PPI UK Roundtable Discussion: International Women’s Day

Leicester – Pada tanggal 4 Maret 2017, Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kingdom (PPI-UK) bekerjasama dengan PPI Leicester, menyelenggarakan acara Roundtable Discussion dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional dengan tema diskusi “Towards Two Decades of Reformasi: Indonesia’s Leadership in Eliminating Violence and Discrimination against Women”.

Acara yang diselenggarakan di Universty of Leicester ini dihadiri oleh Hana A. Satriyo, Pakar Gender dan Demokrasi Indonesia, dan Andalusia T. Tunggadewi sebagai Koordinator Fungsi Politik KBRI London. Selain itu, dua pembicara lainnya adalah Desy A. Primasari, mahasiswi S3 Politik di Lancaster University dan Jonta Eliakim Saragih, mahasiswa S2 bidang Global Development & Gender Leeds University.

Acara dimulai dengan kata sambutan dari Kepala Departemen Kajian Riset dan Strategis, Samuel Putra. Kata sambutan disampaikan untuk semua peserta acara, termasuk moderator Soe Tjen Marching, dosen senior di Studi Asia Tenggara SOAS London, aktivis, penulis, dan komposer perempuan. Kata-kata sambutan dilanjutkan oleh ketua PPI Leicester, Mohamad Arif Ismail. Suasana berlangsung santai dan para peserta terlihat antusias untuk mendengarkan presentasi dari para pembicara yang telah mempersiapkan diri.

Presentasi pertama dimulai dari Hana A. Satriyo. Beliau memaparkan apa saja usaha yang telah Indonesia lakukan dalam menghapuskan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Beliau menyebutkan bahwa terdapat 305.535 kejadian kekerasan yang terlapor pada tahun 2015 di Indonesia. Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya dimana terdapat 280.710 kasus yang terlapor. Selain itu, UU No.23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Rumah Tangga (PKDRT) menjadi terobosan karena mengakomodir berbagai bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik, ekonomi, dan seksual – termasuk perkosaan dalam perkawinan. Hana menyayangkan bahwa 90% perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga justru kembali kepada suaminya.

Fakta lainnya adalah kekerasan tidak terjadi hanya kepada kaum perempuan. Seperti yang beliau katakan, “In a gender biased society, it is also not easy for a husband to say that I am male and a victim of domestic violence. Domestic violence also can means parents can’t accept that their son is transgender”. Di lingkungan Indonesia, tentu kekerasan rumah tangga yang menimpa laki-laki adalah hal yang jarang didengar telinga, terlebih untuk transgender.

Sesi dilanjutkan dengan presentasi dari Andalusia Tunggadewi. Di dalam presentasinya, beliau menjelaskan bahwa Indonesia telah meratifikasi 8 dari 9 kovenan internasional tentang hak asasi manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia telah melakukan banyak hal untuk melindungi Hak Asasi Manusia. Beliau juga menyatakan bahwa Indonesia sangat aktif di tingkat regional, baik di ASEAN maupun di OKI untuk mempromosikan hak perempuan. Ia menyampaikan bahwa terdapat 1 kebijakan diskriminatif yang akhirnya dicabut, yakni Peraturan Gubernur No.71/2015 tentang Desa Berbudaya.

Di akhir presentasinya, salah satu peserta acara menanyakan bagaimana pandangan Menteri Hubungan Luar Negeri terhadap kekerasan kepada Tenaga Kerja Iindonesia. Andalusia menjawab “Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia and Lembaga Bantuan Hukum Indonesia always try to advance their efforts on this case. It becomes priority under our foreign policy. There is a strong cooperation with IOM in developing capacity building on diplomat to address the cases although there is not yet an adequate data in regard to gender based handling cases of migrant workers.”

Pembicara selanjutnya adalah Desy Ayu Pirmasari yang mengangkat tentang diskursus gender dalam penerapan Hukum Syariah di Aceh. Desy menyatakan bahwa diskursus gender sudah dimulai saat Orde Baru menerapkan konsep Ibuisme dengan menekankan bahwa perempuan harus memenuhi kodratnya. Lebih lanjut, diskursus ini semakin membuat situasi perempuan semakin buruk di konteks pos konflik. Dalam hak penerapan Hukum Syariah di Aceh, berbagai peraturan membuat perempuan harus mengenakan busana tertentu dan dilarang beraktivitas diatas jam 11 malam. Di Lhokseumawe, bahkan ada peraturan mengenai cara duduk perempuan di atas motor. Soe Tjen menambahkan, faktanya, di zaman pre-Indonesia, perempuan lokal Indonesia memiliki tradisi tidak menggunakan pakaian yang menutupi dada sampai akhirnya orang Eropa datang dan menerapkan aturan berbusana.

Di akhir presentasinya, Desy menceritakan bagaimana Aceh juga berusaha mengubah sejarah dengan memasang gambar Cut Nyak Dien yang mengenakan hijab. Kenyataannya, gambar tersebut bukanlah Cut Nyak Dien melainkan istri dari Panglima Polim. Lebih lanjut, Ia menekankan pentingnya agensi perempuan Aceh dalam perubahan sosial dengan memberi contoh peran perempuan dalam proses negosiasi Aceh dan membangun jurnalisme damai di Aceh.

Pembicara terakhir, Jonta Saragih mengulas tentang konsep gender dalam pembangunan. Ia menegaskan bahwa gender dan pembangunan seharusnya dapat menangani akar permasalahan subordinasi perempuan di masyarakat, bukan mem-viktimisasi atau menjadikan perempuan sebagai penerima manfaat. Hal ini dicontohkan melalui konsep pemberdayaan gender yang membuat perempuan sebagai pihak yang harus diberdayakan. Jonta menyayangkan bahwa kesetaraan gender belum terimplementasi dengan baik di institusi publik di Indonesia. Hal ini ditunjukkan melalui peristiwa yang baru terjadi saat Direktorat Jendral Pajak mengeluarkan tweet kontroversial dari akun resminya yang merendahkan kaum perempuan. Tweet ini mendapatkan kecaman dan berbagai komentar dari kalangan Netizen. Walau pada akhirnya mereka meminta maaf dan menyatakan bahwa institusinya berkomitmen untuk menjunjung tinggi kesetaraan gender, pertanyaan Jonta tentang apakah perempuan benar-benar sudah setara masih harus dibuktikan sungguh-sungguh oleh institusi publik di Indonesia dalam penerapan berbagai aturan dan pelayanannya.

 

(Rinna Santi Sijabat / NZ)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: