Balada Ramadan di UK: Puasa 18 Jam, Toleransi dan Status Waspada

Lancaster – Tak terasa bulan Ramadan telah memasuki minggu kedua. Menjalankan ibadah puasa sambil menempuh pendidikan di United Kingdom merupakan pengalaman yang luar biasa. Selain karena di United Kingdom bulan puasa jatuh pada musim panas yang mana waktu siangnya lebih panjang daripada malam (waktu siang = 18 jam).

Kalender akademik di United Kingdom pun menjadi tantangan tambahan bagi para pelajar muslim dalam menjalani ibadah puasa, karena di term ini, kami sedang menjalani exam, project company, penelitian laboratorium, dan disertasi. Pengerjaan project company dan disertasi pun ada yang memerlukan travelling ke luar kota atau bahkan luar negeri untuk pencarian data.

Waktu malam yang relatif singkat juga membuat kami belajar mengatur waktu secara efisien. Pasalnya waktu Magrib di sini jatuh pada pukul 21.40, lalu Isya pada pukul 22.57, dilanjutkan dengan tarawih yang selesai pada pukul 00.00, kemudian Subuh jatuh pada pukul 02.45.

Buka bersama PPI Lancaster (Marsya Mutmainah Handayani)

Untuk mengakali hal ini kami berusaha untuk tidak terlelap di antara waktu setelah tarawih sampai Subuh dan mengakali waktu tidur kami. Tak jarang pula kami melanjutkan belajar di perpustakaan yang buka selama 24 jam sembari menunggu waktu sahur sampai Subuh tiba. Jarak prayer room yang notabene lebih dekat ke perpustakaan daripada ke rumah pun juga menjadi alasan.

Alhamdulillah, kampus kami (Lancaster University) memiliki prayer room/musala bagi perempuan dan laki-laki, yang memberikan iftar secara gratis setiap hari dan memfasilitasi salat Magrib – Isya – tarawih – Subuh berjemaah. Hal ini merupakan suatu keistimewaan tersendiri bagi muslimah di Lancaster karena belum tentu muslimah di kota lain dapat menikmati salat berjemaah di prayer room/musala/masjid. Muslimah yang pergi sendiri ke masjid bukanlah hal yang biasa di sini.

Selain itu, berbuka bersama teman-teman Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) juga dapat mengobati rindu nuansa berpuasa di Indonesia dengan hidangan khas Indonesia tentunya. Ditambah lagi, udara di United Kingdom terbilang sejuk saat musim panas sekitar 16-20oC dengan semilir angin. Teman-teman non-muslim juga menghormati dan menyemangati kami yang berpuasa.

Buka bersama PPI Lancaster (Marsya Mutmainah Handayani)

Namun demikian, tak ada yang mengalahkan rindunya berbuka puasa bersama atau sahur bersama keluarga dengan hidangan favorit masakan ibu di rumah. Perbedaan waktu antara United Kingdom dan Indonesia yang seharusnya hanya 6 jam pun jadi terasa 12 jam karena perbedaan pergerakan matahari. Ketika di sini (United Kingdom) berbuka puasa, keluarga di Indonesia sedang sahur.

Lebih jauh lagi, pelajar muslim di United Kingdom harus waspada karena sejak kejadian bom di konser Ariana Grande di Manchester dan aksi terorisme di London beberapa waktu lalu, status kewaspadaan United Kingdom meningkat menjadi level tertinggi, ‘critical’. Terakhir dikabarkan Sabtu pekan lalu, terjadi serangan teror kembali di London. Sampai Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) memberikan imbauan untuk selalu berhati-hati.

Hal ini juga berdampak pada peningkatan terjadinya kasus hate crime terhadap muslim, mengingat pelaku teror adalah muslim. Seorang teman ada yang pernah diteriaki dan ada pula yang menjadi takut untuk keluar rumah. Merupakan suatu ironi ketika mendengar atau membaca berita bahwa di Indonesia justru terjadi hal-hal sebaliknya bahwa sedang banyak terjadi hate crime kepada saudara-saudara non-muslim atau bahkan perpecahan di antara muslim itu sendiri.

Bulan Ramadan sejatinya menjadi momen refleksi untuk memperbaiki diri, mempererat persaudaran dengan saling berbagi dan memaafkan. Semoga kita semua dapat meraih kemenangan dan kembali kepada fitrah pada tahun ini.

Penulis: Marsya Mutmainah Handayani, mahasiswa LLM Environment and Law di Lancaster University, United Kingdom. Penulis tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Lancaster.

) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom.

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: