Safari Ramadan di Kota Singa: Masjid ‘Go Green’ hingga Ramah Anak

Singapura – Singapura bukanlah negara yang penduduknya mayoritas Muslim, namun bukan berarti Singapura tidak ramah Muslim. Dan tahun ini adalah kali kedua saya menghabiskan Ramadan di Singapura untuk menemani suami saya yang bekerja di sini.

Selebihnya saya berdomisili di Malaysia untuk studi master saya. Sebagai pasangan suami-istri ‘baru’ setahun dan belum memiliki anak, kami leluasa untuk pergi ke masjid manapun yang ada di Singapura. Biasa saya janjian untuk bertemu suami di stasiun MRT tertentu untuk sama-sama berbuka di masjid yang akan di kunjungi.

Biasanya suami saya baru pulang kantor pukul 18.00 waktu setempat dan langsung ke lokasi janjian, dan saya berangkat dari rumah membawakan baju ganti ke lokasi yang sama.

Alhamdulillah, di Singapura, masjid pun tidak kalah modern dan bersih. Setiap masjid yang kami kunjungi selalu membuat kami takjub terlebih para pengurus masjid, terutama imam masjidnya, adalah kaum muda dengan kualitas yang luar biasa.

Masjid Go Green

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saking seriusnya, suami saya menceritakan bahwa masjid yang biasa ia kunjungi untuk salat jumat memutar video khusus kepada jemaahnya untuk menggalakkan programnya. Saya juga seringkali mendapati stiker khusus besar di depan pintu masuk masjid untuk mengajak jemaahnya mengamalkan program “Go Green” dengan berhemat air wudu.

Salah satu contohnya gambar di atas, di Masjid Sultan (Masjid Terbesar di Singapura) pipa air wudunya diberi stiker untuk mengingatkan dan dipasang nozzle khusus agar airnya tidak meluncur deras. Dan yang paling saya gemari adalah setelah berwudu di sediakan layar untuk memberi poin pelayanan mereka.

Masjid Ramah Anak dan Orangtua

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masjid Raudhah adalah masjid yang paling sering kami kunjungi karena lokasinya yang relatif dekat dengan rumah kami. Jadi, kalau suami agak telat pulang kantor, untuk mendapatkan waktu berbuka di masjid kami langsung menuju ke masjid ini.

Hari pertama tarawih, setiap jemaah diberi sekotak kurma dari donatur. Untuk anak-anak mendapat bonus suvenir untuk menambah semangat mereka berpuasa, bahkan tahun lalu mereka mendapatkan balon-balon bertemakan Ramadan sehingga mereka ramai datang ke masjid.

Bahkan banyak saya jumpai ibu-ibu yang turut membawa bayi mereka untuk salat berjamaah dan menggendongnya saat salat, pemandangan yang masih sangat jarang saya jumpai di Indonesia. Terlebih bagi orangtua atau ibu-ibu atau bahkan anak muda yang memiliki penyakit tertentu sehingga tidak bisa salat dengan berdiri, kursi telah disediakan khusus di belakang bagi mereka agar tetap bisa salat berjemaah.

Saat saya berbuka di Masjid Mujahidin yang berlokasi dekat dengan kantor suami, saya berkenalan dengan istri rekan kerja suami yang berasal dari Jakarta. Ia mengajak keempat anaknya termasuk bayi berusia satu bulan berbuka puasa bersama di masjid. Ia merasa aman dan nyaman mengajak mereka semua karena memang Singapura terkenal aman dari penculikan ataupun kejahatan lainnya.

Menu Buka Tak Biasa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penduduk Singapura yang beraneka bangsa mempengaruhi menu buka puasa yang ada. Tapi yang jelas, masjid-masjid di Singapura menyediakan makanan pembuka dan makanan berat.

Makanan pembuka yang pasti ada adalah kurma dan buah manis, teh dan sirup serta bubur. Dan makanan beratnya beraneka macam seperti nasi putih atau briyani dan terkadang juga roti.

Makanan berat disajikan dalam sebuah nampan untuk empat orang jemaah. Untuk orang tua bahkan disediakan meja khusus agar mereka tidak kesulitan duduk.

Jadi apabila Anda ingin merasakan suasana Ramadan lebih bermakna bersama saudara sesama muslim dibanding berbuka sendiri di rumah, sebaiknya datang lebih awal ke masjid agar Anda mendapat pelayanan prima dari para panitia.

Mereka dengan senang hati mengarahkan dan menjamu kita di sana. Selain mendapat teman baru, menu berbuka kita akan lebih bervariasi. Sebab itu datang lebih awal lebih baik karena muslim lainnya juga berbondong-bondong mendapat berkah Ramadan di masjid. Jangan sampai anda kehabisan tempat atau tertinggal masa berbuka bersama.

Meski demikian, apabila ada jemaah yang telat, masih mendapat menu berbuka meskipun sedikit mengganggu jemaah yang lain yang khusyuk berbuka. Namun seringkali kami masih bisa membawa semangkuk bubur yang diberikan panitia karena berlebih.

Menu Indonesia Mudah Ditemui

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Orang Indonesia yang merindukan menu Indonesia di Singapura tidak terlalu kesulitan untuk mendapatkannya karena banyak juga rumah makan khas Indonesia seperti Rumah Makan Cak Ndut di daerah Orchard. Selain itu, saat Ramadan juga terdapat bazar besar di daerah Geylang, yang memang telah dihias sedemikian rupa sehingga kita bisa merasakan betul suasana Ramadan di sana. Meskipun tidak 100 persen sama dengan bazar di Indonesia.

Dan jangan khawatir, apabila menu berbuka kurang sesuai dengan selera Anda, tepat di sekitar bangunan masjid telah disediakan stand makanan khusus menjelang berbuka. Jadi sekalian berwisata kuliner di sana.

*) Rita Fatimah adalah Master Candidate of Islamic Revealed Knowledge and Human Science International Islamic University Malaysia (IIUM), anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) IIUM.

 

 

 

 

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: