Berdialog tentang “Kaum Terdidik” dengan Tan Malaka di Leiden

Tan Malaka 2

Malam itu, Bibliotheken Universiteit Leiden terlihat lebih lowong dari biasanya. Maklum, sudah lewat musim ujian. Di salah satu sudut perpustakaan Universitas Leiden itu, saya bertemu dengan sesosok kakek. Ia terlihat sudah sangat tua. “Pakaiannya” terlihat lusuh. Dia bisa berbahasa Indonesia, walau dengan bahasa Indonesia Jaman dulu. Sepertinya dia masih menggunakan ejaan yang belum disempurnakan.

Dia adalah tokoh revolusioner yang cukup berpengaruh di jamannya. Sosok kontroversial. Namanya, Tan Malaka.

Saya mencoba berkenalan dengannya. Lebih tepatnya mengenalkan diri saya. Saya pun memulai percakapan. Nama saya, Ali Salmande. Saya sedang mengambil master European Law di Universiteit Leiden. Universitas yang fakultas hukumnya konon katanya terbaik se-Belanda (atau ada yang bilang se-Eropa daratan). Saya ambil program ini karena saya ingin “mengajak” masyarakat Indonesia (dan ASEAN) untuk membentuk supranational seperti Uni Eropa, dan bla bla bla.

Tan Malaka hanya tersenyum mendengar dongengan saya itu. Hingga, akhirnya, kami berdialog. Dia pun menyampaikan pesan untuk saya, dan juga anak Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri. Khususnya, di negeri barat. Berikut adalah dialog saya dengan Tan Malaka, malam itu, sambil berbisik-bisik di sudut perpustakaan Leiden.

Saya: Bung, kondisi dunia pendidikan Indonesia sudah mengarah semakin baik saat ini. Beasiswa untuk anak Indonesia di luar negeri semakin banyak. Itu tentu berbanding lurus dengan terciptanya semakin banyak kaum terdidik. Bagaimana, bung, melihat fenomena ini?
Tan Malaka: Ah, biasa saja. Itu sudah ada sejak zaman saya dulu. Mereka kaum acedemici itu kadang menyebalkan.
Saya: Loh, kok? Maksudnya?
Tan Malaka: Timboelnja satoe golongan jang bangga menamai dirinja “acedimici” di Indonesia ini soedah moelai mentjoba memonopoli semoea pengetahoean jang berdasarkan ilmoe. Di Filipina dan Hindoestan, memangnja pertjobaan memonopoli itoe soedah memperlihatkan hasilnja.

Disana soedah termasoek betoel paham diantara segolongan Rakjat, bahwa oempamanja jang memimpin politik itoe mestinja satoe Mr (Baca: Mesteer in de rechten) dan memimpin ekonomi itoe mestinja satoe Dr dalam ekonomi.

Saya: Hmmmm. *berusaha terus menyimak*. Terus dampak negatifnya apa, Bung?
Tan Malaka: Kalau kita ikoeti logika sematjam itoe, djadinja, seorang leek, boekan bertitel tak boleh meraba-raba ilmoe. Selandjoetnja poela seorang Drs (jang baroe 75% atau 75,5% Dr) dalam ekonomi, mestinja takloek kepada seorang Dr dan Dr ini mestinja takloek poela pada seorang Professor dalam ekonomi.

Djadi menoeroet pikiran pasar, The men on the street, dengan logika sematjam ini kalau seorang Drs (ekonomi) oempamanja menoelis 3 boekoe, maka seorang Dr (ekonomi) mestinja sekoerangnja menoelis 4 boekoe dan satoe Professor djaoeh lebih banjak dari jang dibelakang ini.

Dilaksanakan di Indonesia ini, kalau ahli ekonomi kita jang seodah “diakoei” itoe, ialah Drs. Moh Hatta menoelis setengah loesin boekoe tentangan ekonomi, maka Dr. Samsi mestinja menoelis sekoerangnja 9 bidji dan Prof. Soenarto Kalopaking seloesin ataupoen lebih.

Saya: Ohh. Dari tiga nama yang disebut di atas, saya cuma tahu Bung Hatta. Memang faktanya bagaimana, bung?
Tan Malaka: Tidak seperti itu. Sedangkan Drs. Moh Hatta menoelis lebih setengah loesin, Dr. Samsi dan Prof. Soenario Kalopaking sedikit sekali kelihatan boeah penanja. Didoenia politik sedangkan Mr. Iwa Koesoema Soemantri oempamanja sedikit terdengar soearanja dan tjoema dalam kalangan P.B.I-nja sadja, tetapi warga negara sedjawat kita Mr. Slamet, soedah sampai soearanja ke Sri Ratoe dan seloeroeh rakjat Nederland serta doenia imperalist lainnja.
Saya: Bung, tapi kan memang ada cabang ilmu yang butuh keahlian dan pendidikan khusus. Yang tidak bisa sembarangan diserahkan kepada orang yang tidak punya latar belakang keilmuan tentang itu.
Tan Malaka: Kita membenarkan sama sekali keperloean latihan academi dalam ilmoe seperti kimiah, listrik, dan teknik. Tetapi inipoen tak berarti bahwa jang oeloeng dan berhak bersoeara dalam ilmoe sematjam itoe mestinja keloearan academi sadja. Tjoekoeplah disini diseboetkan bahwa pembikin beberapa teori jang amat berharga dalam hal listrik, dizaman listrik ini seperti Michael Faraday, tjoema keloearan sekolah sebenggol (rendah) sadja.

Thomas Edison, pendapat (inventor) listrik dioesir oleh goeroenja dari klas satoe atau doea disekolah rendah tadi poela karena ….. bodoh.

Penoeh tjontoh lain-lain dalam hal ilmoe seperti terseboet diatas: teknik, kimiah, matematika ataupoen Biology. Banjak ilmoe jang dilajani dan teori penting jang dibentoek oleh boekan academici. Sebaliknja poela banyak poela tjontoh jang memboektikan, bahwa academici itoe tjoema toekang apal sadja, toekang “tjatoet” ilmoe orang lain sadja. Semoeanja memboektikan bahwa titel itoe tjoema satoe soerat pas sadja, dalam doenia ketjerdasan, boekanlah ketjerdasan sendiri!

Apalagi dalam ilmoe masjarakat, seperti politik dan ekonomi!

Saya: Hmm, bener juga sih, bung. Saya lihat teman-teman di sini kadang juga suka memonopoli ilmu seperti yang bilang. Mahasiswa sejarah seakan memonopoli sejarah. Mahasiswa hukum merasa paling jago sendiri ketika berbicara hukum. Saya kadang-kadang juga sering meng-underestimate teman-teman dari jurusan lain ketika mereka berbicara tentang Uni Eropa. Perasaan paling paham sendiri itu kadang masih ada, walau pun saya nggak jago-jago amat sih. Buktinya, saya masih sering re-sit kok, Bung.
Tan Malaka: Nah, benar kan? Jadi, kamu kasih tahu ke teman-teman kamu yang belajar di Belanda ini ya. Tetaplah menunduk dengan ilmu yang kalian pelajari. Jangan merasa paling “sotoy” dengan ilmunya.
Saya: Loh, kok Bung ngerti “sotoy” juga? Itu kan bahasa alay.
Tan Malaka: Ya iya lah. Masa’ ya iya dong. Duren aja dibelah, bukan dibedong. Kalau kamu bertanya begitu, berarti kamu sudah memonopoli ilmu (bahasa). Bahasa alay itu bukan monopoli milik generasi kalian, saya juga bisa.
Saya: Oh oke deh kalau begitu, Bung. Maaf ya kalau saya agak underestimate. Habis tadi pas kita dialog serius, Bung pakai bahasa Indonesia edisi jadul sih. Terima kasih atas diskusinya yang mencerahkan.
Tan Malaka: Iya. Kamu sudah paham belum? Coba disimpulkan hasil diskusi kita?
Saya: Insya Allah sudah, Bung. Saya ambil ada dua kesimpulan. Pertama, para mahasiswa Indonesia di Belanda jangan memonopoli ilmu yang dipelajarinya. Kedua, mereka harus sering-sering menulis (atau menghasilkan produk yang bermanfaat) seperti bung Hatta dan bung sendiri.

Untuk yang pertama, saya sudah menyadari itu. Dan untuk yang kedua, saya sekarang sedang mulai bikin projek blog pribadi tentang www.hukumunieropa.wordpress.com, supaya kayak Bung Hatta, rajin menulis dan ilmunya bisa langsung bermanfaat untuk orang lain. Semoga bisa konsisten seperti Bung dan nggak “hangat-hangat t*i ayam”. Mohon dikunjungi dan kasih komen kalau ada waktu ya, Bung.

Tan Malaka: Iya kira-kira begitu. Oke, nanti saya cek blog kamu kalau saya ada waktu senggang.
Saya: Saya pulang dulu ya, Bung. Sudah malam. Tempat tinggal saya lumayan jauh dari perpustakaan ini. Saya juga nanti mau mampir beli kapsalon dulu di Ak Mir atau Doner Company.
Tan Malaka: Oke. Memangnya, di mana kamu tinggal?
Saya: Di Rijnkade, Bung. Dekat Hoegewoerd 49, rumah yang dulu jadi tempat dibentuknya organisasi Perhimpoenan Hindia.
Tan Malaka: Oh, organisasi yang dulu kerjanya cuma dansa-dansi itu ya. Kalian jangan ketularan mereka ya. Oke kalau gitu, sana pulang, nanti kemalaman. Oh iya, nanti kalau ketemu Bro Harry Poeze, saya titip pesan ya. Nggak usah serius-serius bingits meneliti tentang saya.
Saya: Hahaha. Siap, Bung. Saya pamit dulu ya. Assalamu’alaikum.
Tan Malaka: Wa’alaikum Salam wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Catatan:

Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2016. Kutipan Tan Malaka yang berhuruf miring adalah asli pendapatnya, diambil dari bukunya yang bertajuk ”Thesis” (Kata Pengantarnya ditulis di Lawoe, Jawa Tengah, 10 Juni 1946). Di luar dari itu adalah dialog imajiner.

Ditulis oleh: Ali Salmande

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

One thought on “Berdialog tentang “Kaum Terdidik” dengan Tan Malaka di Leiden

  1. Tulisan bertipe dialog imajiner memang selalu menarik untuk disimak. Menyentil bagi mereka yang hanya petantang-petenteng membawa gelar Phd atau Master tanpa punya solusi di bidangnya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: