Aktivis Juga Harus Punya Ilmu & Karya

featured

Ibarat minyak dan air. Begitulah anggapan sebagian besar orang tentang prestasi akademis dan aktivisme di masyarakat. Tetapi pria bernama lengkap Anindito Kusumojati, atau sering disapa dito telah membuktikan hal itu salah. Lelaki kelahiran Surabaya 25 tahun silam ini merupakan mantan Ketua Himpunan Elektro ITS 2010 dan Sekjen BEM ITS 2010-2011, saat ini mas dito ikut aktif juga di kegiatan PPI Belanda. Mas dito yang saya kenal adalah sosok orang yang hampir tidak pernah absen di dalam gerakan sosial semenjak mahasiswa. Berbagai aktivitas seperti menjadi pengajar IECC (ITS education care center) dan turut aktif dalam gerakan melukis harapan dimana gerakan tersebut memiliki cita-cita mengubah citra dolli menjadi kampung wisata dalam hal positif.  Selain mengikuti banyak aktivitas sosial, mas dito tidak pernah absen dalam menorehkan prestasi, tercatat mas dito tidak pernah absen mengikuti kegiatan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) selama menjadi mahasiswa. Selain itu mas dito juga merengkuh juara 1 dalam LCEN – Lomba Cipta Elektroteknik Nasional.

Makhluk sosial

Cita-cita awal mas dito adalah menjadi dokter akan tetapi takdir mengantarkan mas dito untuk mendalami ilmu elektro. Dari situ mas dito tersadar, bahwa untuk memberikan manfaat ke orang lain tidak harus menjadi dokter. Yang saya kagumi dari sosok mas dito adalah selalu memegang prinsip hidup yaitu Harus Punya Manfaat. Karena mas dito yakin bahwa manusia adalah makhluk social, mas dito  juga melanjutkan bahwa jika semua orang hanya memikirkan diri sendiri maka tidak akan pernah terjadi sebuah perubahan. Dibutuhkan orang yang memiliki inisiatif dan niat yang kuat, jika menginginkan perubahan maka kita harus berani menjadi orang tersebut, tidak bisa hanya menunggu.

Merajut Asa

Setelah lulus S1, mas dito sadar bahwa membutuhkan kenaikan level keilmuan dari diri mas dito untuk melakukan perubahan. Karena jika ingin membuat perubahan, ada hal penting yang harus dimiliki yaitu ilmu. Mas dito menyadari saat menjadi aktivis kita juga harus punya ilmu, kalau kita hanya mahir di sofskill tetapi hardskill nya rendah, kita menjadi ideology frustatif. Ideology frustatif banyak ditemui di diri para aktivis dimana kita punya mimpi-mimpi tetapi kita tidak mengimplementasikan, akhirnya cuma  menjadi wacana saja. Sebaliknya jika hardskill tnggi tidak punya softskill, kita cuma menjadi manipulator opportunities, kita hanya punya ilmu tetapi tidak tahu harus diarahkan kemana. Yang paling ideal adalah menjadi aktivis transformative, dimana kita punya ilmu dan softskill yang seimbang.

Oleh sebab itu mas dito memutuskan untuk mendalami ilmu, dan pilihan jatuh kepada Biomedical engineering. Biomedical engineerin adalah kombinasi social dan engineering yang secara tidak langsung memiliki korelasi terhadap mimpi mas dito saat SMA. Selain itu faktor belum ada penelitian yang serius di bidang ini menjadi  pertimbangan tersendiri. Selain itu, bukan rahasia umum jika Professional di bidang kesehatan dengan engineer kerjasamanya kurang berjalan baik, dan itu merupakan tantangan tersendiri. Harapan terbesar mas dito tidak terlalu besar yaitu minimal kita tahu bagaimana membuat system rumah sakit yang bagus dan memudahkan pasien maupun rumah sakit

Menapak Harapan

Untuk mendapatkan beasiswa dan mendapatkan LoA dari Delft, tidaklah semudah membalikan telapak tangan bagi mas dito mengingat lulus S1, nilai toefl mas dito 477. Untuk mengejar ketertinggalan itu mas dito mengambil les (course)  sebanyak 3 kali. Tamparaan telak didapatkan oleh mas dito saat mock test, ketika latihan speaking yang dimana  satu kelas dengan anak-anak SMA, mas dito mendapatkan komentar :

I think you can speak in Indonesia because I can’t understand what you mean

Sayangnya tamparan tersebut tidak membuat mas dito menyerah, sebaliknya mas dito berjuang lebih keras. Karena mas dito yakin tidak ada yang dapat menghentikan impiannya, karena impiannya bukan hanya tentang dirinya, lebih dari itu, sebuah mimpi untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

Setelah gagal tetes IELTS pertama, mas dito akhirnya mendapatkan hasil lulus pada IELTS kedua. Sekali lagi bukan dengan hanya menjenttikkan jari tangan semua itu bisa terjadi. Mas dito selalu meminta PR lebih banyak kepada teacher, selama lebih dari 1 bulan intens belajar dari pagi sampai malam dan sempat sakit didetik-detik tes IELTS adalah hal yang harus dibayar oleh mas dito. Sebuah kerja keras tanpa henti dan kerja keras adalah sebuah keharusan untuk menggapai mimpi, dan IELTS/TOEFL adalah syarat mutlak.

Saat proses wawancara LPDP mas dito tidak mau biasa-biasa saja, mas dito membawa kliping dan portfolio yang telah saya siapkan untuk wawancara. Dan semua air mata, keringat, tawa dan sujud mas dito terjawab pada tanggal 20 Agustus 2015, mas dito berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi di TU DELFT dengan beasiswa LPDP

Kuliah di Belanda itu…

Di Belanda, sesuatu yg tidak diimplementasikan ternyata disini bisa diimplementasikan seperti dreams come true. Menurut mas dito belajar tidak bisa dilakukan setengah-setengah, ilmu itu mahal, untuk mendapatkan ilmu itu membutuhkan kerja keras tidak bisa menjadi kerja sampingan, harus mengorbankan waktu luang dan harus selalu fokus. Kuliah di belanda susah, mungkin ini disebabkan karena kita dulu tidak terlalu serius dalam belajar, kita tidak merasakan mahalnya ilmu dan selain itu wawasan kita kurang luas. Hal terpenting saat menapaki fase S2 adalah kontrol diri, kita punya target dan cita-cita yang dimana keberhasilan hal tersebut adalah diri kita sendiri, kita harus menempatkan sesuatu di tempat yang benar

Apa yang harus kita lakukan untuk kuliah dan mendapatkan beasiswa ?

Luruskan niat, temukan tujuan utamamu apa, jangan sampe S2 cuma untuk gengsi dan maen aja atau agar dianggap orang lain lebih hebat. Jika kamu mempunyai niat yang kuat, S2 ini merupakan alat yang tepat untuk menempah kita untuk masuk ke level yang lebih tinggi karena hal tersebut dibutuhkan untuk melakukan sebuah perubahan

Ditulis oleh Andre Prakoso, TU Delft, Belanda

sumber : ppibelanda.org

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: