Ekonomi Kreatif: Membawa Indonesia Lebih Mengglobal Lagi

Liputan Madinah – Bertempat di Wisma Haji Indonesia Madinah, Senin, 26 Desember 2016, masyarakat Indonesia di Madinah yang terdiri dari para pekerja dan mahasiswa menghadiri “Sosialisasi Kiat Cerdas Perencanaan Keuangan dan Coding Mum bagi WNI di Madinah” yang diselenggarakan oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) RI dan didukung oleh KJRI Jeddah dengan narasumber, Fadjar Hutomo (Deputi Akses Permodalan BEKRAF RI), Rosalyn (Pelaku Kreatif yang juga Alumni Program Coding Mum) dan Muhammad Teguh Perwira (Pegiat Ekonomi Syari’ah/Independent Financial Planner), juga dihadiri oleh Arini Rahyuwati (Direktur Pemberdayaan Deputi Bidang Perlindungan BNP2TKI) dan Ali Muafan (Pimpinan Divisi BNI Syari’ah) serta dibuka oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, Muhammad Hery Saripudin, MA yang dalam sambutannya menyampaikan ia mendukung acara ini dengan harapan ini memberikan persiapan dan pengalaman bagi para pekerja migran sebelum kembali ke Indonesia.

Fadjar menjelaskan tentang pengertian ekonomi kreatif, rencana pemerintah dalam pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia, serta kontribusi dan peran serta para diaspora Indonesia di luar negeri dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Adapun Rosalyn sebagai Alumni Program Coding Mum menceritakan pengalamannya selama mengikuti program tersebut, serta hasil yang telah didapatkan setelah mengikuti program. Coding Mum sendiri adalah program yang diselenggarakan oleh BEKRAF RI untuk membekali para ibu rumah tangga membuat program komputer supaya bisa membuat website dan bisa berjualan dari rumah. Narasumber terakhir, Muhammad Teguh Perwira menerangkan urgensi perencanaan keuangan khususnya bagi para masyarakat Indonesia yang sedang tinggal di luar negeri.

Era Baru 4.0: Era Ekonomi Kreatif

Kita tidak bisa bergantung kepada Ekonomi Sumber Daya Alam, tidak bisa sebuah negara hanya menggantungkan pada SDA-nya saja tanpa mengembangkan SDI (Sumber Daya Insani), Kalau membicarakan SDI bukan hanya tenaganya saja tetapi akal pikirannya, itu adalah aset yang paling besar yang ada di manusia, kalau itu tidak dimanfaatkan dengan baik sebuah negara hanya akan menjadi sebuah konsumen saja, selama beberapa hari di sini, sejak tanggal 23 saya sampai di Jeddah, bagaimana perekonomian di Saudi sedang berubah, dari yang tadinya menggantungkan kepada minyak dan gas bumi, mulai mencari sumber-sumber yang lain, terutama juga mengenai sumber daya manusianya.

Ekonomi kreatif diharapkan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, kita tidak meninggalkan sama sekali, tapi kita ingin mendiversifikasi penerimaan negara kita, kita sedang menyambut ekonomi baru, ekonomi yang berbasiskan kreativitas dan inovasi. Dalam 10 tahun ke depan, kita akan menikmati yang namanya bonus demografi, jumlah penduduk produktif kita 70%, komposisi penduduk seperti ini pernah dinikmati oleh Jepang tahun 70 sampai 80-an, di mana jumlah usia produktif penduduknya itu 70%, sisanya non produktif, anak-anak maupun orang tua. Hari ini Jepang itu menderita, karena jumlah usia non produktifnya lebih banyak. 70% penduduk yang produktif itu bisa jadi bonus, bisa juga menjadi beban ketika yang 70% tadi tidak berkualitas, tidak bisa menghasilkan hanya mengkonsumsi saja.

BEKRAF didirikan tahun 2015 sesuai dengan Peraturan Presiden No. 9 tahun 2015, yang kemudian direvisi melalui Peraturan Presiden No. 72 tahun 2015, jadi umurnya baru 2 tahun dan efektif baru 1 tahun karena di tahun 2015 praktis tidak bekerja namun menyusun organisasi. Ekonomi kreatif bukan barang baru, sejak tahun 2009 dikelola oleh Kementerian Perdagangan, kemudian dilanjutkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparektaf), dan kali ini dibentuk badan khusus untuk menangani ini.

Di dalam Peraturan Presiden tersebut, terdapat 16 Sub Sektor yang dikategorikan sebagai Ekonomi Kreatif; yaitu 1. Aplikasi Digital dan Game, 2. Arsitektur, 3. Desain Interior, 4. Desain Komunikasi Visual, 5. Desain Produk, 6. Fashion, 7. Film, Animasi dan Video, 8. Fotografi, 9. Kerajinan, 10. Musik, 11. Kuliner, 12. Percetakan dan Penerbitan, 13. Periklanan, 14. Seni Pertunjukan, 15. Seni Rupa, 16. Program Televisi dan Radio. Dari ke-16 Sub Sektor ini, ada 3 Sub Sektor Unggulan dan 3 Sub Sektor Prioritas. Sub Sektor Unggulan terdiri dari Kuliner, Fashion dan Kerajinan, dimana 60% dari Produk Domestik Bruto Indonesia disumbang dari 3 sub sektor tersebut.

Saat ini yang sedang trend adalah Islamic Lifestyle (Gaya Hidup Islami), yang terdiri dari Food, Fashion, Finance, Craft (Makanan, Mode, Keuangan dan Kerajinan). Bicara tentang makanan halal, tidak hanya membicarakan market muslim saja, di luar faktor religi, makanan halal dianggap sebagai makanan sehat dan kebutuhannya besar. Ironinya, yang memimpin di bidang Halal Food adalah Jepang dan Thailand, yang bukan negara muslim tapi tahu bahwa pasarnya sangat besar, kemudian bidang keuangan Islam negara yang memimpin adalah Inggris dan Uni Emirat Arab, adapun di Asia Tenggara adalah Malaysia. Adapun Muslim Fashion, sebenarnya Indonesia memiliki peluang dalam ini, kita sedang berebut dengan Turki dalam ini, BEKRAF RI memiliki program dalam bidang ini yaitu “Indonesia Pusat Muslim Fashion Dunia tahun 2020”, selain itu muslim fashion juga merupakan pasar bagi masyarakat di Eropa dan Amerika yang menjadikannya sebagai pakaian musim dingin, dan mereka menyebutnya modest fashion atau pakaian sopan.

Tiga Sub Sektor Prioritas yang didorong oleh BEKRAF RI, yaitu 1. Film, Animasi dan Video, 2. Aplikasi Digital, 3. Musik. Dimana Korea sudah merencanakan ini 30 tahun yang lalu, dengan membuat sinetron kemudian dibagi gratis ke stasiun TV, menimbulkan gelombang yang namanya Korean Wive, disusul Gangnam Style, disusul K-Pop, maka ada yang dinamakan Korean Craz (Kegilaan akan Korea) bahkan di seluruh dunia. Korea membuatnya melalui 2 badan; KOCCA (Korean Creative Content Agency) yang membuat hal-hal tadi serta KOTRA (Korean Trade Agency) yang bertugas menjamin bahwa produk-produk Korea berasa di etalase depan, adapun sub sektor yang lainnya akan bisa ikut.

Fadjar juga menyampaikan terdapat 10 fenomena yang hari ini sedang terjadi di dunia yang akan mengubah bisnis dan cara orang berbisnis; yaitu 1. Internet of Things, 2. Dynamic Supply & Demand Matching, 3. Big Data & Analytics, 4. The Sharing Economy, 5. 3D Printing, 6. Crowdfunding, 7. Distributed Energy Generation & Storage, 8. Self Driving Vehicles, 9. Virtual Reality, 10. Cloud, mengutip Robert C. Walcott, Ph.D dari Kellog School of Management.

Salah satu peran penting diaspora, misalnya kenapa Indomie bisa bikin pabrik di sini? apakah untuk melayani para diaspora saja? Tentu tidak, justru karena pekerja migran, budaya makan Indomie itu menyebar ke seluruh dunia, “membawa rasa, karya, kriya Indonesia mendunia”, apa yang dibawa oleh diaspora Indonesia menjadi penting untuk membawa Indonesia ke pentas global, serta diaspora sebagai Market Intellegent dari pengalaman hidup di negeri orang.

Fadjar juga menyampaikan bahwa kelemahan UKM kita di Indonesia, Membuat barang yang dia bisa buat bukan membuat barang yang disukai konsumen, untuk hal ini BEKRAF RI memiliki program Icon yaitu mengirim tenaga-tenaga ahli desain/ahli packaging ke daerah-daerah untuk mengajari pengrajin-pengrajin tradisional tentang trend forecasting, trend dunia seperti apa dan apa yang dibutuhkan.

Coding Mum dan Perencanaan Keuangan

Acara dilanjutkan oleh penyampaian testimoni dari Rosalyn, pelaku kreatif dan alumni program Coding Mum, yang mengikuti program ini pada bulan Maret 2016 kemarin, saat ini sudah mendapatkan pendapatan sekitar 2 sampai 4 juta rupiah per bulan, dari usaha pembuatan website. Pilot Project Coding Mum diselenggarakan di 6 kota di Indonesia; Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, Malang dan Makassar.

Acara selanjutnya penyampaian materi tentang Perencanaan Keuangan oleh Muhammad Teguh Prawira, yang memberikan masukan kepada para pekerja untuk tidak takut untuk pulang ke Indonesia, karena saat ini banyak peluang yang ada, yang penting kitanya kreatif dan mau kerja. Menerangkan perencanaan keuangan yang merupakan proses untuk mencapai tujuan hidup dengan pengelolaan keuangan secara terencana. Rata-rata sekolah dan perguruan tinggi mengajarkan kita untuk mencari uang, tetapi sedikit sekali dari kita yang diajarkan mana kala memegang uang bagaimana mengelolanya, karena pengelolaan keuangan bukan masalah banyak atau sedikit, tetapi bagaimana mengelolanya dengan baik.

Beberapa tips yang disampaikan antara lain, harus menyadari bahwa produk investasi apapun pasti ada resikonya dan menaruh investasi maksimal 10-15% dari tabungan, yang kedua mengubah kebiasaan kita; dari menabung sisa kebutuhan menjadi menabung terlebih dahulu setelah gajian, sisanya baru untuk kebutuhan, kemudian jangan mencicil hutang 30% dari gaji, mempunyai tabungan minimal 4 kali dari pengeluaran, menabung minimal 10% dari gaji, setelah mendapatkan gaji membayar hutang terlebih dahulu dan membayar zakat, sisanya untuk pengeluaran rutin setelah itu baru pengeluaran lifestyle.

Fajar menyampaikan kepada orang yang tidak setuju dengan perencanaan keuangan; dengan alasan rezeki kan dari Allah; tidak usah diatur-atur rencananya, maka dijawab; justru dengan percaya bahwa rezeki itu dari Allah, dan percaya bahwa rezeki itu amanah dari Allah, maka harus dikelola dengan baik, maka rezeki yang diberikan oleh Allah ini, kebermanfaatannya bisa jangka panjang tidak hanya sekarang saja. Perencanaan keuangan sendiri sesuai dengan al-Qur’an Surat Yusuf ayat 47-49; Nabi Yusuf ‘alihis salam berkata: “Hendaklah kamu bertanam dengan sungguh-sungguh selama 7 tahun lamanya, maka apa yang kamu panen hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit yang kamu makan”

Setelah penyampaian materi dari ketiga narasumber, selanjutnya adalah sesi tanya jawab. Salah satu penanya dari pekerja migran, Rudy, meminta agar pada tahun 2017 ada pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan pemerintah bagi para pekerja Indonesia di luar negeri. Hal ini ditanggapi oleh Arini Rahyuwati, Direktur Pemberdayaan Deputi Bidang Perlindungan BNP2TKI, meminta kepada TKI Purna yang telah kembali ke tanah air untuk mengikuti program pemberdayaan terintegerasi yang diadakan di BP3TKI (Balai Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) di 23 Provinsi di Indonesia, atau ke LP3TKI di tingkat Kabupaten seperti yang ada di Cirebon dan Indramayu. Program ini terbagi menjadi 4 sektor yaitu Ketahanan Pangan, Pariwisata, Industri Kreatif dan Jasa. Semoga acara ini membawa manfaat dan menambah wawasan bagi para peserta yang hadir.

(Imam Khairul Annas/F)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: