Diskusi Online Permira Rusia‏

wanda

Permira Rusia Sukses Selenggarakan Diskusi Online Feminisme

Liputan Rusia, Maret 2016 Departement Hubungan Internasional Permira Rusia melaksanakan Diskusi Online live streaming youtobe bersama PPI Belanda. Agenda bulanan Permira kali ini mengangkat tema Feminisme sebagai topik. Juniar L.Umagapi PPI Rusia (Permira) dan Hafida Famiasari PPI Belanda menjadi narasumber dalam kajian ini.

Moderator pada diskusi kali ini adalah Agnes Harvelian II, seorang Mahasiswi Master of Law di Far Eastern Federal University, Vladivostok, Rusia. Agnes memandu diskusi online dengan sangat baik, dari pantauan terkhir pengunjung youtube siaran diskusi online dikunjungi ratusan penonton.

“ Berharap diskusi online ini menjadi salah satu ruang untuk pelajar Indonesia menyampaikan suaranya ataupun prestasinya sehingga memberikan motvasi untuk banyak pihak dalam meningkatkan prestasi khususnya wanita Indonesia,” jelas Agnes.

Narasumber PPI Belanda Hafida Fahmiasari adalah mahasiswa Master of Science di Technische Universiteit Delft yang pernah menjalankan beberapa proyek dan berinteraksi dengan masyarakat di beberapa belahan dunia seperti di Kampala, Uganda, Negara Kawasan Baltik, Paris dan Belanda.

Hafida juga pernah memenangkan beberapa penghargaan bergengsi dan terakhir menjadi runner-up dalam Olympiad of Maritime Innovative Research di UNESCO, Paris. Saat ini Hafida menghabiskan waktunya sebagai Graduation Project Intern di Port of Rotterdam International.

Dalam diskusi online tersebut Hafida menekankan tentang situasi terkini di Indonesia yang masih sedikit memberikan ruang bagi wanita untuk terlibat dalam sekotor Engineer dengan berbagai alasan yang substansial.

Dari pengalaman Hafida selama bekerja sebagai Engineer di Indonesia mengaku adanya diskriminasi yang sangat jelas antara wanita dan pria. Kemampuan wanita sebagai Engineer masih diragukan oleh beberapa golongan. Meskipun secara praktek wanita tersebut mampu menjalankan tugasnya. Situasi ini sangat berbeda

dengan Belanda yang memberikan ruang sangat besar untuk wanita dapat secara praktek menjalankan profesinya sebagai Engineer.

“I did not become an engineer because I was a feminist, I became a feminist because I am an engineer, I didn’t start out interested in, or even aware of, the whole women in STEM” issue, I found it when I got her,” demikian salah satu kutipan diskusi online yang disampaikan Hafida.

Menurut Hafida, saat ini permasalah wanita Indoensia dibidang teknik terkendala usia, kurangnya panutan, kurangnya penagalaman dan norma sosial khususnya di easte world. Sebagian wanita Indonesia familiar dengan sebutan insinyur identik dengan pekerjaan pria.

Narasumber seterusnya adalah mahasiswa Master Political Analysis and Public Policy di National Research University HSE, Rusia. Ia juga sebagai Pemenang Runner-Up dalam Kompetisi Esai “The Impact of Women’s Representation in Politics and Society towards Cultural and Religion Perspective” yang diselenggarakan oleh Indonesian Scholars and Research Support Foundation Program.

Selain itu Juniar juga aktif mengurus website kampusnya di Moscow, Rusia. Ia juga aktif sebagai jurnalis Online Magazine untuk International Students www.readsquare.ru, dan menjadi volunteer aktif bagi anak-anak dengan gangguan Autisme di Rusia.

Pentingnya peranan wanita dalam dunia politik menurut Juniar sangat penting sebagai pembuat kebijakan persoalan wanita Indonesia yang sangat kompleks. Diantara Isu terkini yang masih hangat menjadi persoalan diantaranya adalah persoalan perdagangan manusia, kekerasan buruh dan tenaga kerja wanita di luar negeri, pelecehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga hanyalah beberapa kasus yang menjerumuskan posisi wanita masih menjadi kelas kedua masyarakat.

Juniar mengindikasi budaya menjadi salah satu faktor penghalang untuk akses perempuan terhadap politik di Indonesia. Pandangan wanita Indonesia cenderung lebih memilih bekerja daripada terlibat dalam politik.

Politik membutuhkan seseorang yang memiliki semangat benar-benar kuat dan cukup pintar untuk mempengaruhi orang lain, dan banyak wanita merasa tempat itu tidak cocok untuk mereka.

“ Opini yang menganggap bahwa politik membuat orang berubah menjadi tidak bermoral dan lingkungan akan membuat mereka untuk melakukan tidak baik juga menjadi alasan wanita tidak mengambil kesempatan berpolitik, meskipun ruang tersebut sudah diberikan di Indonesia,” jelasnya wanita yang aktif dalam berbagai organisasi ini.

Lebih lanjut Juniar mengungkapkan bahwa demokrasi tanpa partisipasi perempuan bukanlah demokrasi yang sesungguhnya. Perempuan memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan masyarakat inilah yang menjadikan pentingnya pemberdaayan wanita berpolitik cerdas.

Namun demikian terdapat juga wanita hebat yang terlibat dalam dunia politik di Indonesia seperti mantan presiden Megawati Soekarno Putri, Tri Rismarini walikota Surabaya, Khofifah Indar Parawansa, Yeni Wahid, Sri Mulyani adalah contoh sedikit perempuan-perempuan hebat di politik.

Saat ini sudah banyak ruang untuk wanita Indonesia terlibat dipolitik, begitu juga dengan keterlibatan wanita Indoensia berkarya di dunia internasional seperti Dian Pelangi di dunia fashion dan atlet-atlet wanita berprestasi seperti baru-baru ini atlet bulu tangkis Debby Susanto yang menjuarai ganda campuran all-England.

“Tugas kita semua perempuan-perempuan hebat Indonesia untuk bisa di akui dengan kemampuan dan prestasi kita baik national maupu internasional,” tutup wanita asal Kendari ini.(Link Youtube: https://youtu.be/6gwpqApgzgY)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

%d bloggers like this: