Menilik PPI Dunia Selain Visi Besarnya

  •   
  •   

Perhelatan demokrasi dari pemilihan koordinator baru bagi PPI Dunia 2019/2020 sedang dimulai. Tiga kandidat dari tiga negara yang berbeda sudah berada di gelanggang adu gagasan. Setiap diksi dan narasi yang dikeluarkan tentunya akan jadi pertimbangan bagi tiap ketua PPI Negara dalam menentukan siapa sosok yang paling layak untuk memimpin perhimpunan diaspora intelektual muda ini.

Namun, dibalik tiap kata yang merefleksikan gagasan dibaliknya, perihal sumber daya manusia tentunya akan lebih sulit untuk dikuliti. Selain bagaimana karakter dan pola pikir si pemimpin yang akan terpilih itu sendiri, tentu pemilihan siapa saja yang menjadi tangan kanan kepercayaannya perlu diperhatikan – walaupun cukup sulit. Belum lagi, sudah menjadi konsekuensi logis bagi koordinator PPI Dunia nantinya untuk berkoordinasi dengan para ketua PPI Negara mengenai siapa saja yang akan membantu merangkai dan membumikan ide-idenya.

Sehingga, sangat wajar jika, minimal, para koordinator bidang atau divisi di PPI Dunia yang merupakan perwakilan dari tiap PPI Negara, harus juga mampu menjadi jembatan yang baik antara PPI Negara dan PPI Dunia. Mulai dari mendiseminasikan informasi dan kondisi dari PPI Dunia ke PPI Negara, mengkompromikan kolaborasi dan lain hal. Untuk itu, hubungan harmonis antar si perwakilan yang duduk di bangku organisasi PPI Dunia dengan PPI Negara asalnya mutlak dibutuhkan. Hal ini semestinya jadi pertimbangan utama bagi koordinator terpilih nantinya untuk menentukan orang-orang kepercayaannya, dan bagi (minimal) ketua PPI Negara untuk mengizinkan seseorang untuk mewakilinya di badan PPI Dunia.

Selain itu, persebaran perwakilan dari berbagai macam PPI juga menjadi kunci agar mampu mempererat kolaborasi secara luas serta membangun inklusivitas dalam organisasi. Puluhan PPI Negara sudah bergandengan tangan bersama di wadah sebesar PPI Dunia dan tentunya akan aneh jika perwakilan yang duduk di jajaran pengurus inti PPI Dunia hanya bertumpuk dari segelintir PPI Negara. Oleh karenanya, kerjasama aktif ini harus datang dari kedua belah pihak agar beban besar dalam memilih sumber daya yang cakap tak hanya bertumpu di pundak si koordinator terpilih.

Terakhir, rekam jejak dan karakter yang mampu diajak bergerak bersama tentu sangat dibutuhkan di kepengurusan PPI Dunia mendatang. Misal, sesederhana bisa dipimpin dan bisa memimpin hingga mampu mengosongkan gelas dan saling mengisi. Mengingat tiap individu yang bergabung tentunya punya kecakapan, strata pendidikan, pemikiran dan latar belakang yang berbeda. Segala macam kepentingan pribadi, golongan apalagi politis sudah semestinya dihilangkan dan tak turut dibawa masuk ke dalam organisasi PPI Dunia. Tak lucu rasanya jika kepengurusan PPI Dunia kelak malah terhambat oleh sebagian pengurusnya sendiri yang sarat akan kepentingan atau malah asik mengunggulkan urusan bidangnya semata ketimbang rumah PPI Dunia secara umum. Beruntung, pada era kepemimpinan Fadjar Mulya yang kebetulan berada pada tahun politik, PPI Dunia tak gampang terjerumus dalam pusaran politik praktis.

Gaya dan metode pemilihan tiap persona oleh koordinator PPI Dunia ini tentu sangat tricky dan susah sekali dikuliti pada ajang debat. Belum lagi, tiap kandidat tentunya punya preferensi pribadi tentang siapa dan bagaimana model orang-orang yang akan membersamainya. Namun, bukan berarti hal ini boleh lepas dari bahasan di ajang demokrasi ini. Dan semoga, kepengurusan dan kebermanfaatan PPI Dunia pada periode selanjutnya akan terus membaik. Baik dari segi dampak yang diberikan, hingga segenap sumberdaya yang menjadi motor penggeraknya.

Angga Fauzan
M.Sc. Candidate Edinburgh University

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *