You Can if You Think You Can

Di tengah-tengah sekumpulan orang kecil akan lahir sebuah kelompok yang besar. Di tengah kehidupan yang penuh dengan banyak salah dan sedikit benarnya ini menjadikan seorang anak muda bernama Ahmad yang kala itu masih berumur 19 tahun kelahiran Jakarta, menekad bulatkan dirinya untuk menempuh kehidupan ilmunya ke negeri dimana sebuah agama Islam lahir disana yaitu Arab Saudi di kota Madinah. Anak muda yang masih bertanya-tanya tentang apa tujuan dia datang kesana? Ingin mencari apa? Mau jadi apa? Muncul teka-teki yang membuat dirinya penasaran dan harus menjawab dari dalam batinnya bahwa dia ingin mencari Tuhannya disana untuk menjawab segala pertanyaan itu. Dan lagi-lagi muncul di dalam dirinya bahwa ia  ingin menjadi anak yang berguna bagi agama dan negaranya sendiri dengan meninggalkan keluarganya selama beberapa tahun untuk kuliah disana.

 

Segala urusannya pun diselesaikan sampai dia mendarat di tanah yang dituju Arab Saudi, menjadikannya lebih bersemangat akan hausnya akan ilmu yang harus diraih. Sampailah ia di kampus barunya dan mengurusi pendaftaran yang harus di sempurnakan. Tinggal di asrama luar kampus yang cukup jauh membuatnya harus naik bus setiap hari untuk bisa mengikuti kuliahnya, jika terlambat bus maka terpaksa naik angkutan umum dengan membayar ongkos yang lumayan menguras dompetnya, dari situlah bahwasanya waktu mengajarkan untuk memiliki sifat yang disiplin dan menghargai waktu, lalu dia pun mengenal satu sama lain teman-temannya yang dari berbagai negara, ada yang dari Afrika, Amerika, Eropa, Cina, Filiphina, Malaysia, Singapura, dan banyak lainnya dari penjuru dunia berbahasa satu bahasa arab, beragama satu agama Islam. Tapi dengan sedikitnya ilmu bahasa Arab yang ada didalam dirinya tak membuat semangatnya menurun dan justru membuat dirinya semakin ingin mengetahui perkembangan bahasa yang di jalani. Di awal-awal kuliah semester 1 ini banyak sekali hal-hal yang baru yang dia ketahui mulai dari makan, kebiasaan sehari-hari, sampai cuaca yang membuat kesehatannya sedikit turun, khawatir akan kedepannya, maka dia memutuskan untuk pindah kamarnya ke dalam kampus agar pulang pergi ke kampus pun dekat tidak membuatnya telat makan dan memperhatikan kondisi cuaca.

 

Dia melakukannya bersama ketiga temannya yang bernama Dimas, Robbi, Rifdy. Mereka adalah teman satu sekolahnya ketika SMP dan SMA, berteman sangat lama membuat mereka sangat solid dalam hal bekerja sama dan pastinya dalam hal angkat-angkat barang dalam rangka perpindahan kamar ini. Tapi sebuah bencana membuata diri Ahmad harus dilarikan ke rumah sakit dekat kampus karena sebab kakinya tertimpa lemari sampai kuku dari ibu jarinya hancur dan mengeluarkan banyak darah dan kejadian itu mengharuskan Ahmad harus absen kuliah selama beberapa hari. Ditengah perawatannya yang sedang sakit, orang tua Ahmad pun mengetahui akan kejadian tersebut, sedihlah orang tuanya menerima telpon Ahmad dan Ahmad pun merasa sangat bersalah sudah membuat orang tuanya resah, gelisah, sedih sampai orang tuanya sangat mengkhawatirkannya. Usai telponnya berakhir, Ahmad pun memaksakan dirinya untuk kuliah, karna sakit bukan alasan untuk tak masuk kuliah. Dengan perlahan sakit yang dideritanya pun semakin hilang dan memulihkan kembali semangat kuliah Ahmad di Madinah yang selama ini dia iringi rasa sakit di kakinya. Sampai di pertengahan semester pun Ahmad belajar dengan giat dengan banyak membaca buku, bertanya pada dosen atau orang-orang yang dia anggap lebih tahu sampai meminta doa agar ilmu yang dia usahakan tersebut bisa diamalkan dan dijadikan contoh orang-orang ketika dia kembali ke negaranya Indonesia. Namun lagi-lagi nasib sial menerpa anak yang sangat sabar ini, beberapa nilai-nilai pelajarannya mendapatkan hasil yang tak terduga jeleknya dimata Ahmad dan membuat Ahmad harus membuka mata dan batinnya untuk memperbaiki segala kesalahannya. Dan dia pun tersadar akan sesuatu, bahwa untuk mendapat nilai bagus itu tak hanya dihafal saja pelajarannya, tapi disamping itu harus dipahami makna serta tujuan dari pelajarannya itu. Setelah kejadian itu pun Ahmad semakin jadi niatnya agar bisa meraih nilai bagus dan membuat jalannya sendiri agar bagaimana cara dia tidak terjatuh dalam jurang yang sia-sia yang membuat dia selalu putus asa. Akhirnya, dia ambillah jalan spiritual dengan meminta pada Tuhannya setiap hari, menginap dimasjid Nabawi dan jarang pulang ke kamar sampai teman-temannya heran dengan si Ahmad kenapa dia jarang tidur di kamar dan juga jarang kelihatan di kampus. Tapi di samping itu dia tak melupakan jam kuliahnya, datang tepat waktu dan mecari-cari kesalahannya disaat ujian kemarin dan memperbaikinya agar tak salah kedua kalinya dalam ujian akhirnya nanti sampai pada akhirnya dia mendapatkan cara belajar yang baik.

 

Hingga pada saatnya di Ujian Akhir Semester tak lupa dia selalu mengulang-ulang pelajarannya dan belajar sampai larut malam yang hanya tidur 1-3 jam saja. Dan juga selalu menyertakan doa bapak ibunya sebelum ujian dan sebelum mulai belajar, karena doa orang tualah yang sangat dia andalkan setelah doa pada Tuhannya yang siang malam dia berlutut pada-Nya. Namun disetiap selesai dia menjawab kertas ujiannya, selalu ada yang membuat hatinya khawatir akan kejadian sebelumnya yaitu nilai jelek yang membuat dirinya malu, tak hanya pada dirinya saja, dia malu pada teman-teman kelasnya, guru, orang tua, saudaranya. Dia takut menjadi orang yang gagal dalam menuntut ilmu di luar negeri.

 

Sampailah pada dua minggu setelah masa-masa ujian dan tak sabar lagi Ahmad melihat hasil ujiannya yang selama ini dia tempuh dengan belajar sungguh-sungguh dari pagi sampai pagi lagi. Usaha yang mana dia yakin tak akan mengkhianati hasil tiba juga, sesaat dia melihat informasi-informasi kuliah di internet lewat laptopnya dan membuka link untuk melihat langsung nilainya. Tanpa kata dan terdiam dengan mata yang sangat terbuka layaknya mata sang burung hantu dan melebarkan senyum lebar mulutnya layaknya garis boomerang yang terlempar jauh kearah yang dituju, sambal men-scroll mata kuliahnya dia bahagia bukan main di kamarnya karena melihat nilai-nilainya yang sangat gemilang walau ada satu pelajaran yang nilainya amat kurang bagus namun masih bisa dibilang berhasil karena nilainya melewati batas merah yang berarti harus mengulangi mata kuliahnya di semester selanjutnya, mata kuliah itu adalah sejarah Islam yang mana memang ahmad dari duduk di bangku SMP sangat lemah akan sejarah dan matematika. Melihat nilai-nilai mata kuliah yang lumayan bagus terkecuali sejarah Islam yang dia mendapat nilai 63 dengan kriteria C yang harus dia lebih tekuni dan bukan berarti dia harus senang dan tenang untuk semester ke depannya, masih ada semester dua, tiga sampai delapan yang harus dia tempuh layaknya berlayar mengarungi samudera yang luas, masih ada ilmu-ilmu yang baru untuk kedepannya. Ilmu bagaikan samudera dan buku sebagai pulaunya dan kita sebagai penjelajahnya, jika kau dapatkan itu semua maka sukseslah kau dalam hidupmu, tapi dengan banyaknya ilmu bukan berarti kau sombong dan saling menyalahkan satu sama lain, adanya ilmu itu hanya untuk meluruskan yang belok dan memutihkan yang hitam sehingga sesuatu yang miring menjadi lurus.

 

Kejadian-kejadian sebelumnya cukup jadi kenangan dan cerita untuk masa depan, Ahmad menatap masa depan bahwasanya sesuatu yang kau inginkan bisa di dapat dengan usaha, tak ada usaha yang tak membuat hidup kita sia-sia, “You can if you think you can”, begitulah yang mendasari diri Ahmad sejak menginjak sebuah pijakan baru setelah merasakan hal yang tak diinginkan, ditambah lagi kota Madinah dekat dekat sang nabi Allah Muhammad SAW. dimana dia bisa lebih sering bersua untuk ziarah dan mengenang betapa kuatnya perjuangan Muhammad SAW. membela Islam sampai saat ini. Sama dengan perjuangan Ahmad yang membela dirinya demi menjadi seorang yang berguna bagi keluarga, teman, saudara, agama dan negaranya. Ditambah lagi Ahmad yang selalu mengisi waktu di luar kuliahnya dengan mengikuti kajian di masjid Nabawi dengan membaca kitab dengan guru-gurunya dan menghafal Al-Qur’an dengan hafiz-hafiz Qur’an yang sudah dikenal keberadaannya. Mengikuti kajian-kajian kitab Islam dengan mengkhususkan pelajaran yang di ikuti di kuliahnya Syari’ah Islamiyyah yaitu mendalami ilmu hukum-hukum Islam dan mempelajari beberapa cara untuk membenarkan yang salah dengan berdebat agar tak ada lagi sebuah perpecahan di dalam sebuah agama.

 

Bertemu dengan para teman-temannya, keluarganya, serta guru-guru yang mengajarinya di pondok pesantren pun dia datangi dalam rangka umroh menjadi kesempatan baginya untuk bertemu kangen bersamanya dan mengingat kembali masa-masa dia masih belum punya apa-apa akan ilmu dan apapun. Tapi diri Ahmad sendirilah yang mampu membuat dirinya menjadi apa-apa sampai dia menginjakan tanah yang mungkin dia tak memikirkan ingin pergi ke kota Madinah, tapi kehendak Tuhanlah yang menginginkan dia menjadi orang yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

images-1

Setelah jeda itu semua, datanglah hari-hari libur untuk dia menyenggangkan dirinya setelah melewati masa ujian yang membuat dia sulit mencari waktu senggang untuk sekedar mengistirahatkan otak dan fisiknya dengan berlibur di kota Madinah jalan-jalan ke daerah-daerah bersejarah di Arab Saudi seperti Madain Sholeh, museum-museum bersejarah, mencicipi makanan-makanan khas arab Saudi dan ke masjid-masjid bersejarah yang di bangun bebrapa abad silam.

 

Seperti itulah perjalanan sang perantau yang berkeyakinan gigih untuk menjadi sebenar-benarnya manusia, menjadi semanusianya manusia dengan menjadikan dirinya sebuah kekuatan dan keyakinan untuk bisa akan segala hal dan segala bidang. Menanamkan motivasi pada dirinya dan menyemangati dirinya jika sedang jatuh. Tak ada yang begitu indah jika semua yang ingin kau dapat itu kau hasilkan dari usahamu sendiri. Banyak manusia yang lahir dimuka bumi ini, tapi tak banyak manusia yang benar-benar menjadi dirinya sendiri. Kata kesuksesan bisa kau dapatkan jika kau sudah lelah berlatih memanjat sebuah keberhasilan.

 

 

_20160926_103057

BIODATA SINGKAT PENULIS

Nama : Habib Al Rahman

Tempat, Tgl Lahir : Jakarta, 12 Juni 1996

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama : Islam

Kewarganegaraan : Indonesia

Alamat Sekarang : Jl.H.Gari, perumahan Darunnajah, Bintaro, Pesanggrahan, Jak-sel

Email : Rahmanhabib950@gmail.com

Pendidikan : Universitas Islam Madinah (Arab Saudi)

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: