Never give up! Dreams do come true

Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ketika masih kecil, saya sempat tinggal bersama nenek saya yang seorang pekerja keras. Dari beliau saya belajar bahwa banyak yang tidak bisa kita diperoleh dengan mudah. Semua nya membutuhkan usaha yang tidak putus. Untuk mendapatkan sesuatu, kita harus benar-benar menginginkannya. Hingga ketika beranjak dewasa, saya mulai merasakan sendiri bahwa perjalanan untuk mewujudkan impian itu tidak mudah.

Mendaki, berkelok, kadang berlubang dan seringkali licin. Mungkin yang demikian itu yang saya alami selama ini, di perjalanan mencari beasiswa untuk bisa kuliah di luar negeri.Kuliah di luar negeri adalah mimpi yang sangat muluk untuk seorang saya. Anak pegawai negeri sipil dengan gaji tidak seberapa. Bukan termasuk yang cemerlang di kelas. Tapi saya percaya, barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Dan Tuhan Maha Mendengar. IA maha mengabulkan setiap doa. Dan Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali mereka berusaha untuk merubah nasib nya sendiri.Jadi, meski kadang rasa nya saya sudah ingin berhenti, saya belum bisa menyerah. Maka ketika saya jatuh berkali-kali, saya tetap terus berusaha berdiri, bangkit dan berlari.Karena menyerah, sudah bukan lagi pilihan.

———————-

Jika dirunut kembali, motivasi awal saya untuk kuliah di luar negeri, terutama di negara benua Eropa, mungkin ada andil dan provokasi dari dosen Ilmu Lingkungan di Fakultas  biologi Universitas Gadjah Mada, tempat saya menimba ilmu waktu sarjana. Beliau bernama Prof. Shalihuddin Djalal Tandjung.

Saya ingat, setiap Pak Djalal mengajar di kelas kami, beliau suka sekali bercerita tentang pengalaman beliau selama kuliah di benua Eropa. Saya pun jadi suka berkhayal, kuliah di Eropa pasti seru. Bisa mengunjungi semua tempat-tempat bersejarah dan memiliki pengalaman bergaul di lingkungan internasional.

Tapi, bagaimana mungkin saya bisa ke Eropa? Darimana biaya nya? Kuliah di bidang apa? Di universitas mana? Di Negara mana? Duh. Waktu itu banyak sekali yang ada di pikiran saya. Hingga kemudian saya menemukan sebah milis beasiswa di yahoogroups dan mulai bergabunng disana. Awal nya, saya hanya mencermati lika liku kehidupan dan pengalaman para laskar beasiswa, demi ikut belajar mengenai seluk beluk beasiswa dari diskusi para anggota milis.

Hingga kemudian, niat kuliah di LN dengan beasiswa semakin mengakar kuat. Dan demi itu, saya akhir nya mencoba berani untuk menjajal kemampuan bahasa Inggris saya. Pertama, saya ikut tes bahasa Inggris. TOEFL. Kemudian, Dang! Nilai pertama saya keluar, cuma 470. Tentu ya masih sangat jauh dari cukup dari syarat minimal untuk bisa mendaftar beasiswa. Apa pun beasiswa nya. Waktu itu, saya masih berstatus mahasiswa tingkat akhir.

Tapi, saya belum patah semangat. Setidak nya saya tahu start awal saya dan akhir nya mulai berani meneguhkan niat. Saya kemudian juga mulai mengumpulkan banyak informasi seputar beasiswa terutama beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Saya juga mengumpulkan berbagai formulir beasiswa, saya unduh dari website dan saya pelajari. Saat itu, saya belum memiliki keberanian untuk mencoba. Jadi, saya memutuskan untuk menunggu.

Setelah akhir nya lulus dari fakultas Biologi UGM, target beasiswa pertama saya adalah MONBUKAGAKUSHO, dari pemerintah Jepang. Sambil belajar bahasa Inggris untuk mengejar syarat TOEFL 550, saya juga mulai mempelajari bahasa Jepang. Hingga kemudian, niat saya tertunda karena sudah diterima bekerja di sebuah instansi penelitian USNAMRU2 di Jakarta.

Ketika bekerja di NAMRU, saya berkenalan denan beasiswa BGF, dari pemerintah Perancis. Beasiswa BGF tidak mensyaratkan bahasa Inggris, namun lebih diprioritaskan bisa berbahasa Perancis. Ketika itu, nita saya kembali mentok di TOEFL 525 dan sudah hampir menyerah dengan bahasa Jepang yang tidak ada kemajuan.

Saya kemudian berpikir pindah haluan dan akhirnya saya memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan mengirimkan aplikasi beasiswa BGF dan ikut mengambil kursus bahasa Perancis di CCF,Salemba. Tapi sayang nya, hingga setelah saya pindah kerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, aplikasi BGF saya ternyata ditolak. Namun demikian, niat kuliah di LN semakin menjadi setelah saya bekerja di LIPI. Ditambah lagi, referensi beasiswa juga semakin banyak: Fullbright, ADS, DAAD, VLIR, Stuned, NFP, Erasmus Mundus, dan lain sebagai nya.

Kegagalan demi kegagalan membuat saya berpikir dan kemudian memutuskan merubah strategi. Semula, langkah pertama saya adalah dengan mendaftar beasiswa terlebih dahulu, lalu mendaftar di universitas tujuan setelah memiliki beasiswa. Namun setelah perenungan panjang, akhir nya saya memberanikan diri untuk merubah strategi.

Satu, saya akhir nya memutuskan untuk membuat paspor terlebih dulu. Awal nya saya tak berpikir akan membuat paspor karena memang sedang tidak berencana untuk ke luar negeri.

Dua, sambil saya berjuang dengan TOEFL, saya juga mengambil kursus IELTS. Setidak nya, saya punya back up.

Tiga, saya memberanikan diri untuk mendaftar di universitas tujuan meski nilai TOEFL saya masih jauh dari syarat minimal.

Jika saya berfikir ulang, motivasi saya ketika memilih universitas di Belanda mungkin ada kaitan nya dengan almarhum nenek yang memang separuh Dutch. Target universitas tujuan waktu itu adalah Leiden University dan Wageningen University. Leiden, karena dulu nenek sering menyebut kota itu. Wageningen, karena provokasi seorang teman yang alumni dari Wageningen. Selain itu, Research Centre nya Wageningen University kata nya memang the best di Europe.

Awal tahun 2010, saya berhasil mendapatkan acceptance letter dari Wageningen University. LoA tersebut kemudian saya gunakan untuk mendaftar beasiswa STUNED. Dalam perjalanan nya, ternyata STUNED bukan jodoh saya. Maka target selanjut nya adalah beasiswa NFP. Saya menemukan info  website Nuffic bahwa NFP membuka kesempatan dua kali pendaftaran dalam setahun. Waktu itu, saya mendaftar untuk winter semester yang memulai perkuliahan di bulan Februari. Maka dengan berbekal bismillah, seminggu sebelum deadline, saya mengirimkan aplikasi NFP saya, waktu itu masih ke NESO-Indonesia di Jakarta.

Terus terang, saya bahkan nyaris melupakan aplikasi NFP saya. Hingga di hari Jum’at, 10 Desember 2010 itu, saya iseng membuka gmail dan menemukan surat eletronik yang dikirimkan oleh Student Service Centre (SSC) Wageningen University.
Subject: NFP fellowship selection.

“Dear Akhirta, Congratulations! On behalf of the Dutch Government, we are pleased to offer you a fellowship under the Academic Programme of the Netherlands Fellowship Programme (NFP-AP) for the MSc Programme Biology starting in February 2011…dst.. dst..”

Whoaaa.. Rasa nya masih seperti mimpi ketika saya membaca surat elektronik tersebut. Berkali-kali saya baca, huruf nya saya cermati satu persatu, hingga saya benar-benar percaya dengan apa yang saya lihat.

Alhamdulillah… Akhirnya… Kesabaran dan perjuangan itu berbuah juga. Bulan Januari 2011, Garuda Indonesia membawa saya terbang dari Ahmad Yani Semarang ke Soekarno-Hatta, Jakarta, dengan tujuan akhir Schipol, Belanda.

Kalau boleh saya jujur, saya tidak bisa mengatakan bahwa kuliah di luar negeri itu banyak enak nya daripada tidak enak nya. Karena sebenar nya, beban itu justru menjadi dua kali lipat. Bisa dibayangkan, kuliah dan pergaulan sehari-hari dengan bahasa yang bukan bahasa ibu, hidup di lingkungan asing yang seringkali melihat kita secara berbeda, berbagai makanan yang terasa asing di lidah, jauh dari sanak keluarga tercinta. Dan masih banyak lagi yang lain yang kita kenal sebagai culture shock.

Dulu, ketika saya bercerita tentang keinginan kuliah di LN, seseorang pernah berkata: “Kuliah di luar negeri itu berat loh. selain kita harus siap segala administrasi, kita juga harus siap secara mental. Budaya nya beda. Bahasa nya beda. Yakin kamu bisa?”

Dan kini, setelah dua tahun saya menghirup udara Belanda, dan hidup di dalam impian saya, merasakan suka duka jatuh bangun nya kuliah di Wageningen University, saya akhir nya bisa berkata bahwa ternyata saya bisa. Dan pengalaman yang diperoleh selama kuliah dan hidup di LN ini tentu nya sangat berharga untuk kelak dibawa pulang ke Indonesia. Menurut saya, bukan hanya sekedar pengalaman akademisnya saja yang bisa dibawa pulang, namun banyak lagi pengalaman yang lain nya juga yang bisa membuka mata, hati dan pikiran kita. Terlebih ketika akhir nya saya memiliki kesempatan bergabung dan “terjebak” di lingkaran Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI): PPI Wageningen, PPI Belanda, RadioPPIDunia, saya merasa menemukan satu pelajaran maha penting yang membuat saya kembali percaya. Percaya bahwa Indonesia masih punya harapan, selama anak-anak bangsa di seluruh dunia masih memiliki cita-cita dan mau bersatu demi Indonesia.

Akhir nya, jangan pernah menyerah. Bermimpi lah yang tinggi. Bercita-cita lah yang besar. Dan tetap teguh berjuang untuk mewujudkan nya!
After all. Dreams do come true!

Ditulis oleh Akhirta Atikana
Penerima beasiswa NFP
Master in Biology, Wageningen University

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: