Diskusi Ilmiah Mingguan di Tunisia: Ilmu Umran Al-Basyari Yang Dicetuskan Oleh Ibnu Khaldun

Tunisia – Kegiatan Diskusi Ilmiah Mingguan kembali digelar pada hari Minggu, 6 November 2017 bertempat di Sekretariat PPI Tunisia. Diskusi kali ini tidak kalah menarik dengan diskusi sebelumnya, terbukti dari antusiasme para Mahasiswa yang datang menghadiri acara ini.  Narasumber diskusi kali ini ialah seorang mahasiswa program doktoral yang sedang menempuh pendidikan di Univesitas Az-Zaitunah, Mohammad Septi. Dalam diskusi kali ini beliau menjelaskan tentang “Ilmu Umran Al-Basyari yang dicetuskan oleh Ibnu Khaldun“.

Pemaparan awal dibuka dengan penjelasan biografi sang tokoh dan fase-fase kehidupannya. Secara umum fase kehidupan Ibnu Khaldun dapat dibagi menjadi empat fase seperti yang beliau jelaskan. Yang pertama ialah fase kelahiran, fase bertugas di pemerintahan dan terjun ke dunia politik, fase pengarangan, sampai ke fase ketika dia mengajar dan menjadi Hakim Negeri di Mesir.

Setelah selesai dari pemaparan awal, beliau berlanjut pada inti pembahasan dari diskusi. Dimulai dengan penjelasan bahwa Ibnu Khaldun dalam karyanya yang monumental Kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun memang tidak secara langsung menggunakan kata filsafat sejarah, tetapi justru menggunakan kata “Al-Umran Al-Basyari”. Secara bahasa, Al-Umran Al-Basyari berarti masyarakat manusia. Sementara itu, menurut Ibnu Khaldun, Al-Umran diartikan sebagai kebudayaan. Beliau pun menambahkan, dalam Grand Larousse Encyclopedique dikemukakan bahwa kebudayaan adalah seperangkat karakteristik yang berkenaan dengan kehidupan pikiran, artistik, moral, material, dan politik suatu negeri atau masyarakat tertentu. Ensiklopedia tersebut juga menjelaskan bahwa kebudayaan merupakan salah satu objek pembahasan filsafat sejarah.
Seperti yang kita ketahui bahwa perkembangan sejarah secara totalitas mengkaji kehidupan berbagai masyarakat dan kekaisaran serta berupaya mengikhtisarkan hukum-hukum perkembangan dan keruntuhannya. Dengan demikian, kebudayaan atau yang disebut Ibnu Khaldun sebagai Al-Umran merupakan ilmu yang mengkaji filsafat sejarah.

Di tengah-tengah diskusi, ia pun menanyakan kepada para mahasiswa apakah ilmu itu sama dengan ilmu sebelumnya atau merupakan ilmu baru yang dicetuskan oleh Ibnu Khaldun. Beliau pun menjawab bahwa banyak ilmuwan Barat yang mengatakan bahwa Ibnu Khaldun merupakan pengasas filsafat sejarah, sebab ia melakukan sesuatu yang baru yang belum pernah dibaca dan dilihat dari karya-karya orang terdahulu, baik dari kalangan umat muslim maupun sumber-sumber Yunani.

Di akhir diskusi, beliau menyampaikan bahwa Ibnu Khaldun terkenal sebagai perintis dan pelopor The Culture Cycle Theory of History, yaitu satu teori filsafat sejarah yang telah mendapat pengakuan di dunia Timur dan Barat tentang kematanganya. Ibnu Khaldun dengan teorinya berpendapat bahwa sejarah dunia itu adalah satu siklus dari setiap kebudayaan dan peradaban. Ia mengalami masa lahir, masa puncak, kemudian masa menurun dan akhirnya masa hancur. Khaldun mengistilahkan siklus itu dengan tiga tangga peradaban. Kemudian acara diakhiri dengan foto bersama.

Penulis: PPI Tunisia

Editor: Altifani Rizky Hayyu

 

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: