Dinginnya Ramadhan dari Negeri Tirai Bambu

China, salah satu Negara yang memiliki empat musim selama satu tahun, menjadi tempat yang menantang sekaligus menarik dalam hal menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Tahun 2016, saya mulai pendidikan doctoral dengan Beasiswa Pemerintah China di Daerah Kota Harbin (Sekitar 2 jam dari Capital City dengan Fast Train).

Datang dari negeri yang memilki suhu rata-rata setiap musimnya diatas 20 derajat (Indonesia) tentu memiliki tantangan tersendiri dalam menjalankan hidup di daerah kutub utara. Jika di Indonesia panjang waktu siang dan malam hampir sama, jika di sini kadang waktu siang lebih panjang dibandingkan malam contohnya di bulan Ramdhan ini.

Pada bulan Ramadhan tahun 2017 ini adalah yang pertama kalinya bagi saya dan beberapa teman dari Indonesia yang baru menuntut ilmu di sini. Suasana di kampung halaman menjadi kerinduan tersendiri ketika menjelang bulan suci Ramdhan tiba.

Harbin merupakan salah satu daerah yang berada di daerah utara China dan daerahnya  berbatasan langsung dengan Negara Rusia. Salah satu tempat paling indah di Asia Timur laut ini terkenal dengan sebutan “Kota Es.” Di kota ini, selama bulan Januari-Februari setiap tahunnya sebuah festival besar yang diberikan nama “Ice World Festival” rutin digelar . Festival musim dingin ini menyedot ratusan ribu pengunjung baik yang berasal dari dalam negeri maupun mancanegara.

Dalam artikel ini saya ingin menceritakan suasana keislaman dan bulan Ramadhan di Kota Harbin, China, Di Indonesia waktu berpuasa di Bulan Ramadhan rata-rata 12-13 jam selama Ramadhan. Sedangkan  di China, waktu berpuasa lebih lama yakni hampir 18 jam setaip harinya. Ramadhan tahun ini, misalnya, waktu Imsak jatuh pada pukul 01.55 dini hari dan waktu Maghrib pukul 19.26 waktu setempat (Waktu di China sejam lebih cepat katimbang di Indonesia). Suasana ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya yang baru merasakan puasa di sini.

Selama bulan Ramadhan aktifitas kelas dan kegiatan non akademik di Universitas bisa terbilang cukup padat, rata waktu belajar dimulai dari jam 8.10 pagi dan berakhir pukul 15.10 sore setiap hari nya. Kondisi fisik di bulan Ramadhan menjadi tantangan tersediri bagi saya dan mahasiswa muslim yang sedang menempuh studi di kota yang terkenal dengan julukan “Kota Es” ini.

Di negeri tirai bambu, aktifitas Ramadhan terpusat di masjid-masjid yang yang berada di tengah perkotaan. Aktifitas Ramadhan seperti sahur, berbuka dan membaca Alquran biasa dilakukan di tempat yang sudah menjadi pusat aktifitas komunitas Islam disini.

Detik-detik menjelang berkumandangnya waktu maghrib adalah moment paling mudah untuk menyaksikan ekspresi kegiatan keislaman. Masyarakat muslim yang berasal dari kalangan mahasiswa, dosen  dan masyarakat umum disini senantiasa untuk mendatangi pusat kegiatan Ramadhan setiap harinya.

Sekitar pukul 18.00 waktu setempat, masyarakat beragama Islam mulai berdatangan di masjid.
Bagi umat Islam disini, kegiatan berbuka puasa dapat menghadirkan beragam kegiatan baru dan membawa manfaat bagi pendatang muslim disini. Seperti di Masjid Daowei, Harbin, waktu menjelang berbuka puasa dimanfaatkan oleh jamaah untuk mengkaji keislaman. Selain itu juga, setiap masjid juga selalu menggelar acara buka puasa bersama layaknya di Indonesia. Banyak mahasiswa memanfaatkan moment ini untuk mempererat silaturahmi terutama dengan teman-teman senegara mereka.

Kegiatan seperti ini sekaligus bermakna sebagai ajang silaturahim bagi sesama umat Islam. Di  antara mereka terlibat saling melayani, berbagi sekedar makan untuk ifthar (sesuap makanan atau seteguk minuman untuk menyudahi berbuasa), dan lain sebagainya.

Selain itu juga, biasanya di area masjid terdapat semacam took-toko yang menjual pakaian muslim dan berbagai masakan halal yang banyak diminati oleh para pengunjung setelah menjalankan Ibadah di sana seperti setelah shalat jum’at dan shalat tarawih . Meskipun aktifitas Ramadhan disini tidak begitu meriah seperti daerah muslim di Indonesia tetapi tetap memberi pengalaman dan wawasan tersediri bagi kami.

Artikel ditulis dari pengalaman kami di sini

Putra Wanda, Ph.D Student di Harbin University of Sceince and Technology, Harbin, China

Ali Romdhoni, dosen FAI Universitas Wahid Hasyim, Semarang. Mahasiswa doktoral di Heilongjiang University, China)


Masjid di Harbin

 


Suasana Berbuka Puasa Masyarakat Muslim

 


Putra Wanda, Penulis

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: