Dum Spiro Spero, selama saya bernafas, saya berharap

“Seberapa indah mimpi, jika tetap mimpi?”
(Seno Gumira Ajidarma, Kitab Omong Kosong)

Oleh : Jajang Nurjaman

Ketika pertama kalinya orang Indonesia pada tahun 1602 tiba di Zeeland dengan menumpang kapal Zeelandia dan Langhe Burcke, kurang lebih empat abad berikutnya tak menyangka saya bisa mengikuti jejak mereka, mengunjungi negeri Belanda. Ketika itu, utusan-jajangutusan dari Aceh memenuhi undangan Pangeran Maurits untuk datang ke Belanda. Mereka tiba bulan Juli dan dijamu oleh Pangeran Maurits dengan begitu baiknya.
Perkenalkan, nama saya Jajang Nurjaman, nama yang cukup akrab di telinga orang Sunda. Sah-sah saja saya dipanggil akang atau sapaan sunda lainnya, yang pasti saya asli Betawi Depok. Kedua orang tua saya orang Betawi, kakek, nenek, dan semuanya betawi. Jika nama saya terdengar sunda, itu karena efek bapak saya yang ngefans Persib Bandung, dan kebetulan ketika saya lahir, pemain persib yang sekarang pelatih persib kata bapak saya mencetak gol, jadilah nama saya Jajang Nurjaman. Saya sekarang menjalani tahun kedua saya kuliah di Leiden University, program Master in History, specialization in Archival Studies.

Kilas Balik dan Sepenggal Kisah Masa Lalu
Rabu, 15 Agustus 2012, untuk kedua kaliya saya menginjakkan kaki di negeri kodok, negerinya van Oranje, Belanda. Pertama kalinya saya menginjakkan kaki saya di negeri ini sekitar tujuh tahun lalu. Saya mendapatkan beasiswa dari Nederlandse Taalunie untuk mengikuti Zomercursus (Summer Course) bahasa dan budaya Belanda di kota Hasselt, Belgia tahun 2007. Saat itu saya masih duduk di semester enam kuliah saya di program studi Belanda, Universitas Indonesia. Saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga selama di negeri kincir angin tersebut, dari mulai belajar bahasa dan budaya Belanda hingga bercengkerama dengan keluarga Indonesia di Belgia dan Belanda. Saat itu saya sempat mengalami sedikit musibah, kehilangan uang saku saya sekitar 100 euro dan pada saat itu saya sudah keluar dari asrama tempat saya tinggal selama kursus musim panas tersebut. Di saat facebook belum ada, beruntunglah ada socmed Friendster. Socmed ini saya gunakan untuk melacak keberadaan keluarga Indonesia atau mahasiswa Indonesia di Belgia ketika itu dan juga di Belanda (Maastricht). Akhirnya saya mendapatkan kenalan sebuah keluarga mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan doktoralnya di Belgia. Saya habiskan kurang lebih seminggu di kota Tongeren (tetanggaan dengan Maastricht) di kediaman keluarga tersebut. Selepas itu saya tinggal di Maastricht bersama rekan-rekan PPI Maastricht yang bersedia menampung saya selama disana. Sempat menginap di stasiun Den Haag, lalu saya menumpang di sebuah rumah keluarga Indonesia yang kebetulan mempunyai bisnis restoran di Den Haag. Di kota inilah saya terakhir tinggal dan kemudian pulang kembali ke Jakarta.
Anak kampung seperti saya, hanya berimajinasi lalu terlukiskan dalam mimpi kalau suatu saat saya bisa mengunjungi negerinya J.P. Coen yang saya hanya baca dari buku-buku sejarah dan buku-buku kuliah saya. Bali saja saya tidak pernah kunjungi, ini negeri yang jauhnya lebih dari 10ribu kilometer saya berkesempatan singgahi. Saya pernah mendapatkan tawaran beasiswa ke negri ini setelah saya lulus kuliah, hanya waktu itu tawaran saya tolak karena saya tidak mempunyai cukup uang untuk membeli tiket pesawat ke Belanda. Saya memutuskan untuk bekerja dahulu sebagai konsultan pendidikan di Jakarta. Di tempat ini saya kembali dihubungkan kembali dengan negeri Belanda . Saya harus melakukan tugas-tugas promosi, konsultasi untuk calon mahasiswa/i yang akan berangkat ke Belanda. Setahun lebih saya habiskan masa kerja saya di kantor ini, sebelumnya saya berpetualang menjadi wartawan, karyawan bank, tour guide dadakan, hingga guru les privat bahasa Belanda (profesi yang sampai sekarang masih saya tekuni) dan sambil mencari info beasiswa ke negeri Belanda. Tahun 2010, saya memulai karir yang baru. Ketika itu salah seorang senior saya mengirim pesan pendek yang memberi tahu bahwa Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sedang membuka lowongan. Iseng-iseng melamar dan atas permohonan ibu saya yang mendorong saya jadi pegawai negeri, akhirnya saya diterima di arsip nasional. Setelah hampir kurang lebih dua tahun saya mengabdi di ANRI, teman saya mengirimi pesan bergambar pengumuman seleksi untuk beasiswa ENCOMPASS dari Leiden University. Bermodal pesan ini, saya beranikan diri untuk mendaftar beasiswa ini dan ikut seleksi internal dari ANRI untuk kemudian mengikuti tahapan selanjutnya seleksi proposal dan wawancara bersama pelamar lain dari luar ANRI.

BEASISWA ENCOMPASS (COSMOPOLIS)
Encompass adalah kepanjangan dari Encountering a Common Past in Asia. Beasiswa ini menawarkan para pelamarnya untuk mendapatkan kesempatan belajar selama dua tahun, setahun untuk foundation year dan setahun lagi untuk program master. Encompass merupakan kelanjutan dari program TANAP (Towards a New Age of Partnership) yang menyediakan beasiswa untuk tingkat master dan doktor. TANAP berlangsung dari tahun 1999 sampai dengan 2006, lalu dilanjutkan dengan program beasiswa ENCOMPASS. Baik TANAP maupun ENCOMPASS, semuanya masih dalam satu wadah department of Colonial and Global History at the Institute for History of Leiden University. Program beasiswa ENCOMPASS berlangsung dari tahun 2006 sampai dengan 2012. Saat ini program ENCOMPASS diberi nama ENCOMPASS II atau juga disebut program COSMOPOLIS. Saya berada di jalur program COSMOPOLIS ini yang direncanakan berlangsung dari tahun 2012-2017.
Berbeda dengan dua pendahulunya, beasiswa COSMOPOLIS ditawarkan untuk mereka yang ingin mengikuti foundation year di jurusan sejarah Universitas Leiden. Program satu tahun ini menawarkan kesempatan untuk belajar bahasa Belanda dan ilmu sejarah. Mereka yang mengikuti program ini, diwajibkan juga menulis bachelor thesis alias skripsi. Jadi, kami yang lulus dari foundation year ini mendapatkan gelar BA in history. Di angkatan saya, beberapa orang yang akan melanjutkan ke jenjang PhD, juga mengikuti masa foundation year ini. Mereka juga menulis BA thesis seperti saya dan teman seangkatan lain yang akan melanjutkan ke tingkat master.

Perbedaan yang mencolok dari beasiswa Cosmopolis ini adalah, tidak semua orang yang ikut foundation year otomatis bisa melanjutkan ke jenjang master. Ada dua jatah beasiswa yang ditawarkan dari universitas untuk mereka yang nilainya paling tinggi di masa foundation year. Bagi mereka yang tidak mendapatkan beasiswa ini, mereka harus mencari skema pendanaan lain untuk melanjutkan ke jenjang master. Beruntung bagi saya, kantor saya (ANRI) memiliki kerjasama dengan Leiden University, jadi pembiayaan kuliah saya dibebankan 50% dari Leiden University dan 50% lagi dari ANRI. Saya akhirnya bisa lanjut ke tahun kedua, tentu saja nilai akademik juga jadi pertimbangan. Semua angkatan saya melanjutkan ke tingkat master dan PhD dengan skema beasiswa yang berbeda-beda.

Untuk dapat diterima di program COSMOPOLIS ini, kami harus daftar terlebih dahulu ke sekretariat yang berada di Jogjakarta (untuk peminat dari Indonesia mendaftar melalui sekretariat yang berada di UGM). Seleksi administratif ini hampir sama dengan beasiswa lainnya, mengisi formulir pendaftaran, lalu juga disertai dengan sertifikat kompetensi berbahasa Inggris (IBT TOEFL atau IELTS). Perbedaannya, kami diharuskan menulis juga proposal master thesis yang bertema sebagai berikut: Eurasian Middle ground, Eurasian Network, Eurasian Port-cities, dan Materials: Histories, Archives and Heritage. Tema-tema tersebut masih dalam lingkup sejarah dan ilmu kearsipan. Namun bukan berarti beasiswa ini hanya untuk jurusan sejarah saja, tapi terbuka untuk semua jurusan di bidang sosial. Setelah kami mendapat email pemberitahuan lulus seleksi administrasi, kami lalu diundang ke Jogjakarta untuk melakukan seleksi wawancara. Seleksi wawancara ini dilakukan oleh komite pemberi beasiswa yang berasal dari Leiden University dan juga dari Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berdasarkan proposal master thesis yang kami kirimkan pada saat mendaftar. Selebihnya pertanyaan-pertanyaan umum yang berkisar motivasi dan lainnya. Beberapa hari setelah wawancara, saya diberitahu hasilnya dan mendapatkan surat penerimaan dari program ENCOMPASS (COSMOPOLIS). Sayangnya, jalan saya belum mulus karena score TOEFL saya masih belum mencukupi. Beberapa hari dikarantina di Bandung (dikursuskan IBT TOEFL dari kantor saya), akhirnya score TOEFL saya mencukupi untuk diterima di program ini. Saya pun bisa berangkat dengan tenang ke Belanda.

Kembali Jadi Mahasiswa
Saya sempat kaget di awal-awal saya menjadi mahasiswa lagi. Dari rutinitas kantor kembali ke lingkungan akademik membuat saya agak kaget menjalani hidup sebagai mahasiswa. Di awal-awal masa kuliah, saya masih mengalami adaptasi dengan mulai membaca lagi buku-buku akademik, mulai menulis lagi secara akademik dan juga menjadi lebih mandiri lagi. Menjadi mahasiswa, apalagi di negeri orang, berarti belajar lagi melihat diri sendiri.
Tahun pertama, saya dan teman-teman satu program, ditempatkan di sebuah student house di Leiden. Kami masing2 mendapatkan satu studio dengan diisi dua orang di tiap kamarnya. Student house ini menjadi saksi bisu bagaimana kami berjuang bersama di tahun pertama. Diskusi-diskusi akademik sering kami lakukan bergantian di studio-studio ini. Acara memasak bersama, lebaran bersama, natal bersama, tahun baru bersama juga kami adakan sekedar melepas keasikan dunia akademik sebentar. Saya dan beberapa mahasiswa Indonesia lainnya, turut aktif di keluarga besar PPI Leiden. Dengan bersosialisasi di PPI, kami bisa melebur dengan mahasiswa Indonesia dan masyarakat lainnya yang tinggal di kota Leiden ini.
Leiden bisa dibilang kota yang sangat cocok untuk mahasiswa. Universitas tertua di Belanda ini menyediakan hampir semua yang dibutuhkan untuk mahasiswanya. Fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan sebagai mahasiswa seperti koleksi perpustakaan yang hampir lengkap, banyak tempat makan yang terjangkau kantong mahasiswa, pasar dan supermarket yang menjual kebutuhan hidup sehari-hari serta atmosfir internasional yang begitu terasa. Leiden juga kota yang cantik, dikelilingi kanal-kanal yang nyaman untuk sekedar duduk di tepiannya sambil menunggu datangnya senja. Teman-teman yang nantinya akan datang ke kota ini, jangan melewatkan kesempatan untuk sekedar melihat kanalnya yang indah dan duduk di pinggirannya sambil melihat bebek yang berenang. Selama hampir dua tahun saya disini, kebiasaan inilah yang hampir selalu saya lakukan sekadar untuk merenung dan memberi makan bebek-bebek yang berenang. Leiden juga kota yang menyimpan banyak situs sejarah tentang Indonesia. Teman-teman akan dikejutkan dengan banyaknya para pendiri bangsa yang pernah menjadi alumni universitas ini.

Pemungkas
Chairil Anwar dalam sebuah puisinya pernah berujar, “…nasib adalah kesunyian masing-masing”. Kita yang membawa nasib kita masing-masing, kita juga yang bisa mengubahnya. Bapak dan Ibu saya tidak tamat sekolah dasar, tapi mereka ingin anaknya bisa sampai sekolah tinggi dan bisa hidup lebih dari mereka. Kedua orangtua sayalah yang membentuk saya seperti sekarang, bapak saya yang seorang pengojek motor dan ibu saya yang membantu mengurangi buta huruf Al Qur’an di kampung saya (alias guru ngaji), berhasil menanamkan sifat pantang menyerah dalam diri saya. Pernah Ibu saya menasihati agar saya tidak merasa minder dalam bergaul, dan ini yang saya tanamkan kuat dalam diri saya. Membuka diri seluas-luasnya juga menebarkan benih kebaikan untuk semua. Ada sebuah proverb latin yang mengatakan, Dum Spiro Spero, selama saya bernafas, saya berharap. Jangan pernah berhenti bermipi, dan jangan hanya bermimpi, kejar dan genggamlah mimpi itu! Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya?
Leiden, 15 Feb 2014

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: