengenai keberjalanan umum dan dampak pergerakan dari salahsatu organisasi diaspora pelajar Indonesia terbesar ini. Meskipun demikian, tak akan adil jika menilainya dengan mempertanyakan satu per satu pelajar Indonesia di luar negeri dengan pertanyaan: “PPI Dunia berefek tidak buat hidupmu?” Saya yakin, jawabannya malah akan mengesankan anarkisme yang absolut (ps: anarkisme bukan kekerasan/pemberontakan). Jangankan PPI Dunia, level PPI Cabang maupun Indonesian Society di kampus nya pun bisa jadi tak berdampak samasekali bagi tiap pelajar. Malah, sepertinya baru agak oke jika mengangkatnya dengan konteks PPI Negara. Bukankah di pembukaan AD/ART tadi dijelaskan pula soal ‘mengkoordinasikan organisasi perhimpunan pelajar’?. Oleh karenannya, setidaknya bisa ditanyakan kepada para ketua PPI negara, apakah PPI Dunia punya peran signifikan dalam mengkoordinasikan PPI antar negara? Apa yang harus dikoordinasikan? Sejauh apa? Tentu harus ada indikator tertentu, dan tak bisa segala hal disapu. Jika menurut saya, dalam hal ini, yang perlu dibahas tegas ialah sejauh apa PPI Dunia sudah bisa jadi media kolaborasi dan kontribusi?

Sayangnya, definisi kolaborasi dan kontribusi serta batasan yang dimaksud, tidak dijelaskan dalam Platform PPI Dunia 2018/2019. Apakah titip minta membagikan poster kegiatan PPI Negara di Instagram PPI Dunia sudah termasuk kolaborasi? Atau mengadakan webinar dengan mengundang beragam pakar dari berbagai profesi sudah bisa disebut kontribusi? Lagi-lagi, jawabannya akan sangat relatif. Tergantung bagaimana ia didefinisikan dan dibuat batasan – yang sayangnya nihil dituliskan.

Memang benar, PPI Dunia tak bersifat komando kepada PPI Negara. Pucuk pimpinannya saja disebut Koordinator, yang tentu sifatnya koordinasi kepada organisasinya maupun mitra utamanya yakni PPI Negara. Bahkan, jika dilihat dengan sangat sekenannya, wujud PPI Dunia sepertinya baru terlihat agak jelas belakangan ini. Ibarat janin, ia seperti baru mulai memiliki tulang, daging, kulit, otak dan organ fungsional lainnya. Maksudnya adalah, kehadiran PPI Dunia sepertinya baru serius tertata, tampak dan berdampak belakangan ini. Cukup baru ketimbang sebagian PPI Negara yang notabene sudah aktif sejak belasan hingga puluhan tahun lalu dan relatif lebih stabil. Meskipun demikian, kebaruan ini semestinya tak jadi pembenaran PPI Dunia akan kebaian terhadap perwujudan visi dan misi pergerakannya. Harus terus berprogres.

Sebagai wadah berkontribusi, PPI Dunia setidaknya memungkinkan pelajar Indonesia di berbagai negara untuk berbagi gagasan melalui tulisan di website PPI Dunia, dan beberapa media online lainnya seperti Kompas.com. Selain itu, organisasi ini juga punya sekian program lain, sebut saja Bimbingan Beasiswa ke Luar Negeri, Bantu guru melihat dunia, PPI Dunia awards, dan lain sebagainya.  Meskipun demikian, satu hal yang perlu dipertanyakan, apakah PPI Dunia asyik berkreasi dan mencipta program sendiri, sehingga tampak jadi PPI Negara kesekian? Ataukah memang murni menjadi jembatan pergerakan antar PPI Negara? Belum lagi, PPI Dunia pun memiliki semacam percabangannya di beberapa kawasan seperti Asia dan Oseania, Timtengka serta Amerop yang konon berfungsi untuk memudahkan koordinasi dan diseminasi informasi. Hal ini tentu jadi perhatian baru, karena PPI kawasan tersebut juga punya program tersendiri. Apakah ini wujud organisasi di dalam organisasi, atau bagaimana? Seefektif dan seefisien apa kehadirannya bagi PPI Negara? Saya tak tahu juga. Yang jelas, jadi mau tanya saja deh, pusing tidak?

Terakhir, mari kembali ke hal mendasar yang jadi pertanyaan awal. Kolaborasi dan kontribusi seperti apa yang ingin dicipta oleh PPI Dunia ini? Bagaimana itu didefinisikan? Sejauh apa berperan? Apa saja batasan dan indikator keberhasilan? Sudah sampai di titik mana berjalan? Dan semoga, tak hanya PPI Dunia saja yang ditagih untuk berperan, melainkan juga keseriusan dari segenap PPI Negara yang jadi bahan baku bagi PPI Dunia.

Penulis:
Angga Fauzan
MSc Design and Digital Media candidate
The University of Edinburgh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *