Diskusi Sastra di Korea: Sastra dan Peranannya di Indonesia

KOREA SELATAN, 21 Oktober 2017 – KBRI dan PERPIKA kedatangan Bapak Sastra Indonesia yaitu Taufiq Ismail pada Minggu, 21 Oktober 2017. Beliau merupakan seorang penyair dan sastrawan Indonesia yang terkenal di dunia. Kedatangan Taufiq ke Hankuk University of Foreign Studies (HUFS)  Korea Selatan adalah untuk menghadiri acara penerbitan kumpulan buku puisi yang berjudul Debu di Atas Debu (diterjemahkan ke dalam bahasa Korea).

 

Kesempatan emas bertemu langsung dengan Taufiq tidak disia-siakan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang berada di Korea. Sebagian peserta berasal dari jurusan teknik yang sangat awam terhadap karya sastra. Meskipun dari latar belakang pendidikan yang berbeda, ketertarikan terhadap bidang sastra seperti membaca dan membaca masih sama. Acara dimulai pada pukul 13:30 KST di lantai 2 gedung KBRI Seoul. Acara dibuka oleh Aji Surya selaku perwakilan KBRI dan Presiden PERPIKA, Aldias Bahatmaka, yang pada kesempatan itu membawakan puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul “Aku”. Acara pun berlanjut dengan dipandu Annisa Luthfiarrahman selaku moderator.

Taufiq menceritakan asal-muasal kecintaannya terhadap puisi yang dimulai sejak kecil. Ketika itu, sang ayah yang juga merupakan seorang penulis berita strip di salah satu koran di Semarang menulis sebuah berita. Taufiq Ismail kecil yang sedang membaca berita di koran terkejut melihat tulisan ayahnya dan merasa bangga. Itulah awal mula keinginan supaya karyanya juga dimuat sehingga beliau mulai menulis cerita. Namun tulisannya masih tidak menarik. Kemudian ayahnya menyarankan untuk menulis gurindam yang akhirnya dimuat di sebuah koran lokal. Keesokan harinya, Taufiq Ismail kecil pun membawa koran yang memuat karyanya ke sekolah untuk dipamerkan. Sejak saat itu, beliau terus menulis puisi dan kecintaannya pada puisi pun meningkat.

 

Rendahnya Budaya Baca

Taufiq Ismail kemudian mengangkat topik “Budaya Membaca” di Indonesia. Beliau sangat prihatin dengan keadaan anak-anak Indonesia saat ini yang kurang membaca. Bahkan kurikulum membaca pun sudah sangat berkurang. Bila dibandingkan dengan negara lain, Indonesia sangat tertinggal dalam hal tugas membaca buku. Padahal, membaca buku itu tidak hanya sekedar membaca, tetapi juga dapat melatih kita untuk terus kreatif serta ingin tahu.

Taufiq Ismail lalu membacakan data-data mencengangkan mengenai kurangnya budaya membaca di Indonesia, bahkan di kurikulum Indonesia. Tidak memungkiri jika saat ini teknologi sudah semakin canggih sehingga buku-buku karangan Marah Roesli, Merari Siregar, Abdul Muis, Hamka, dan Sutan Takdir Alisjahbana, sulit dipahami bagi pemuda zaman kini. Bahkan jika ada tugas tentang itu, mereka hanya tinggal membuka internet untuk membaca ringkasannya. Ironisnya, esensi dari buku tersebut tidak tersampaikan. Oleh karena itulah sastrawan Indonesia termasuk Taufiq terus mengajukan proposal ke pemerintahan Indonesia agar budaya membaca terus ditingkatkan.

Pada sesi diskusi, banyak sekali yang bisa diambil sebagai pelajaran. “Apabila kamu suka menulis, dan tiba-tiba punya ide ketika sedang sibuk, jangan ditunda, tapi tulislah. Menulis bisa dimana saja. Tidak selalu harus di buku. Tulis Ide-idemu dimana saja. Jangan menunggu nanti. Biar tidak lupa,” ujar Taufik kepada hadirin. Pesan itu sederhana tapi bermakna bagi mahasiswa yang selama ini kerap berkata “nanti”, padahal itu bisa merubah menjadi “tidak akan pernah” apabila mahasiswa selalu menunda ide.

Sebelum acara berakhir, Taufiq Ismail pun membacakan beberapa puisi beliau. Puisi pertama dibuat untuk Ibu Ati yang telah menemaninya berpuluh-puluh tahun lamanya. Kemudian disusul puisi tentang Ibu yang peserta mengharu biru serta beberapa puisi lainnya.

Taufiq Ismail berjuang lewat tulisannya, lewat puisinya, lewat kata-katanya. Dari sanalah beliau mengajarkan arti perjuangan, persahabatan, keluarga, cinta dan kehidupan. Pepatah mengatakan bahwa kata-kata itu ibarat pedang yang siap mengiris manusia jadi dua. Kondisi “Melek Baca” di Indonesia saat ini sudah dalam tahap sekarat. Perlu banyak ‘oksigen’ yang dinamakan kesadaran. Itulah tugas kita untuk Indonesia. Ayo sadar. Ayo membaca. Ayo menulis. Tulisan yang benar bukan membenarkan.**

 

Penulis: Prita Meilanitasari

Management of Technology Pukyong National University 

Busan – Korea Selatan

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: