Dialog Interaktif: Tantangan Dakwah Islam di Amerika bersama PPMI Pakistan dan Ustad Shamsi Ali

Liputan Islamabad — Departemen Keilmuan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Pakistan (PPMI Pakistan) mengadakan teleconference bersama Ust. Shamsi Ali sebagai Imam Islamic Center di New York USA dengan tema “Dialog Interaktif: Tantangan Dakwah Islam di Amerika”. Acara yang dihadiri oleh rekan-rekan mahasiswa Indonesia di Islamabad yang dilaksanakan di rumah Atase Pertahanan Sector F-6 Islamabad berjalan dengan lancar.

Kiprah Ust. Shamsi Ali di dunia dakwah yang cukup berpengalaman dan memulai kuliahnya di International Islamic Universiti Islamabad (IIUI) sangat luar biasa. Beliau menempuh pendidikan S1 dan S2 di Pakistan. Dilanjutkan dakwahnya beliau ke Jeddah hingga mengantarkan beliau ke New York USA dan melanjutkan PhD di Southern California University.

Seperti yang dilansir pada website PPMI Pakistan, beliau menyampaikan bahwa Islam di Amerika bukan lah hal yang baru, bahkan sebelum tersesatnya Columbus ke Amerika yang kala itu berniat untuk mencari pulau India yang pada saat itu suku pedalaman amerika disebut Indian karena Columbus menyangka ia telah tiba di India. Ust. Shamsi Ali memulai dakwahnya di Amerika sejak Desember 1996.

Banyak para politisi maupun penduduk yang anti-Islam berpendapat bahwa pasca tragedi 9/11 bahwa Amerika adalah kuburan bagi Islam yang artinya bahwa Islam tidak akan mungkin berkembang karena benar-benar sudah dianggap tersangka utama atas tragedi tersebut.

“Allah berfirman dalam Alquran wa makaruu wa makarallah wallahu khairul maakiriin. Setiap orang boleh punya rencana siapapun itu tetapi tetap bahwa Allah itu pembuat rencana terbaik. Persepsi yang beranggapan bahwa 11 September adalah kuburan bagi Islam ternyata berbalik, justru setelah kejadian tersebut adalah momentum dakwah islam yang tepat di Amerika,” tutur Ustadz asal Sulawesi Selatan tersebut.

Beliau menyampaikan bahwa implementasi dakwah dari yang sebagaimana Alquran katakan—QS 16:125—adalah kita harus memahami lapangan dimana kita berdakwah. Contoh menurut pengalaman beliau yang berdakwah di Amerika maka harus memahami Amerika itu apa, kondisi masyarakat, pandangan sosial serta kejiwaan dari berbagai sisi yang harus kita pahami.

Dengan memahami kondisi tersebut, maka kita akan paham dan akan menggunakan bi lisaani qoumihi yang bukan hanya dengan bahasa lisan saja meskipun sangat penting termasuk bahasa kultur, sosial politik, maupun ekonomi. Karena komunikasi yang salah akan membuat kebenaran menjadi tabu, dan akan sangat membahayakan esensi dakwah adalah mengajak dengan pendekatan persuasif. Bahkan karena komunikasi yang salah malah bukannya mengajak akan tetapi malah mengusir orang dengan mengutuk, menyalahkan, merendahkan, mengucilkan yang harus dirubah.

Di akhir sesi acara beliau menyampaikan bahwa dakwah yang paling penting pada saat ini adalah dengan menampilkan Islam. Dakwah itu bukan mengislamkan orang karena kita tidak akan mampu mengislamkan orang. Dakwah kita adalah menyampaikan Islam yang sesungguhnya dengan cara yang benar. Karena yang mengislamkan adalah Allah SWT. (Red, am / Ed, pw)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: