I Didn’t Come This Far To Only Come This Far

The countless time of waiting, praying and spent more than IDR 13 mio for 4 times IELTS exam and IELTS preparation class plus 2 times rejection from LPDP scholarship and Swedish Institute has finally paid off and brought me to Budapest, Hungary.

Studying abroad has always been a dream of mine since I was a kid. It’s hard to believe that this amazing opportunity has become reality. Looking back to 3 years ago at this time I never would have imagined that I would be flying to my dream destination.

I’m lucky enough to be studying Msc in Marketing at Corvinus University of Budapest, something the Stipendium Hungaricium has made possible, and I think it’s fair to say that the path that brought me to the scholarship isn’t typical, but I’ve found it fascinating.

And here’s my story…

2014: Dimulailah perburuan mencari beasiswa, saat itu banyak sekali teman saya yang ikut LPDP dan banyak dari mereka yang diterima, maka dari itu saya memutuskan untuk coba. Pertama-tama saya cari dulu universitas yang mau saya tuju, saat itu saya memilih universitas based on list universitas yang termasuk dalam mitra LPDP kemudian cari jurusan yang saya minati, saat itu saya memilih Newcastle University dan Lund University of Sweden, tapi untuk Lund pendaftarannya agak ribet, harus bayar sebesar IDR 1.5 juta dan setiap tahunnya mereka cuma manerima mahasiswa 20-80 tergantung dari programnya, kalau kata orang sih nothing good comes easy, jadi yaudah hajar aja.

Namun, sesungguhnya dari semua itu proses yang paling berat dan memakan uang banyak adalah IELTS. Karena banyak teman-teman saya yang menurut saya bahasa Inggrisnya sudah bagus tapi masih gagal karena banyak faktor, jadi saya memutuskan untuk mengambil kelas intensive di IALF, selama 1 bulan (1 minggu 4 kali pertemuan), untuk kelas preparation itu saya harus merogoh kocek IDR 4.1 juta. Sebenernya sih sangat membantu in terms of build networking dengan fellow scholarship hunter dan tips & trick untuk tes IELTS nya, tapi itu semua tidak menjamin kalau kita tidak banyak practice. Ada seorang teman saya yang tidak ikut intensive/preparation class tapi IELTS nya 8.0 karena dia gigih dan aktif bertanya dan mau banyak latihan.

Salah satu persyaratan untuk lulus seleksi administrasi LPDP adalah jika IPK kita tidak 3.0 maka kita harus punya LOA dari universitas. Karena IPK saya tidak mencapai 3.0 dan pada saat itu saya hanya mempunyai LOC dari University of Newcastle maka saya harus mendapatkan at least 6.5 dengan masing-masing band 6.0 untuk mendapatkan LOA. Singkat cerita, saya mencoba IELTS itu sampai 4 kali. Tiga diantaranya saya mendapatkan overall score 6.0 dan selalu jatuh either di reading atau writing. Setelah 3 kali gagal alhamdulillah di bulan desember 2015 saya bisa mendapatkan score yang memenuhi syarat untuk bisa mendapatkan LOA dan akhirnya bisa daftar LPDP.

January 2016: Saat itu saya telah memegang LOA dari University of Newcastle, University of Aberdeen UK dan dalam proses seleksi dengan Lund University sekaligus dengan Swedish Institute Scholarship Programnya. Dengan LOA yang sudah saya pegang saya pun akhirnya bisa apply LPDP. Tapi sayang di batch 1 (Jan-March 2016) saya belum beruntung, lalu saya pun langsung mencoba yang batch 2 (April-June 2016), tapi setelah proses interview, LGD dan essay on the spot saya merasa tidak maksimal karena dalam proses interview mereka sama sekali tidak menanyakan mengenai essay saya, mereka hanya fokus kepada kenapa saya banting setir dari arsitektur ke marketing dan di seleksi essay on the spot saya salah memahami soalnya dan menjawab yang tidak sesuai dengan konteks soalnya, entah kenapa saya sangat yakin tidak akan diterima, maka sesampainya di rumah saya berdoa kepada Allah SWT untuk melapangkan hati saya, jangan sampai demotivated dan please kasih saya something better than LPDP. Keesokan harinya pemburuan beasiswa lain pun dimulai dari forum beasiswa sampai membuka semua situs embassy di benua Eropa.

Setelah seharian mencari, saya menemukan Stipendium Hungaricium Scholarship  sebuah program dari pemerintah Hongaria, dan 2016 adalah tahun pertama mereka membuka peluang untuk Indonesia. Unlike other scholarship, Stipendium Hungaricium ini cuma perlu daftar melalui situs resminya saja dan kita bisa memilih 3 jurusan/kampus yang hendak kita apply tanpa harus punya LOA dari kampus di Hungary atau daftar terpisah ke kampusnya. Waktu itu deadlinenya H-2 dari pas saya menemukan program beasiswa itu, jadi saya upload dokumen semua yang sama punya dan dadakan buat statement of purpose.

June 10th: Firasat itu benar, saya gagal LPDP tahap ke 2 yang berarti saya sudah tidak bisa untuk daftar LPDP lagi untuk selamanya. Tapi, beberapa hari kemudian saya dapat email dari Stipendium Hungaricium yang menyatakan saya lulus ke tahap selanjutnya dan akan dihubungi langsung oleh kampus. Tesnya bisa dikatakan tidak ribet sih, dari 3 universitas yang saya apply cuma 2 yang menghubungi saya, yang pertama adalah Károly Róbert College untuk jurusan Management & Leadership, tesnya cuma 10 multiple choices online mengenai Management & English kemudian Skype interview. Yang kedua adalah Corvinus University of Budapest untuk jurusan MSC in Marketing. Untuk universitas ini agak sedikit susah, tesnya adalah essay mengenai impact digital marketing to future marketing cuma dalam waktu 2 jam dan use at least two academic literature and make a referencelist in Harvard system. Untungnya waktu itu lagi di kantor jadi bisa minta bantuin teman-teman yang sudah pernah S2 sebelumnya untuk bantuin buat referencelist harvard system.

July 7th (Lebaran Hari ke-2): Sudah sepasrah itu dan mulai menerima kalau tidak bisa berangkat tahun ini, dan memutuskan untuk cari kerjaan lain sambil ngumpulin uang untuk sekolah tahun depan. Tiba-tiba sekitar jam 10 malam saya mendapatkan email.

 

 

rizki-1

 

Setelah baca email, saya langsung ke kamar mamah untuk ngasih kabar gembira dan kita masih kaya gak percaya kalau ini akhirnya kejadian. It was mixture of enjoyment, excitement and pride. I was also deeply honoured to be given the opportunity to study in Hungary for 2 years. Saking gak percayanya kita terus bolak-balik baca email dan attachementnya untuk memastikan kalau saya benar-benar keterima beasiswanya.

Lesson learn dari kisah saya ini adalah; if there is a will, there’s a way. Kalau kita percaya kita pasti bisa untuk mencapai mimpi kita. Kuncinya adalah terus usaha walaupun gagal terus-menerus

 

 

rizki-2

                  Corvinus University of Budapest, a place to call home for the next 2 years.

 

 

 

 

 

 

 

img_8027

BIODATA

Nama : Rizki Fajar Muhidin

Jurusan : MSc in Marketing

Universitas : Corvinus University of Budapest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: