Gelar Bukber di Kampus Jepang, Mahasiswa RI Kenalkan Ramadan

Shizuoka – Tradisi buka puasa bersama alias bukber sudah menjadi menu wajib di bulan Ramadan. Begitu pun bagi mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di luar negeri, ini tentunya menjadi hal yang sangat dirindukan.

Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Indonesia di Shizuoka University Jepang, buka puasa bersama atau ifthar menjadi momen penting untuk mengenalkan Ramadan di Jepang. Tak sedikit orang Jepang yang penasaran ingin tahu apa itu Ramadan dan mengapa umat Islam harus berpuasa sebulan penuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto: Salah satu mahasiswa Indonesia menjelaskan tentang Ramadan dalam buka puasa bersama di Shizuoka University (Dina Istiqomah)

 

Acara yang digelar pada hari Jumat (2/6) lalu dihadiri oleh dosen, mahasiswa Jepang, Malaysia, Bangladesh dan Thailand. Rektor Shizuoka University, Kiyoshi Ishii, yang turut hadir mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Ketika dikonfirmasi oleh panitia, Ishii langsung menyatakan bersedia untuk hadir dan mendukung sepenuhnya. Dalam sambutannya, Ishii berharap momen tersebut menjadi ajang untuk mengenal Islam lebih dekat dan meningkatkan bentuk toleransi antar umat beragama.

 

Foto: Sambutan Rektor Shizuoka University, Kiyoshi Ishii saat acara buka bersama (Dina Istiqomah)

 

Selama acara berlangsung, semua yang hadir terkesan dengan persiapan dan pelayanan yang diberikan. Antusiasme terlihat ketika suara azan dikumandangkan, salat berjamaah dan penjelasan mengenai serba- serbi Islam khususnya tentang Ramadan.Acara yang digelar pada hari Jumat (2/6) lalu dihadiri oleh dosen, mahasiswa Jepang, Malaysia, Bangladesh dan Thailand. Rektor Shizuoka University, Kiyoshi Ishii, yang turut hadir mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Ketika dikonfirmasi oleh panitia, Ishii langsung menyatakan bersedia untuk hadir dan mendukung sepenuhnya. Dalam sambutannya, Ishii berharap momen tersebut menjadi ajang untuk mengenal Islam lebih dekat dan meningkatkan bentuk toleransi antar umat beragama.

Tak ketinggalan, soto ayam menjadi menu utama dalam acara tersebut, dan palu butung sebagai hidangan pembuka. Bahkan hampir semua yang hadir rela mencicipi sambal cabe hijau dan sambal tomat yang turut serta dihidangkan, bagi mereka itu satu hal yang menantang.

Foto: Soto ayam jadi menu utama buka puasa yang digelar mahasiswa Indonesia di Shizuoka University (Dina Istiqomah)

 

Jumlah mahasiswa muslim yang semakin meningkat di Jepang menjadi perhatian oleh pihak Universitas untuk menyediakan pelayanan yang memadai, seperti ketersediaan makanan halal di kafetaria dan tempat ibadah. Diungkapkan oleh Wakil Rektor Shizuoka University, Reiko Motohashi, dirinya akan terus membantu mewujudkan “halal food” dan musala yang strategis letaknya, sehingga mahasiswa muslim dapat melakukan ibadah, sebagai kewajibannya, dengan nyaman.

Foto: Mahasiswa Jepang tak segan mencicip sambal cabe hijau yang sangat pedas (Dina Istiqomah)

 

Berpuasa di negeri orang memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan puasa di negri sendiri. Jika di dalam negeri sekarang hanya sekitar 13 jam, di Jepang harus menunggu 3 jam lebih lama dan mencoba bertahan dengan kondisi lingkungan yang mulai panas kering menjelang summer alias musim panas.

Untuk waktu Shizuoka, waktu Subuh untuk saat ini sekitar pukul 02.48 dan matahari terbit sekitar 04.32. Sedangkan waktu Magrib di Shizuoka untuk saat ini pada pukul 18.58 dan akan terus bertambah lama hingga akhir Ramadan, mengingat pada bulan Juni matahari berada pas di posisi belahan utara.Berpuasa di negeri orang memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan puasa di negri sendiri. Jika di dalam negeri sekarang hanya sekitar 13 jam, di Jepang harus menunggu 3 jam lebih lama dan mencoba bertahan dengan kondisi lingkungan yang mulai panas kering menjelang summer alias musim panas.Jumlah mahasiswa muslim yang semakin meningkat di Jepang menjadi perhatian oleh pihak Universitas untuk menyediakan pelayanan yang memadai, seperti ketersediaan makanan halal di kafetaria dan tempat ibadah. Diungkapkan oleh Wakil Rektor Shizuoka University, Reiko Motohashi, dirinya akan terus membantu mewujudkan “halal food” dan musala yang strategis letaknya, sehingga mahasiswa muslim dapat melakukan ibadah, sebagai kewajibannya, dengan nyaman.

Ditambah lagi ketersediaan makanan halal yang masih cukup langka di sini mengharuskan mahasiswa muslim memasak sendiri di apartemen masing- masing. Beruntungnya sebagian besar jumlah mahasiswa Indonesia di Shizuoka University menempati asrama mahasiswa yang difasilitasi oleh kampus. Sehingga, mahasiswa yang berpuasa bisa saling berbagi makanan dan bergantian untuk saling memasak dalan skala besar.

Begitu pun dengan salat tarawih berjemaah, mahasiswa menggunakan hall asrama sebagai tempat salat berjemaah. Salat tarawih di hall asrama dijadwalkan setiap pukul 21.00 waktu Shizuoka. Namun, banyaknya mahasiswa yang pulang malam karena masih melakukan riset di kampus dan acapkali ada beberapa mahasiswa yang bekerja paruh waktu, sehingga seringkali mundur waktunya untuk menunggu jumlah jemaah cukup banyak.

Foto: Salat Magrib berjemaah di Shizuoka University (Dina Istiqomah)

 

Bersyukur salah satu di antara mahasiswa ada salah seorang lulusan pesantren yang fasih dan mengetahui banyak soal agama. Adalah M Nurrohman Sidiq, mahasiswa S2 Kimia (alumni UGM) yang merupakan lulusan pesantren Krapyak Yogyakarta. Ia dengan senang hati membimbing teman- teman lainnya untuk meningkatkan ibadah selama bulan Ramadan dan menjadi imam setiap salat tarawih.Sebetulnya di Shizuoka terdapat musala yang berada di tengah kota. Namun karena kapasitas yang kurang memadai untuk menampung semua jemaah salat tarawih, sehingga mahasiswa yang menempati asrama memilih untuk melakukan salat tarawih berjamaah di hall asrama.

Bagi orang Jepang, puasa merupakan hal yang sangat mustahil dilakukan, karena mereka berpikir setiap waktu manusia memerlukan asupan makanan. Tak sedikit yang merespons “No..I will die“.

Tapi bagi seorang muslim, bulan Ramadan adalah bulan yang paling ditunggu- tunggu di antara 11 bulan lainnya. Haus dan lapar tidak dirasakan meskipun masih berkutat dengan riset dan kegiatan kampus yang menguras tenaga & pikiran. Itulah yang membuat orang Jepang sangat takjub dengan puasa Ramadan.

Namun setidaknya, kami mahasiswa Muslim di Jepang khususnya Shizuoka merasa bersyukur untuk mengalami berpuasa hanya dalam 16 jam, berbeda dengan mahasiswa muslim di Eropa bagian utara yang harus bertahan lebih lama.

*) Dina Istiqomah adalah Mahasiswa Doktoral United Graduate School of Agricultural Science, Gifu University- Participated Univ: Shizuoka University ; Anggota Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama dan partisipasi Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: