ARFI Kemenag 2016 Promosikan Islam Moderat ala Indonesia

PPIDUNIA.ORG, Tunisia – Empat pemuda Indonesia sedang menguji kebolehannya di hadapan puluhan mahasiswa Universitas Ezzitouna. Mereka berseragam hitam-hitam dengan ikat kepala khas para pendekar silat. Siang itu, kamis (3/11) adalah hari kebudayaan Indonesia di Universitas Ezzitouna, Tunis.

Puncak acaranya adalah seminar tentang “ Moderasi Islam di Tunisia dan Indonesia : Konsep dan Aplikasi” yang akan disampaikan oleh dua peserta ARFI 2016, yaitu Supriyanto, Wakil Rektor IAIN Purwokerto, Jawa Tengah dan Taufik Warman dari IAIN Palangkaraya. Keduanya akan didampingi oleh Mohammed Mistiri, guru besar filsafat dan aqidah Universitas Ezzitouna.

seminar-islam

Pembicara pertama, Suprie Yanto lebih menekankan kemoderatan dalam ranah agama masyarakat Indonesia. Mahasiswa doktoral UIN Sunan Kalijaga ini memberikan contoh kerjasama yang apik antara umat islam dengan umat kristiani. “ Di Indonesia, kerjasama antarumat beragama merupakan hal biasa. Ada umat islam dan kristiani bergotong royong membangun masjid dan juga sebaliknya. Umat kristiani dan umat islam bergotong royong membangun gereja”, terang alumnus Al Azhar, Kairo ini.

Pembicaraan semakin hangat. Slide demi slide ditampilkan. Peserta pun semakin membludak. Ruang rapat Universitas Ezzitouna itu kini nampak sesak dipenuhi peserta seminar. Bukan saja mahasiswa Indonesia namun mancanegara. Semuanya tertarik dengan Islam Moderat yang menjadi ciri khas Islam Indonesia.

Pembicara kedua, adalah Dr. Taufik Warman. Dalam hal ini beliau lebih banyak mengupas sisi kemoderatan masyarakat Indonesia dari segi sosial-politiknya. Beliau mengambil sampel dari sebuah kemajemukan bahasa, budaya dan agama namun justru itu lah letak keindahannya, kemoderatan bisa tercipta.

Sebagai pembicara terahir Dr. Mohamed Mestiri yang merupakan guru besar filsafat dan aqidah Universitas Ezzitouna. Beliau lebih banyak membandingkan kemoderatan-kemoderatan antara Indonesia dan Tunisia. Menurut doctor yang baru saja memenuhi undangan seminar selama 15 hari di Indonesia ini, Indonesia lebih paham syaria’at. Hal ini beliau sampaikan dengan merujuk pada aplikasi masyarakatnya dalam melaksanakan sebuah pernikahan. “Di Indonesia menikah itu dipermudah, sedangkan cerai sulit sekali mencapainya. Hal ini berbanding terbalik dengan Tunisia. Nikah sulit sedangkan cerai mudah”, terang dosen muda jebolan Sorbonne, Prancis.

Acara-acara serupa yang mensyiarkan Islam Damai sangat perlu dilaksanakan. Hal ini sebagai bentuk benteng diri dalam menyikapi permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh sekelompok kaum radikal, islam garis keras. Seperti yang disampaikan oleh Dede Ahmad Permana, penanggung jawab ARFI 2016 di Tunisia dalam pesan WA-nya kepada Ppi Tunisia. “Islam yang digambarkan sebagai membawa rahmat bagi sekalian alam, nampaknya telah ternoda oleh perilaku sebagian kalangan umat yang gemar melakukan tindakan kekerasan.

Masalahnya, kekerasan ini sering mereka sebut sebagai atas nama agama. Padahal Islam kan tidak mengajarkan hal demikian. Banyak ayat Al Quran atau hadits Nabi, bahkan petunjuk para ulama terdahulu, bahwa Islam adalah agama yang toleran, tidak ifrat (menggampangkan) atau tafrith (lebay). Allah sendiri telah menegaskan bahwa umat Islam sebagai umatan wasatan (umat yang moderat). Melalui seminar ini, kita sharing pengalaman. Antara Tunisia dan Indonesia. Bagaimana model penerapan konsep wasatiah ini di tengah masyarakat masing-masing”, terang mahasiswa doctoral Universitas Ezzitouna.

Seperti biasa, acara diahiri dengan hidangan khas nusantara yang sebelumnya diawali dengan dialog interaktif antar peserta. Beberapa mahasiswa, baik Tunisia atau pun Indonesia ikut menyemarakan seminar dengan bertanya. [AJU]

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: