Disini, Aku Singgah Sejenak

Hari ini genap setahun aku berada di kota yang mereka impi-impikan. Berbeda dari kota
yang membesarkan aku hingga menjadi pribadi yang seperti ini. Tiada lagi jalan-jalan tol yang
menghubungkan bagian-bagian dari kota itu. Salah satu alasan mengapa Jakarta-Bandung terasa
seperti tetangga dengan mobil-mobil yang parkir dipekarangannya. Kini terbentang dihadapanku,
Brooklyn  Bridge  yang  sesak  dipenuhi  turis-turis  dari  penjuru  dunia.  Sama  sekali  tidak  terlihat
seperti jembatan penyebrangan. Lebih seperti semut semut yang bukannya sedang gotong royong,
malah sibuk mengambil foto-foto akan dirinya sendiri. Tidak jauh berbeda dengan Central Park.
Lain dari Taman Menteng yang aku tahu, yang barangkali sepi karena orang mulai berlarian ke
tempat perbelanjaan. Jika kamu pernah bertanya-tanya, apa rasanya tinggal di kota yang mereka
idam-idamkan, biar aku beri tahu sekarang.

Rasanya hampa. Bukan hampa karena kosong dan tidak berisi. Namun justru karena terlalu sesak kota ini
oleh banyak hal yang tidak ingin aku lihat. Terlalu banyak orang yang berlalu lalang dihadapanku.
Dan  diantaranya,  membuat  aku menyeringai  sendiri,  mengingat  aku  juga  kadang  sebodoh  itu.
Seperti salah satunya adalah pasangan gadis dan laki-laki yang baru saja lewat. Perempuan itu
tertawa terbahak-bahak akan sesuatu yang dikatakan oleh orang disebelahnya. Lepas seperti anak
kecil  yang  sedang  diajak  main  cilukba  oleh  ibunya.  Senang  ketika  menemukan  muka  ibunya
dibalik tangan besar yang menutupinya. Ia belum mengerti, kalau apa yang ibunya lakukan itu
tidak lain tidak bukan adalah mengelabui anaknya sendiri. Hanya karena sang ibu ingin anaknya
tertawa. Seperti  itu  pula  gadis itu  tertawa  dengan  polosnya  akan  setiap  kata  yang  laki-laki  itu
keluarkan. Masih gadis.

Kereta masih melaju sama cepatnya seperti pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini. Masih sesak oleh orang-orang yang tidak pernah bisa aku tebak pikirannya. Sama seperti aku, mereka pula menunggu kereta ini membawanya ke tempat yang mereka inginkan. Aku tidak pintar membaca pikiran, tidak pula bisa membaca perasaan. Buktinya, aku selalu jatuh cinta terlebih
dahulu  sebelum  aku  benar-benar  tahu  apa  yang  lawanku inginkan.  Pikirku,  mereka  pastinya
memiliki perasaan yang sama sepertiku. Tapi aku memang sok tahu orangnya. Menebak-nebak yang  hasilnya  jauh  dari  apa  yang  aku  kira. Disamping  itu  semua, paling

tidak  aku  memiliki kemampuan  yang  sama  seperti  manusia-manusia lainnya.  Aku  masih  bisa  memperhatikan  apa yang sedang mereka lakukan. Ada orang-orang yang tidak melepaskan pandangannya terhadap
buku didepannya. Menjadikan kereta ini perpustakaan berjalan. Ada orang yang sedang bercakapcakap dengan sekelilingnya, kadang dikenalnya, kadang pula tidak, siapa peduli? Ada pula yang tenggelam  didalam  pikirannya  masing-masing,  atau  mungkin  mereka  sedang  menahan  kantuk. Dan ada orang-orang seperti aku, yang berharap kereta ini membawaku pulang, ke rumah.

Rumahku saat ini ada dua. Yang pertama ialah tempat aku pulang. Tentu saja setiap hari
aku pulang ke rumah. Rumahku sangat mudah dicari dan mudah dicapai. Hanya ada satu stasiun
didekat rumahku, stasiun kereta nomor 6. Berjarak tiga blok dari stasiun itu, rumahku berada di
sudut antara 27th Street dan 3rd Avenue. Studio kecil dilantai lima yang ditempati satu ranjang besi,
satu  meja  belajar  putih  beserta  kursinya, dan  satu  microwave,  hanya  karena  aku  terlalu  malas
memasak  untuk  diriku  seorang  saja.  Aku  tidak  pernah  mengeluh dengan  apa  yang  tersedia
dirumahku.  Walau  seringkali  kotor  dan  malas  aku  bersihkan.  Atau  kadang  kali  berisik  karena
tetanggaku yang hampir setiap hari pulang pukul 3 pagi. Tipikal New Yorkers yang kata mereka,
tidak pernah tidur.

Kota yang aku tempati tidak seperti apa yang kamu lihat di film Breakfast in Tiffany’s atau
di  film Friends  with  Benefits, dimana kamu  bisa  berjalan  dengan  sepatu  hak  tinggi  keliling
Manhattan, dengan mudah menjentikkan jari untuk mendapatkan taksi, melompat dari satu bar ke
bar  lain, hingga bertemu  cinta  sejati  yang  selama  ini  kamu  cari-cari  di Grand  Central.
Kenyataannya adalah, aku harus berlari-lari dengan sepatu kets bututku mengejar subway yang
datangnya tidak jelas kapan. Mengangkat tangan untuk memanggil taksi hingga beku tanganku
di musim yang seperti ini. Berjalan sendirian menyusuri puluhan avenues karena aku belajar untuk
tidak bersandar pada orang lain. Dan boro-boro cinta sejati, jika ada satu orang saja yang bersedia
mengajak  aku  satu  makan  malam,  mungkin  akan  langsung  kunikahi. Tapi  aku  belajar  untuk
menjadi wanita dewasa, walau kata teman-temanku aku adalah semacam bocah yang berlagak
dewasa. Setiap pagi saat aku bangun, ucapku yang pertama adalah: “Satu hari lagi hingga hari aku
dapat kembali ke rumah.”

Rumahku yang  kedua  ialah  tempat  dimana  aku  bisa  merasa  pulang. Berbeda  dengan
perasaan  yang  muncul  ketika  aku  pulang  ke  rumahku  disini,  pulang  ke  Indonesia  selalu
memunculkan perasaan lega. Bukan karena aku rindu akan masakan Padang. Bukan pula karena
ingin memutari mall-mall besar di kota Jakarta. Tetapi ada saja suatu hal yang membawa hatiku
selalu berlali kembali ke Indonesia. Mungkin karena ramainya jalan oleh pedagang kaki lima, atau
tumpukan sampah yang telah memeluk tanah, atau bahkan abang gorengan yang setiap pagi sudah
bernyanyi-nyanyi menarik hati para pembeli. Mungkin pula aku rindu nongkrong di kiosk sempit
milik  Taman  Ismail  Marzuki.  Berlama-lama  menghirup  bau  tumpukkan  buku-buku  lama yang
bahkan banyak diantaranya sudah hilang semua halamannya. Kiosknya tidak pernah dijaga, tidak
ada juga yang peduli. Siapapun boleh datang, jika memang tahan dengan bau buku-buku busuk
itu.  Rasa  yang  sama  saat berlalu-lalang  sekitar  Taman  Budaya  di  kota  Jogjakarta. Menyusuri
ratusan kios beserta ribuan buku yang terpampang didalamnya. Perasaan yang belum pernah aku
dapatkan ketika berada disini, meski kata mereka, semua bisa kamu dapatkan di kota New York.
Mereka selalu mengatai aku anak manja karena aku selalu ingin pulang. Aku yang selalu
merengek-rengek  ingin  dimasaki  sayur  asam  rasa  rumah.  Bukannya  aku  manja,  atau  ingin
membuang-buang  duit  orang tua.  Tapi  hati  kecilku  selalu  menangis  meminta  pulang.  Dan
menginjak Bandara Soekarno-Hatta tidak pernah tidak menyenangkan sejak aku mengenal kata
merantau. Tidak pernah sedalam ini aku jatuh cinta pada tanah airku sendiri hingga semua hal yang
berbau rumah kubawa keliling Manhattan. Kusombongkan diriku sebagai warga Indonesia walau
mereka seringkali bertanya-tanya Indonesia adalah jenis makanan apa. Meski demikian, aku cukup
yakin Indonesia akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh dan kuat. Aku akan menjadi salah satu
penopangnya. Disini, di kota yang tidak pernah tidur ini, akan aku gali ilmu semampuku dan ‘kan
kubawa pulang kepada ibu yang telah melahirkan aku, Indonesia.

Cindy Karina Setiadi,
Graphic Design,
School of Visual Arts, New York, USA.

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Leave a Reply

%d bloggers like this: