Cerita ‘Begal Ramadan’ dari Negeri Dua Nil Sudan

Khartoum – Sudan merupakan salah satu negara yang terletak di benua Afrika. Jika dilihat seksama, letak Sudan tepat berada di jantung benua Afrika. Negara ini juga memiliki julukan ‘Negeri Dua Nil’, karena di negara inilah bertemunya dua Sungai Nil, yaitu Nil Biru dan Nil Putih.

Dari jumlah penduduknya, mayoritas masyarakat Sudan memeluk agama Islam. Suasana Islamnya mirip seperti Indonesia, namun memiliki beberapa perbedaan. Misalnya, jika di Indonesia masyarakatnya banyak bermazab Syafii, mayoritas masyarakat Sudan bermazab Maliki.

Ujian sesungguhnya hidup di Sudan ada ketika bulan Ramadan. Kita diharuskan berpuasa di atas suhu stabil 40° Celsius. Total lamanya berpuasa di Sudan sekitar 13 jam. Mulai azan Subuh pukul 05.00 hingga azan Magrib berkumandang kisaran pukul 19.30.

Suhu panas di Sudan memuncak ketika Ramadan. Hal unik yang terjadi, ketika salat Zuhur, masjid-masjid sangat dipenuhi oleh masyarakat Sudan. Di tengah suhu yang panas, mayoritas masjid di Sudan terdapat pendingin ruangan, seperti air conditioner (AC) dan cooler. Hal ini dimanfaatkan oleh masyarakat Sudan untuk tidur siang, sambil mengamankan diri sesaat dari panasnya Sudan. Kejadian unik ini selalu terjadi setiap harinya di bulan Ramadan ini.

Foto: ‘Begal Ramadan’ di Sudan, ‘membegal’ orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Namun, Sudan sangat ramah dalam menyambut datangnya bulan yang penuh berkah. Beberapa fenomena menarik banyak terjadi, dan hanya terjadi di bulan Ramadan. Beberapa fenomena yang jarang, atau bahkan kita tidak pernah lihat di Indonesia.

Di Sudan, ada satu kejadian yang paling menarik ketika Ramadan. Kami warga Indonesia yang menetap di Sudan menyebutnya dengan ‘begal ramadan’. Jika di Indonesia, orang membegal kendaraan, di Sudan orang membegal orang lain di jalanan untuk mau berbuka bersama mereka.

Foto: ‘Begal Ramadan’ di Sudan, ‘membegal’ orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Begal ini terjadi hampir di setiap sudut negeri Sudan. Di dekat tempat kami tinggal, ada sekitar 5 rumah yang menyediakan tempat untuk berbuka. Kami tinggal pilih saja, mau ‘dibegal’ oleh rumah yang mana.

Rumah-rumah ini menggelar tikar di depan rumah mereka, untuk orang lain datang berbuka. Mereka menyediakan aneka makanan dan minuman khas Sudan, dengan cuma-cuma. Hal ini mereka lakukan, di setiap hari selama Ramadan, sebulan penuh, mereka menyediakan hidangan berbuka itu.

Hebatnya efek ‘begal’ ini, banyak warga Sudan ‘berebut’ orang di jalan. Bahkan beberapa tahun lalu, seperti dilansir beberapa media cetak di Sudan, ada dua orang Sudan yang sampai terlibat baku hantam. Mereka pun dipolisikan. Alasannya sangat sederhana, hanya karena berebut orang di jalanan untuk berbuka puasa bersama mereka.

Cara berbuka puasa orang Sudan pun unik. Ketika azan berkumandang, mereka memilih untuk memakan kurma terlebih dahulu, berbeda dengan kita yang mayoritas memilih untuk minum teh hangat ketika azan. Teh hangat mereka sajikan justru setelah salat Magrib berjemaah. Yang lebih aneh lagi, tidak ada es teh di seluruh Sudan. Bukan kebiasaan mereka, mencampurkan teh dengan es batu.

Lalu bagaimana mengobati rindu dengan suasana berbuka di Indonesia? Alhamdulillah, pada hari Jumat dalam setiap minggunya, KBRI Khartoum selalu mengadakan buka puasa bersama dengan seluruh WNI di Sudan yang diadakan di Wisma Duta RI, tempat tinggal bapak Duta Besar RI untuk Sudan.

Foto: Buka puasa bersama di KBRI Khartoum Sudan (Tidur siang setelah salat Zuhur di masjid-masjid di Sudan (‘Begal Ramadan’ di Sudan, ‘membegal’ orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Ini cara kami mengobati kerinduan akan Ramadan di Indonesia. Tersaji takjil khas Indonesia, seperti kolak pisang, bakwan, es teh, brownies, dll. Setelah Isya pun diadakan tarawih bersama.

Mungkin ini sedikit gambaran bagaimana Ramadan di Sudan. Bagi yang penasaran akan cerita Ramadan lainnya di Sudan, Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki (PPI Turki) tahun lalu menerbitkan e-book yang berjudul “Diary Ramadhan”. “Diary Ramadhan” ini berisikan tentang cerita-cerita mahasiswa /i Indonesia saat Ramadhan di Turki dan Sudan. Info Diary Ramadhan selengkapnya terdapat di link ini.

Semoga kita semua diberikan kemudahan, dan senantiasa diberikan kesehatan, dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Penulis: Muhammad Faiz Alamsyah, Mahasiswa S1 University of Holy Quran and Islamic Sciences Sudan, ketua departemen media dan informasi PPI Sudan 2016-2017 dan anggota Biro Pers PPI Dunia 2016-2017

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: