7 Alasan Kenapa Jangan Melanjutkan Sekolah Ke Luar Negeri, Kalau Kamu……

featured

Akhirnya… setelah sekian lama di kepala, kesampaian juga niat gue untuk mengeluarkan uneg-uneg gue ini dengan tulisan. Yah namanya juga anak sekolah, dibiayain negara pula, mesti kuliah dengan baik dan yang bener dong ya…hehe.

Ps: Tulisan ini ga bermaksud apapun selain untuk dibaca dengan santai hehe

Melanjutkan sekolah ke luar negeri bagi sebagian besar orang Indonesia dulunya adalah sebuah mimpi, termasuk salah satunya adalah bagi gue. Sekolah di luar negeri buat gue adalah suatu hal yang sangat mahal karena emang lo butuh banyak uang untuk bayartuition fee yang beribu-ribu euro/dollar/pounds yang kursnya juga bikin sakit kepala kalau di rupiahin. Belum lagi biaya bulanan yang mungkin bisa menguras tabungan orang tua di bank.

Kabar baiknya adalah kuliah ke luar negeri sekarang bukanlah mimpi. Ratusan bahkan ribuan beasiswa disediakan oleh Pemerintah Indonesia dan atau negara tujuan setiap tahunnya! Dengan bekal tekat dan usaha yang kuat, atau bisa dibilang nekat… lo bisa kuliah ke luar negeri. At least, itu menurut gue. Sudah sangat banyak tulisan yang mengulas kenapa kalian HARUS berkuliah ke luar negeri dan BAGAIMANA caranya untuk bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri, tapi apakah kalian siap dengan apa yang kalian akan hadapi nantinya? Banyak sekali tulisan yang mengiming-imingi indahnya sekolah di luar negeri (plus jalan-jalan) secara gratis dengan menggunakan beasiswa,  namun sangat sedikit sekali tulisan yang mengulas ‘ga enaknya’ sekolah di luar negeri. Menurut gue, situasi ini agak sedikit ga adil (dan bahkan ga real) karena lo hanya memperlihatkan kesenangan lo selama di luar negeri tanpa memperlihatkan susahnya ketika lo menjalani hidup lo di negara orang. Silahkan judge gue sebagai orang yang kurang bersyukur, tapi gue hanya memberikan fakta supaya lo berpikir ulang sebelum memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

7 alasan di bawah ini wajib banget lo pikirkan dengan matang sebelum lo memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri

#Alasan 1: Perbedaan cuaca yang super ekstrim

Tinggal di Belanda membuat gue sangat bersyukur gue lahir dan besar di Indonesia. Sebelumnya gue selalu mengutuk Jakarta dengan panasnya dan polusinya yang gila! Sekarang? gue merasakan betapa ga enaknya tinggal di daerah subtropis. Gimana ngga? di Indonesia iklimnya hangat dan bersahabat. Di Belanda? Even dutch told me “welcome to the Netherlands, when the weather here just to annoy you!”, itu kata warlok aka warga lokal sini lhoo. Gimana nggak?! Gue pernah mengalami 4 cuaca dalam 1 hari – cerah, mendung, hujan, salju lalu cerah lagi. Buat orang tropis, seperti gue dan kebanyakan orang Indonesia lainnya, kalau liat salju seneng dan noraknya minta ampun! Pertama kali gue liat salju turun, refleks gue ngangain mulut ke langit terus makan saljunya. Tapi percayalah, kalo sebulan penuh lo liat salju terus, KELAR idup lo. Capek! Mau ke supermarket jarak 5 meter aja harus pake baju super tebel. Itu juga masih bagus kalau lo bisa lihat salju, lah di Belanda? Gue Cuma dapat ANGIN doang sama es… hampir setiap hari mendung, kelam, kelabu, sendu, galau….apalagi buat yang jomblo atau LDR. ABIS idup lo. Hahaha. Jalanan beku, kalau naik sepeda mesti hati-hati, kalo ga, tabrakan terus jatuh. HUJAN ES itu super sakit kalo kena dimuka. Pernah suatu hari gue pulang sekolah cuaca cerah, tiba-tiba di tengah jalan hujan es dan sakit banget kena kepala dan muka. Bayangin aja es serut yang dijual sama tukang es teler nimpa di muka lo dengan kecepatan angin sekian km/h. KELAR.

welcome to the Netherlands, when the weather here just to annoy you!

1

#Alasan 2: Perbedaan budaya yang ekstrim

Well, ga cuma cuaca yang ekstrim. Ketika lo memutuskan untuk sekolah ke luar negeri, berarti lo juga sudah harus siap untuk menghadapi berbagai macam orang dengan bermacam latar belakang dan budaya. Beruntung buat lo yang bisa tinggal private room dengan shared kitchen dan toilet yang memadai, misalnya 3-5 kamar dalam 1 rumah. Seenggaknya, lo bisa saling mengenal housemate lo dengan baik. Lebih beruntung lagi kalau lo bisa tinggal di private apartment yang punya dapur dan kamar mandi di dalam. AMAN SEJAHTERA hidup lo. Lah tapi kalau lo harus tinggal di student housing yang menyediakan 1 kamar dengan 3 kasur didalamnya dan jumlah shared toilet yang sangat terbatas, bisa 1:15 (yang artinya 1 toilet buat ber-15 orang). Belum lagi lo ga tau siapa house/room mate lo dan seperti apa budaya mereka. Ada yang suka party tiap hari sehingga mengganggu waktu belajar lo, ada yang suka masak tapi ga pernah bersihin dapur, ada yang jorok banget pas make toilet, ada yang suka pake barang lo sembarangan, dan lain lain (silahkan komen dan tambahkan hehe)… dengan segala kemungkinan terburuk yang gue sebutkan itu, apakah lo siap?

2

Ada yang suka party tiap hari sehingga mengganggu waktu belajar lo, ada yang suka masak tapi ga pernah bersihin dapur, ada yang jorok banget pas make toilet, ada yang suka pake barang lo sembarangan, dan lain lain (silahkan komen dan tambahkan hehe)… dengan segala kemungkinan terburuk yang gue sebutkan itu, apakah lo siap?

#Alasan 3: Hal yang paling ngangenin adalah makanan Indonesia

Well, mungkin hal ini agak ga berlaku buat gue, karena di Belanda, gue bisa menemukan hampir semua bumbu dan bahan makanan untuk membuat masakan Indonesia. Bahkan kalau lo males masak, banyak banget restoran cina atau Indonesia yang cukup murah untuk sesekali eating out. Tapi kalau lo kuliah di negara yang ada di eropa timur seperti Polandia? Atau eropa utara seperti di Scandinavia? Pasti lo mengalami gejala kangen dengan masakan dan bumbu Indonesia….apalagi kalau lagi musim dingin, paling enak kan nyeruput bakso anget-anget pakai teh botol sosro…

3

#Alasan 4: Males masak? Cuma ada 2 opsi: lo anak konglomerat atau lo mau mati kelaperan

Sebelum gue kuliah di Belanda sebenernya gue juga sekolah di kota yang berbeda dengan orang tua gue. Walaupun sama-sama jadi anak kos, waktu gue kuliah S1, gue ga pernah masak! Tinggal ngesot ke warteg dan menggenggam uang 7000 rupiah, gue bisa dapat ayam, nasi, dan sayur, ngapain gue masak? repot amat mending tidur kan (emang dasar anaknya pemalas). Lah di luar negeri? lo diwajibkan untuk masak buat makan! Yah kecuali lo anak konglomerat super kaya yang bisa eating out paling murah 5 Eur/porsi. Sekedar perbandingan, 5 eur itu gue bisa beli dada ayam fillet 1kg. Daging ayam fillet 1 kg itu bisa buat gue makan kira-kira 4 hari lah, berarti 12 kali makan. NAH LO….masih yakin gak mau masak ?

4

Di saat seperti itu, kadang-kadang gue sangat merindukan masa-masa di pagi hari gue laper tinggal keluar rumah beli bubur ayam atau lontong kari di pinggir jalan…..

#Alasan 5: Belajar adalah makanan sehari – hari

Banyak temen gue bilang “kok lo jalan-jalan terus sih”, “kok lo keliling2 terus sih”. Oh my God, gue tuh cuma jalan-jalan pas lagi winter break selama 2 minggu dan spring break selama 1 minggu. Berarti itu cuma 3 minggu dari 5 bulan hidup gue di Belanda. Sisanya? emang lo tau gue ngapain ? ada temen gue bilang “Kuliah di luar negeri itu adalah ketika mengeluh aja ga ada waktu!” well, gue sangat setuju dengan hal itu, karena mau mengeluh dan nangis biar satu dunia tau pun ga akan berguna. Di tempat gue kuliah, ga ada bedanya mau itu minggu ujian atau minggu biasa. Kalau minggu biasa weekly assignment-nya super banyak baik individu maupun kelompok, kalau minggu ujian ya belajar buat ujian. Sekarang, masih mau bilang gue jalan-jalan terus?

Kuliah di luar negeri itu adalah ketika mengeluh aja ga ada waktu

5

#Alasan 6: Kuliah di luar negeri itu capek bro, apalagi kalo gratisan dibiayain negara

Gue kuliah di Belanda emang dibiayain pemerintah Indonesia, makanya gue gamau dong menyia-nyiakan uang dari rakyat ini.. kalau sampe gue ga lulus, gue berarti ga bisa mempertanggung-jawabkan hasil kuliah gue kepada rakyat (istilahnya begitu lah ya). At least itu buat gue. Setiap hari beban mental, “duh gimana nih kalo gue ga lulus 2 tahun?”, “gimana kalo gue harus retake course?”,”gimana kalo gue harus retake year padahal pemerintah cuman bisa bayarin kuliah sesuai dengan masa studi” selalu ada! Jadi kalo lo berencana mengambil beasiswa uang negara, lo harus siap dong untuk sekolah dengan baik, dan lo harus siap dengan ‘beban mental’ tadi.

6

#Alasan 7: Beban pertanyaan: abis kuliah emang mau jadi apa/mau ngapain?

Nah sebelum lo berangkat emang sebaiknya udah tau mau jadi apa dan arahnya kemana setelah selesai sekolah. Jangan Cuma karena seleksi beasiswa lo asal nyeplos aja “saya mau jadi dosen”, “saya mau jadi menteri yang membangun Indonesia blablabla” eh pas lagi tahun terakhir kuliah ngerjain thesis mikir lagi “gue abis gini ngapain ya?” lah lo kuliah emang tadinya buat apa ? buat ngapain ? yaelah bro, kalo cuma ngejeplak doang di depan tim wawancara sih emang gampang, semua orang juga bisa, tapi yang rugi siapa kalau ga tau mau jadi apa setelah lulus kuliah ? lo lagi lo lagi kan ?

7

Well, at the end, gue sangat menyarankan kalian untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri dengan menggunakan program beasiswa! Gue yakin setelah kalian berpikir matang dan siap menghadapi 7 kemungkinan terburuk yang gue sebut diatas, kalian akan menjadi pribadi yang (seenggaknya sedikit) lebih mencintai tanah air (ceileeeeeh).

Tanga Kenapaaaa (lagi)? seorang warga negara Indonesia yang menikah dengan warga negara Belanda dan tinggal disini selama bertahun-tahun berkata:

A: “lo lihat rumah bagus atau jelek dari mana?”

Gue: “dari luar”

A: “ makanya lo harus pergi jauh buat melihat negeri lo sendiri, bobroknya Indonesia dan bagusnya Indonesia sangat berasa ketika lo melihat dari jauh, bukan dari dalam”

Dan hal itu memang benar adanya. Dengan lo berada jauh dari Indonesia, lo bisa melihat tingkah lucu orang-orang Indonesia, baik itu yang berpendidikan ataupun tidak. Kadang-kadang mereka suka melawak. Gue merasakan hal itu sendiri saat berlangsungnya conference di Paris (COP21) yang membahas climate change, dan percayalah, kalau lo emang mengikuti perkembangan berita climate change, lo akan takut dengan masa depan bumi ini selama 20-50 tahun kedepan. Saat itu, ada sebuah situs yang menganalisa “negara mana yang membicarakan COP21 secara online”. Situs ini menampilkan peta dunia dimana ada titik-titik yang menunjukkan jumlah orang yang berbincang tentang #climatechange atau #COP21 atau kata kunci lainnya, and guess what? tidak ada titik yang ada di Indonesia. Di saat dunia meributkan dengan bagaimana caranya supaya suhu bumi ga naik 2 derajat celcius, di Indonesia masih sibuk ngurusin menolak untuk membeli kantong plastik yang cuma Rp 200,00.

Di saat dunia meributkan dengan bagaimana caranya supaya suhu bumi ga naik 2 derajat celcius, di Indonesia masih sibuk ngurusin menolak untuk membeli kantong plastik yang cuma Rp 200,00.

Sebuah ironi yang hanya akan terlihat kalau kamu berada jauh dari Indonesia….

Pesan gue, siapkanlah diri lo sebaik mungkin sebelum memutuskan melanjutkan studi ke luar negeri. Terutama, untuk 7 kemungkinan diatas yang akan lo hadapi. Mungkin lo akan melihat hal itu adalah sebuah hal yang sepele dan bisa dipikirin nanti… tapi percayalah… hal itu akan mulai terasa ketika lo memulai kehidupan lo jauh dari rumah dan zona nyaman lo.

Jangan kuliah ke luar negeri, kalau kamu belum siap untuk 7 kemungkinan terburuk (atau mungkin lebih) yang akan kamu hadapi nantinya

Satu pesan yang paling penting buat lo yang sedang melanjutkan atau yang sedang akan merencanakan studi di luar negeri adalah: Jangan lupa untuk .. Kembali .. untuk Indonesia ya!

Kami pergi untuk kembali – LPDP, PK35

8

Dwi Sasetyaningtyas, TU Delft, Belanda

sumber : ppibelanda.org

You May Also Like

5 thoughts on “7 Alasan Kenapa Jangan Melanjutkan Sekolah Ke Luar Negeri, Kalau Kamu……

  1. Beberapa kota di Indonesia itu hitungannya juga punya keadaan ekstrem, misalnya kota pantai seperti Surabaya yang puanas dan lembab minta ampun. Soal belajar juga kayaknya beberapa universitas elit nasional tingkat sibuknya sama atau mendekati gilanya universitas-universitas top di negara OECD.

    Saya tambahin lagi satu gajah di pelupuk mata yang lupa dimasukkan di tulisan di atas: bahasa dan peer pressure. Masih untung kalau dapat negara Anglophone atau Anglophone `jejadian` seperti Belanda dan Swedia, saya rasa tidak terlalu susah untuk mengerti percakapan atau bahkan untuk level profesional sekalipun, saya tidak meragukan SDM terdidik Indonesia. Lah kalau di negara yang bahasanya sama sekali berbeda seperti negara-negara Asia Timur, sang mahasiswa harus siap untuk cepat beradaptasi.

    1. Benerrr, meski cuma bentar ngerasain hidup di negeri orang, 2 minggu wkwkwkwkwk tp perjuangan untuk berbuka dan sahur adalah tantangan tersendiri, makanan halal, plus godaan batin krn Mbak2 yg syantik pakai baju musim panas. Uuuuhuy

Leave a Reply

%d bloggers like this: