Mau kuliah di Belanda? Jangan seperti Saya

Hari yang telah dinanti pun tiba. Saya, layaknya mahasiswa yang hendak merantau jauh, diantar oleh keluarga menuju bandara Soekarno-Hatta. Tak lama kemudian, Saya pun berpisah dengan keluarga karena pesawat yang akan Saya tumpangi hendak lepas landas dalam waktu yang singkat.

Menit demi menit dilalui dengan rasa gelisah. Gelisah karena … entah… Saya pun tak mampu menguraikan segala hal yang berputar-putar dalam benak Saya. Segala fasilitas yang disediakan oleh maskapai tersebut telah Saya coba. Hanya untuk sekedar menghibur diri. Namun, kegelisahan Saya tak mudah untuk dilenyapkan.

Singkat kata, pesawat pun mendarat di negeri kincir angin. Bukan hal yang lazim bagi Saya untuk berinteraksi dengan orang asing. Inferioritas muncul dalam benak Saya yang membuat Saya terlihat canggung untuk berinteraksi dengan orang asing ataupun mengikuti prosedur sebelum keluar dari bandara.

1

Hari demi hari, minggu demi minggu telah dilalui. Banyak hal menarik yang Saya alami dan Saya renungkan.

Saya yang dulu dan Saya yang sekarang

Selama duduk di bangku kuliah program sarjana, Saya merupakan seorang yang, bisa dibilang, dihormati. Dihormati karena segudang prestasi akademik, pengalaman berorganisasi, serta lingkaran pertemanan yang cukup luas. Saat itu, Saya merupakan gambaran nyata dari profil mahasiswa ideal dari sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia. Tak heran jika Saya mampu melanjutkan studi di perguruan tinggi ternama pula di Belanda. Dalam menjalankan aktivitas akademik, Saya tetap berusaha untuk menunjukkan bahwa Saya adalah mahasiswa yang terbaik. Tak hanya terbaik, melainkan layak untuk dihormati.

Hari demi hari pun berlalu. Tugas demi tugas dapat Saya selesaikan. Namun, mimpi untuk menjadi yang terbaik dan layak dihormati tampak hanya sekedar khayalan. Kenapa?

Saya pun dihadapkan dengan tugas kelompok. Sudah bertahun-tahun Saya selalu menjadi panutan dalam setiap pekerjaan yang diberikan. Ketika ada kesempatan, Saya selalu mencari aman dengan hanya mau bekerja dengan rekan satu negara. Tentu saja Saya akan sangat senang. Dan kembali merasa terhormat. Teman-teman Saya akan menganggap bahwa Sayalah yang paling dapat diandalkan. Saya seorang yang superior. Saya pun merasa aman, karena Saya tak perlu bersusah payah menggunakan bahasa asing, yang memang asing bagi Saya, untuk berkomunikasi dengan rekan kerja.

Namun, ketika sebuah pilihan tak lagi terbuka, Saya pun harus bekerja sama dengan rekan asing, yang memang asing bagi Saya. Tak ada lagi superioritas yang nampak pada diri Saya. Ketidakmampuan Saya untuk menghadapi kenyataan bahwa Saya sedang berada di lingkungan asing membuat Saya tampak inferior. Ketidakmauan Saya untuk beradaptasi atau keluar dari zona nyaman membuat Saya selalu merasa asing, inferior, dan kehilangan kebahagiaan menjadi seorang mahasiswa internasional. Saya pun mengakui bahwa Saya belum berhasil hadir dalam kekinian.

Asing pada budaya yang tak seharusnya asing

Sampai pada akhirnya Saya berkesempatan untuk menunjukkan warisan atau budaya yang harusnya dapat dibanggakan. Saat itu hari batik nasional. Tentu saja banyak notifikasi dari media sosial yang mengajak seluruh mahasiswa Indonesia di Belanda mengenakan baju batik lalu berfoto bersama. Entah apa tujuan dari ajakan tersebut. Apakah hanya program kerja semata. Ataukah ada tendensi untuk mengingatkan para mahasiswa Indonesia makna dari karya seni tersebut. Saya pun beraktivitas di kampus menggunakan kemeja batik.

Ketika Saya menggunakan kemeja Batik di Indonesia, orang-orang tak peduli dengan apa yang Saya kenakan. Batik bukanlah hal yang asing lagi apabila dikenakan di Indonesia. Dari sejak taman kanak-kanak, batik telah diperkenalkan. Baik pejabat, karyawan, ataupun tunakarya sekalipun tak asing dengan batik. Namun, ketika batik dikenakan ketika sedang berada di luar negeri, sudah menjadi kewajiban bagi seorang yang mengenakan untuk mampu menceritakan, paling tidak, sejarahnya atau arti di balik motif tersebut. Sayangnya, Saya tak mampu memuaskan rasa penasaran dari kawan internasional yang ingin mengetahui lebih dalam tentang arti corak yang terlukiskan pada kemeja yang sedang Saya kenakan. Saya memang, bisa dikatakan, mengecewakan karena masih asing dengan budaya yang seharusnya tak asing.

Pribadi yang seharusnya berdikari

Layaknya mahasiswa pada umumnya, tugas merupakan salah satu bahan evaluasi apakah mahasiswa sudah menguasai materi yang seharusnya mereka kuasai. Tiba saatnya hari pengumpulan. Saya diminta untuk mengumpulkan dokumen cetak. Untuk mempercantik dokumen tersebut, Saya berinisiatif untuk menjilid dokumen tersebut. Mengacu pada apa yang sering Saya lakukan di negara Saya, tentu saja Saya berharap agar petugas fotokopi yang menjilidkan tugas Saya dan Saya tinggal membayar sesuai tarif. “Penjilidan hanyalah sebuah pekerjaan remeh dibandingkan melakukan penelitian dengan menggunakan teori-teori serta simulasi dengan perangkat lunak yang canggih,” pikir Saya.

Namun, Saya pun terperanjat karena Saya hanya diberikan ring, kertas karton, serta kertas transparan untuk kover tugas Saya. Petugas fotokopi hanya memberi arahan singkat bagaimana mengoperasikan alat jilid. Ya betul! Saya harus mengerjakannya sendiri. Tak ada lagi pahlawan yang sebetulnya berkontribusi dalam kehidupan akademik Saya. Lalu, mampukah Saya mengerjakan pekerjaan remeh tersebut?

Individu yang ternyata tak selalu individualis

Beberapa doktrin atau informasi banyak yang mengatakan bahwa orang-orang Belanda adalah orang yang memiliki sifat egois. Hanya mementingkan diri sendiri. Mungkin benar. Mungkin salah. Mungkin Saya salah tafsir. Pertanyaannya adalah sejauh mana mereka bersikap individualis.

Suatu saat, Saya, yang selama ini lebih sering belajar di apartement, harus belajar di dalam perpustakaan. Minggu ujian merupakan minggu yang sakral sehingga Saya cukup sulit untuk mendapatkan kursi kosong. Setelah mencari-cari tempat yang nyaman untuk belajar di dalam perpustakaan, akhirnya Saya menemukan satu kursi kosong tetapi harus berbagi  meja dengan  orang lain. Orang lain itu tidaklah terlalu asing bagi Saya. Dia kawan Saya satu jurusan, namun berbeda kewarganegaraan. Dia orang Belanda. Ya Belanda. Yang terkenal dengan individualismenya. “Ya sudahlah,” pikir Saya. Akhirnya Saya memutuskan untuk belajar di tempat itu.

Menit demi menit berlalu tanpa suara karena Saya dan kawan Saya fokus dengan materi kuliah yang akan diujikan. Hingga tiba pada akhirnya Saya dan kawan Saya memulai percakapan ringan. Pertanda rehat sejenak akibat jenuhnya belajar. Tak Saya duga, kawan Saya menawarkan Saya secangkir kopi. Paling tidak, Saya tak harus beranjak dari tempat duduk karena kawan Saya yang akan mengambilkan secangkir kopi buat Saya. Apakah dia cukup individualis untuk menjadi seorang Belanda? Apakah dia terlalu Belanda untuk tidak menjadi individualis? Ataukah Saya yang belum mengerti paham individualis?

Tunggu. Kenapa Saya harus bingung? Selama Saya bisa berbagi, kenapa Saya terhambat dengan kekakuan Saya?

Salahkah Saya jika Saya minoritas?

Ketika Saya masih berada di negara Saya, Saya selalu berinteraksi dengan orang yang segolongan, sehingga Saya tak pernah merasa kesulitan. Bahkan Saya selalu dengan mudahnya menjalankan kebiasaan yang lazim dilakukan oleh Saya dan keluarga Saya. Pada intinya, Saya sering mendapat kemudahan karena Saya merupakan bagian dari mayoritas.

Namun, tidak semua kemudahan itu didapatkan ketika Saya hidup sebagai minoritas. Di Belanda, semua berbeda. Tidak semua seperti Saya. Tidak semua  seperti yang Saya harapkan. Kawan-kawan asing, terutama tuan rumah, akan berbicara dengan bahasa ibunya dengan kawan senegaranya ketika dalam satu kelompok kerja jumlah mereka mendominasi. Sempat terbersit dalam benak Saya, “Mengapa mereka tidak menghormati Saya?” Padahal  mereka mayoritas dan Saya minoritas. Lalu siapakah yang salah?

Epilog

Lalu siapakah Saya? Entahlah.. saya pun tidak mampu menguraikan. Yang dapat saya tegaskan adalah bahwa Saya merupakan rekonstruksi subyek baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman pribadi dalam mengamati perilaku beberapa kawan yang patut dijadikan bahan renungan.

Beberapa intisari dari goresan tinta di atas adalah

  1. Ketika seseorang hendak menuntut ilmu apalagi di luar negeri, hendaknya ia mampu mengosongkan dirinya. Ia akan berada di lingkungan yang berisi orang-orang yang setara atau bahkan lebih hebat dari dirinya. Di sinilah saatnya ia untuk mengembangkan diri dengan belajar dari orang lain.
  2. Saat seseorang akan pergi merantau, ia akan menjadi simbol dari golongannya. Maka dari itu, sudah sepatutnya ia mengerti budaya  yang secara tidak langsung akan ia perkenalkan di lingkungan barunya.
  3. Ketika seseorang hendak tinggal jauh dari orang tua, sebaiknya ia sadar bahwa ia tidak dapat bergantung terus menerus dengan orang tuanya. Seharusnya ia mampu hidup mandiri. Mandiri dalam mengerjakan berbagai hal, baik hal sederhana maupun hal rumit.
  4. Mandiri di sini tidak berarti sama dengan egois. Saat seseorang hendak hidup di lingkungan yang baru, hendaknya ia sadar bahwa ia akan bertemu dengan orang-orang baru. Ia sudah selayaknya untuk saling berbagi dan saling  menolong karena tak ada yang tau kapan ia berada di atas dan kapan ia berada di bawah.
  5. Ketika sesorang akan pergi meninggalkan kampung halamannya, hendaknya ia untuk belajar berbaur dengan lingkungan barunya. Ia sebaiknya sadar bahwa ia akan berada dalam kebudayaan yang berbeda. Alangkah indahnya apabila ia mampu menghargai siapapun serta budaya dimana ia tinggal. Ia selayaknya larut namun janganlah ia hanyut.

Akhir kata, saya mohon maaf apabila ada yang merasa tersinggung, tersindir, ataupun tersakiti. Namun, saya juga berterima kasih kepada seluruh kawan yang menjadi inspirasi penulisan esai ini.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. (2008, February 4). Kemdikbud. Retrieved from Kemdikbud Web Site: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/

Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. (2000). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (3rd ed.). Jakarta: Pusat Bahasa Department Penidikan Nasional. Retrieved from http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/pedoman_umum-ejaan_yang_disempurnakan.pdf

Ditulis oleh: Adrian Promediaz

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: