Bedah Buku Misykat karya Dr. Hamid Fahmi Zarkasy oleh PPI Sudan

Liputan Khartoum – Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) bekerja sama dengan Ikatan Kekeluargaan Pondok Modern Gontor di Sudan (IKPM Sudan) mengadakan Bedah Buku “Misykat: Refleksi tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi” pada Kamis, 23 Februari 2017, di aula KBRI Khartoum, Sudan.

Buku yang terbit sejak tahun 2012 ini merupakan kumpulan artikel yang ditulis oleh Dr. Hamid Fahmi Zarkasy dalam Jurnal Islam Republika pada 2009–2012. Judul Misykat sendiri berasal dari Al-Qur’an yang berarti tempat berkumpulnya cahaya yang di dalamnya terdapat lampu atau lainnya yang memiliki cahaya.

Acara yang juga menghadirkan langsung penulis buku Misykat ini diadakan dalam rangka ulang tahun PPI Sudan yang ke 35. Total mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang hadir adalah sebanyak 160 orang.

Bedah buku Misykat dibuka dengan sambutan Bapak Duta Besar Republik Indonesia untuk Sudan dan Eritrea, Burhanuddin Badruzzaman. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa umat islam saat ini harus mampu mengenal bahaya-bahaya yang dapat mengancam kondisi muslim saat ini.

“Saya pikir perlu adanya pengenalan terhadap liberalisasi, westernisasi, dan lain-lain yang saya lihat ini dapat menjadi ancaman serius bagi ummat kedepannya,” pesan beliau.

Buku ini mengupas lengkap tentang sekularisme, liberalisme, pluralisme, dan istilah-istilah lainnya. Pemaparan tentang pluralisme sebagai sebuah paham/doktrin, pemahaman tentang toleransi dalam Islam, hingga toleransi tanpa pluralilsme, tentang sikap moderat, semua pemaparan di dalam buku ini akan semakin memperkaya pengetahuan pembaca tentang Islam dan keberadaannya bagi umat manusia di dunia.

“Setelah westernisasi, akan masuk ke dalam islamisasi, bagaimana mamahami Islam di era sekarang,” ujar beliau, yang saat ini juga menjabat sebagai wakil rektor Universitas Darussalam Gontor (UNIDA). Persiapan menghadapi liberalisme adalah memperkuat kemampuan argumentasi kita seperti dengan membiasakan diskusi, menulis, dan membaca. Karena ini adalah bagian dari yang disebut dengan Ghazwul Fikri (perang pemikiran).”

“Masing-masing organisasi masyarakat di Indonesia mengambil bagiannya dalam Islam,” tambah beliau. (Red, faiz / Ed, pw)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: